Connect with us

Headline

Pasien Covid Melonjak, Stok Obat Terbatas

-

MAKASSAR, BKM — Rumah Sakit Khusus (RSK) Dadi, Makassar dinilai kurang maksimal menangani pasien covid. Puluhan orang yang terkonfirmasi positif meninggal dalam kurun waktu sepekan di bulan Juli 2021
.
Data Lapor Covid-19 menyebut, sedikitnya ada 215 pasien yang terpapar covid-19 dilaporkan meninggal dunia ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Dadi. Angka itu terhitung dalam rentang waktu bulan Maret 2020 hingga akhir Juli 2021.
Namun, dr Muly dari Satgas Covid-19 RS Dadi Makassar, mengklaim jumlah itu dihimpun dalam kurun satu tahun terakhir. Tepatnya sepanjang Maret 2020 hingga data terakhir pada akhir Juli 2021.

Anggota Komisi IX DPR RI Aliyah Mustika Ilham angkat bicara terkait masalah tersebut. ”Fenomena ini menjadi potret nyata kolapsnya fasilitas kesehatan yang menyebabkan pasien covid-19 kesulitan mendapatkan layanan medis yang layak. Situasi ini diperparah oleh komunikasi risiko yang buruk, yang menyebabkan sebagian masyarakat menghindari untuk ke rumah sakit dan memilih isolasi mandiri,” ujarnya saat menghadiri vaksinasi dosis ketiga yang dikhususkan bagi tenaga kesehatan di RS Dadi Makassar, Senin (2/8).

Perihal meningkatnya angka kematian covid-19, Aliyah Mustika Ilham mengingatkan ada pengalaman di pulau Jawa dan Bali. Hal itu menjadi warning bagi Sulsel untuk tidak dikagetkan dengan kejadian serupa.

“Kita tahu Sulsel tidak dalam keadaan baik baik saja. Ada warning untuk berjaga-jaga kalau terjadi gelombang kedua (second wave) covid-19 memang datang. Namun, tak perlu panik. Sebab, covid-19 pada dasarnya tidak begitu berbeda. Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulsel sudah menggalakkan isolasi. Ada juga antisipasi dari awal. Obat-obatan sudah harus disiapkan,” pintanya.

Kondisi yang terjadi saat ini, dinilai Aliyah, menunjukkan bahwa pemerintah abai dalam memenuhi hak atas kesehatan warganya di masa pandemi, sebagaimana yang dijamin oleh Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan Nomor 6 Tahun 2018. Beleid ini menjamin bahwa di masa pandemi, setiap warga negara berhak mendapatkan layanan medis yang semestinya.
Koordinator Posko Satgas Ccovid-19 Sulsel sekaligus Direktur Rumah Sakit Dadi, dr Arman Bausat mengungkapkan bahwa virus corona kecepatannya seperti dicontohkan manusia naik sepeda, virusnya naik motor.

“Kami melakukan penanganan dari hilir ke hulu. Kalau ditumpaiki ini terus pasien pastimi kenapa-kenapanya larinya ke kita. Caranya bagaimana perbaiki dari hulu, masyarakat yang banyak protes. Turun sosialisasikan bagaimana masyarakat menghindari kerumunan dan terapkan 5M,” cetus dr Arman Bausat.

Pelaksana Tugas Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman, mengakui angka kematian akibat covid-19 cukup tinggi dikarenakan komorbiditas dan komorbid (penyakit penyerta).

“Komorbiditas dan komorbid  penyakit penyerta yang ada di dalam. Yang meninggal mayoritas belum tervaksin,” ujarnya.

Stok Obat Terbatas

Lonjakan eksponensial pasien ini tak mampu diimbangi fasilitas yang ada. Sejumlah langkah darurat pun dilakukan. Mulai dari mengambil kebijakan tempat isolasi mandiri hingga mengimbau masyarakat untuk vaksin.
Walau begitu,  

problem yang muncul seakan terus bertambah. Tingginya jumlah pasien awalnya membuat stok oksigen menipis. Belum tuntas permasalahan itu diselesaikan, masalah baru muncul dengan semakin langkanya obat-obatan di pasaran.

Laporan sulitnya obat-obatan dicari ini muncul dari berbagai daerah. Sejumlah rumah sakit sakit kesulitan mencari obat-obatan untuk penanganan covid-19.

Direktur RSKD Dadi, dr Arman Bausat mengatakan, sebenarnya stok obat covid-19 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Hanya saja ada yang stoknya terbatas. Namun, ia pun memastikan stok obat tersebut akan bertambah setiap dilakukan permintaan
.
Dokter Arman Bausat menjelaskan, adanya keluhan stok obat yang kosong di sejumlah tempat terjadi karena ada kendala distribusi. 

Tak hanya masalah obat, sejak melonjaknya pasien, jumlah tempat perawatan juga menjadi perhatian. Hampir seluruh rumah sakit yang menerima pasien covid-19 mengalami overcapacity.
Apalagi saat ini pemerintah telah merekomendasikan bahwa pasien covid-19 yang tanpa gejala (OTG) ataupun gejala ringan, agar menjalankan isolasi mandiri di rumah masing-masing atau di tempat yang sudah disiapkan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.

“Perlu diperjelas siapa bilang stok obat kosong. Tidak kosong dan tetap ada. Kalau minta kami beri, tidak kosong. Bagi masyarakat, siapa mau obat, ya datang ke rumah sakit. Jadi saya tekankan stok obat ada,” tegas dr Arman.

Bila kondisi obat sudah terbatas, tambah dr Arman, pihaknya minta ke kementerian.

“Sampai saat ini masih ada. Kami meminta puskesmas melakukan pemantauan bagi masyarakat yang isolasi mandiri agar diberi obat. Kami terus koordimasi dengan kementerian. Apalagi soal stok obat. Diharapkan, kalau kurang tersedia, laporkan. Bagi warga yang isoman kalau mau obat laporkan diri ke puskesmas,” tandasnya.
Hal berbeda disampaikan anggota Komisi IX DPR RI Aliyah Mustika. Menurutnya, terjadinya kekosongan stok obat dikarenakan distributor diduga ada ”main” dengan oknum aparat.

“Kenapa kosong? Ada beberapa distributor menahan. Untuk apa, tanya Kementerian Kesehatan. Dengan aparat yang di bawah mungkin saja ada kongkalikong,” jelasnya. (jun)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini