Connect with us

Headline

Berjodoh tapi tak Jodoh, Apa Artinya?

Ustaz Imam Syafii di Podcast Mata Batin

-

USTAZ Imam Syafii kembali hadir mengisi podcast Menebak Jodoh pada program Mata Batin untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Jumat (23/7). Pada edisi kedua ini, ia kembali membahas persoalan jodoh. Penonton program ini rupanya tertarik untuk mengetahui pembahasan lebih lanjut mengenai jodoh mereka.

IMAM Syafii mendapatkan sejumlah pertanyaan dari penonton. Sherly salah satunya. Ia bercerita bahwa saat masih gadis, banyak pria yang jatuh hati kepadanya. Itu karena dirinya cantik dengan postur tubuh yang tinggi semampai.
Namun, dari sekian yang menyukainya, Sherly hanya memberi mereka ‘harapan palsu’. Ia menerima pemberian dari pria-pria tersebut, baik berupa uang maupun hadiah lain. Hanya saja, ketika diajak untuk menikah, ia pun menolak.
Akhirnya, ketika berumur 38 tahun, Sehrly menikah dengan seorang pria pilihannya. Setelah pernikahan itu, ia mengaku sakit-sakitan dan malas beribadah. Ia berpikir bahwa pria-pria yang ia tolak dulu, kecewa dan sakit hati padanya sehingga ia merasa diguna-guna.

Ustad Syafii menjawab, “Sebenarnya makna atau hakikat rukiah adalah membersihkan energi-energi negatif dan menghidupkan nur yang ada di dalam diri.” Ia menjelaskan, bahwa dalam diri Sherly nampaknya nurnya belum aktif. Karena sejatinya, dalam diri setiap manusia ada nur yang berdiam diri.
Sherly mengaku selalu merasakan sakit kepala dan sakit pinggang. Tapi hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan gejala atau penyakit apapun. Namun setelah diperiksa nonmedis, rupanya ia terkena mantra.
“Memang banyak yang seperti itu, dan cara menyelesaikannya ya datang ke tempat rukiah. Dengan dirukiah, semoga nurnya akan hidup dan menyelimuti diri dari energi-energi negatif,” tuturnya.
Lalu bagaimana jika sebuah pernikahan diperoleh melalui cara ‘guna-guna’? Ada seorang laki-laki yang menyukai seorang perempuan, namun perempuan tersebut bersikap ‘masa bodo’, sampai akhirnya ia dikirimi ‘guna-guna’ agar mau dengan pria tersebut.
“Ya itu, dirukiah. Dirukiah untuk membangkitkan nur-nur yang terdiam dalam dirinya. Insyaallah, jika nurnya dibangkitkan, dihidupkan, dinyalakan, tidak lagi malas beribadah,” tandasnya.
Hidupnya nur membuat kita sadar akan kewajiban sebagai umat muslim, yaitu salat, beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, agar terhindar dan terjauhkan dari hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri.
Untuk kasus lain, seseorang bertanya, bagaimana jika seseorang sudah cukup penghasilan dan cukup umur tapi belum menikah. Apakah auranya tertutup atau memang belum saatnya? Hal tersebut juga menjadi pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Syafii.
Imam Syafii kembali menyarankan, “Ya itu tadi, dirukiah agar nurnya hidup. Agar aura negatifnya terdorong keluar. Agar jodohnya datang.”
Rukiah itu bersandarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an. Agar nurnya dapat hidup, sandarkanlah kepada yang Punya Ayat. “Jadi proses rukiah sama saja dengan mendengarkan orang mengaji.”
Lalu apa sebenarnya yang menutupi nur seseorang? Yang menutupinya adalah perbuatan manusia itu sendiri. Sikapnya sehari-hari, salah satunya seperti malas beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah. Hal tersebut yang dapat membuat nur tertutup sehingga energi negatif mengabdi dalam diri.
Tak sampai di situ, Ustas Syafii juga mendapat pertanyaan lain yang berbunyi: Al-Qur’an menjelaskan bahwa menikahi perempuan lebih dari satu, dua atau tiga itu diperbolehkan. Apakah istri pertama, kedua, ketiga itu merupakan jodoh dari Tuhan?
Untuk pertanyaan ini, Imam Syafii mengatakan bahwa “Bisa saja memang jodoh dari Allah, atau bisa juga itu hanyalah nafsu. Menurut saya, yang penting istri satu, dua, dan tiga itu akur, saya rasa itu berarti memang jodoh dari Allah. Yang paling penting, istri pertama itu ikhlas.”
Ia melanjutkan, “Jadi, sebenarnya ada dua hal. Ada ‘jodoh’ dan ada ‘berjodoh’.” Jodoh, menurut penjelasan Imam Syafii, adalah yang datang dari Allah, bersifat selamanya. Sementara berjodoh adalah jodoh yang bersifat sementara. “Misalnya, ada pernikahan yang hanya bertahan satu atau dua tahun kemudian bercerai. Tidak sampai akhir hayat. Itu disebut ‘berjodoh tapi tidak jodoh’.”
Lalu bagaimana tanggapan ustaz Imam Syafii mengenai jodoh yang terhalang dengan uang panai?
Dalam hal ini, laki-laki akan menemui dua pilihan, apakah terus maju atau justru harus mundur?
Dengan bijak, Imam Syafii menerangkan, “Tenang, kalau jodoh tidak akan ke mana. Bagaikan asam di gunung, garam di lautan. Kalau berjodoh ya akan ketemu.”
Artinya, kalau memang jodoh dari Allah, pasti akan dipermudah. Pasti ada jalan keluarnya. Oleh karena itu, tidak perlu panik, tidak usah khawatir. Sabar. Karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Pada intinya, tak perlu risau perihal jodoh. Jika sudah saatnya, akan dipertemukan. Jika memang belum, sabar dan berdoalah. Dekatkan diri kepada Sang Pencipta. Rajin beribadah dan beikhtiar, Insyaallah jodoh akan segera datang. (pkl)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini