Connect with us

Headline

Oknum Satpol PP Terancam Lima Tahun Penjara

Polisi Periksa Tujuh Saksi, Penetapan Tersangka Tunggu Gelar Perkara

-

BKM/SAR BARANG BUKTI--Kapolres Gowa AKBP Tri Goffaruddin Pulungan didampingi Kasat Reskrim AKP Muh Jufri Natsir dan Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan, memperlihatkan barang bukti yang diamankan ketika memberi keterangan pers terkait kasus pemukulan pasutri pemilik warkop Ivan Riana.

GOWA, BKM — Aksi pemukulan terhadap pasangan suami istri viral di dunia maya sejak Rabu malam (14/7) hingga Kamis (15/7). Peristiwa tersebut terjadi di warung kopi (warkop) Ivan Riana yang terletak di jalan poros Limbung, Dusun Mattirobaji, Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Pada Rabu malam sekitar pukul 20.00 Wita, seorang oknum berpakaian seragam lengkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tampak memasuki warkop yang tampak sepi tanpa pengunjung. Bersama beberapa personel kepolisian dan TNI, oknum yang di papan namanya tertulis Dhani itu tergabung dalam tim penertiban Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro di Gowa.
Dikawal seorang anggotanya, Dhani yang sudah berada di dalam warko langsung menebar ancaman. ”Saya Satpol PP. Mana izinnya. Saya berwenang menutup tempat ini kalau tidak punya izin,” ketus Dhani kepada pasangan suami istri yang ada dalam warkop.
Mendapat ancaman seperti itu, pemilik warkop sempat bertanya. Namun tetiba suasana langsung gaduh. Oknum Satpol tersebut menyerang dan memukuli pria yang ada di dalam warkop, yang belakangan diketahui bernama Nur Halim. Tak lama berselang, giliran istrinya yang dipukuli.
Mengetahui kejadian di dalam warkop, beberapa personel kepolisian dan TNI yang sebelumnya berada di luar warkop, langsung masuk. Mereka langsung melerai. Selanjutnya Dhani pergi meninggalkan lokasi dikawal sejumlah anggotanya. Sementara beberapa anggota tim masih berada di depan warkop.
Tak terima pemukulan yang dilakukan Dhani terhadap dirinya, Nur Alim kemudian melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Mapolres Gowa sesaat setelah kejadian. Laporan polisinya bernomor: STTLP/776/VII/2021/SPKT/POLRES GOWA/POLDA SULSEL tertanggal 14 Juli 2021. Pria kelahiran Makassar, 29 September 1995 ini melaporkan oknum Satpol PP bernama Mardhani. Diketahui, Mardhani menjabat sebagai sektetaris Satpol PP Kabupaten Gowa.
Kapolres Gowa AKBP Tri Goffarudin Pulungan didampingi Kasat Reskrim AKP Muh Jufri Natsir dan Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan, kemarin memberi keterangan kepada wartawan terkait kasus pemukulan tersebut. Tri Goffaruddin menyebut, pihaknya sudah memeriksa tujuh orang saksi.
Masing-masing satu terduga pelaku anggota Satpol PP berinisial MD (57), pemilik warkop Nur Halim (26) dan Amriana (34) selaku saksi korban, dua anggota kepolisian, serta satu orang warga yang ada di lokasi saat insiden terjadi Rabu (14/7) sekitar pukul 20.30 Wita.
“Jadi saat ini kami sementara melakukan pemeriksaan terhadap tujuh orang saksi, masing-masing terduga pelaku, suami istri pemilik warkop dan empat warga lainnya yang saat itu berada di lokasi saat kejadian. Saat ini terduga pelaku belum status tersangka, sebab masih dalam pemeriksaan yang baru saja kami lakukan,” terang kapolres.
AKBP Tri juga memperlihatkan barang bukti yang diamankan dari lokasi kejadian. Masing-masing satu tempat duduk dari kaleng cat warna hitam, dua lembar bukti visum, serta rekaman CCTV warkop setempat.
“Kami minta masyarakat agar jangan terprovokasi terkait kejadian ini. Serahkan semua kepada kami untuk diproses sesuai hukum. Pasti kami akan profesional dan transparan,” tandasnya.
Terkait penetapan status tersangka, menurut kapolres, baru akan dilakukan setelah gelar perkara. Saat ini karena pemeriksaan masih berjalan sehingga belum bisa dipastikan statusnya.
Sementara terkait kondisi korban Amriana, dikatakan kapolres, masih dalam perawatan di RSUD Syekh Yusuf. Sementara soal kehamilannya, kapolres mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter rumah sakit.
“Kami akan lengkapi seluruhnya. Setelah pemeriksaan tuntas maka kami akan menyampaikan hasil perkembangan penanganan,” terang Tri Goffarudin. Ia membenarkan bahwa bukti fisik yang terlihat pada kedua korban adalah tanda memar di pipi sebelah kanan.
Ditanya apa motif dari pemukulan ini, dikatakan kapolres karena emosi oleh terduga pelaku. Modusnya, terduga pelaku tidak terima atas jawaban kedua korban lalu memukul. Disebutkan, terduga pelaku MR terancam jeratan pasal 351 KUHP dengan kurungan lima tahun penjara.
Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan menjelaskan detil kronologis kejadian. Dikatakan, bahwa insiden berawal ketika kedua korban live jualan online pada Rabu, 14 Juli 2021 sekitar pukul 20.30 Wita. Tiba-tiba beberapa orang petugas PPKM mempertanyakan suara musik yang sedang berbunyi.
Korban pun menjelaskan sementara live jualan online, lalu memperlihatkan kamera dan acara live yang dilakukannya. Petugas lalu keluar dan memohon maaf.
Pada pukul 20.40 Wita terduga pelaku bersama satu rekannya kembali ke dalam warkop tersebut mengenakan seragam Satpol PP. Ia menanyakan surat izin usaha warkop dengan nada marah.
Saat itu terjadi adu mulut dengan istri pemilik warkop. Terduga pelaku lalu mendekati istri pemilik warkop sambil menunjuk ke arah wajah dan bicara bernada keras. Nur Halim pun menegur terduga pelaku dan menjelaskan bahwa istrinya hamil tua. Entah mengapa, tetiba pelaku membalik badan dan langsung menyerang serta menampar pemilik warkop.
Amriana berusaha agar terduga pelaku berhenti menyerang suaminya dan langsung mengambil tempat duduk kemudian melempar ke arah terduga pelaku. Pelaku kemudian berbalik arah lalu menampar istri korban. (sar)

“Kita serahkan sepenuhnya penanganannya ke kepolisian. Saya tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan, apalagi itu dilakukan oleh perangkat pemerintahan. Sejak video ini beredar semalam, saya sudah instruksikan Inspektorat untuk menindaklanjuti.”

Adnan Purichta Ichsan
Bupati Gowa

Adnan tak Tolerir,
Kasat Minta Maaf

PERISTIWA pemukulan tersebut membuat geram Bupati Adnan Purichta Ichsan. Ia menegaskan, dirinya tidak akan memberi toleransi terhadap aksi kekerasan dalam bentuk apapun, baik dalam pelaksanaan PPKM mikro maupun di luar kegiatan tersebut.

Pernyataan tegasnya itu disampaikan Adnan setelah menerima banyak pesan dan telepon masuk ke ponselnya terkait kejadian tersebut. “Mohon maaf saya tidak bisa membalas satu persatu. Namun terkait aksi pemukulan yang dilakukan oknum Satpol PP Kabupaten Gowa saat melakukan penertiban dalam rangka penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), saya menyesalkan dan tidak akan mentolerir kejadian tersebut dan menyerahkan kasus itu untuk ditindak lanjuti pihak kepolisian,” tandas Adnan dalam laman Instagramnya, kemarin.
Menurut Adnan, bagaimanapun itu, insiden yang terjadi di salah satu warkop di wilayah Panciro ini sudah masuk ranah hukum. “Kita serahkan sepenuhnya penanganannya ke kepolisian. Saya tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan, apalagi itu dilakukan oleh perangkat pemerintahan. Sejak video ini beredar semalam, saya sudah instruksikan Inspektorat untuk menindaklanjuti,” terang Adnan lagi.
Sejak awal dilakukannya penertiban PPKM, tambah Adnan, saat memimpin apel, dirinya selalu menekankan agar aparat mengedepankan sikap humanis tapi tetap tegas. “Tapi jangan artikan tegas itu untuk bertindak kasar. Apapun yang berkaitan dengan kekerasan, tidak dapat dibenarkan. Segala tindakan yang tidak sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) penertiban tak akan saya tolerir. Di masa sulit seperti ini, semua mesti menahan diri dan bekerja sama,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP Gowa Alimuddin Tiro didampingi Kadis Kominfo Statistik dan Persandian Gowa Arifuddin Saeni menggelar konferensi pers terkait peristiwa tersebut. Mewakili Pemkab Gowa, Kasat Pol PP Alimuddin Tiro menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya kepada pasangan suami istri pemilik kafe yang menjadi korban pemukulan, serta tindakan arogansi yang diperlihatkan salah seorang anggota Satpol PP.
Kepada wartawan di Baruga Karaeng Galesong Pemkab Gowa, Kamis (15/7) siang, Alimuddin menyampaikan kronologi terjadinya insiden tersebut. Ia menyebut hal itu diakibatkan miskomunikasi antara oknum Satpol PP dengan pemilik warkop.

“Terkait dengan kejadian pemukulan ini kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Khusus insiden ini kami juga akan melakukan penyidikan lebih lanjut,” ujar Alimuddin.
Ditanya soal tindakan yang akan dilakukan Satpol PP terhadap oknum yang melakukan pemukulan, Alimuddin Tiro mengaku akan melakukan penyidikan, karena Satpol PP memiliki tim penyidik.
“Kami akan lakukan penyidikan juga terkait insiden ini. Tentu tidak akan mungkin ada asap kalau tidak ada api. Kita akan cari tahu apa pemicu terjadinya insiden tersebut,” jelasnya.
Ditanya soal kehamilan istri dari pemilik warkop yang viral di medsos, dikatakan Alimuddin, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan medis. “Kami menunggu hasil pemeriksaan medis terkait betul tidaknya istri pemilik warkop yang jadi korban pemukulan itu sedang hamil. Karena dari sejumlah informasi yang kami terima disebutkan dalam kondisi tidak hamil,” terang Alimuddin lagi.
Kadis Kominfo Statistik dan Persandian Gowa Arifuddin Saeni menambahkan, terkait soal kehamilan korban, pemkab menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak rumah sakit. (sar)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini