Connect with us

Headline

”Tujuan Saya ke Jakarta Ingin Kaya, Bukan yang Lain”

Henny Anastasia Maria, Pengusaha Spa dan Owner Rumah Kebun Bili-bili

-

KISAH ini kembali menjadi salah satu bukti bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Awalnya hidup tak kerkecukupan, keberhasilan dari bisnis yang dilakoninya telah berbuah sukses. Bahkan jauh melebihi dari ekspektasi.

NAMA lengkapnya Henny Anastasia Maria. Akrab disapa Henni. Di kekinian, ia dikenal sebagai pelopor usaha spa di Makassar. Pemilik bisnis The Secret Spa dan Beauty Training Centre. Selain itu, Henni juga seorang trainer. Tercatat pula sebagai owner sebuah kawasan wisata bernama Rumah Kebun yang berlokasi di Bili-bili, Kabupaten Gowa.

Memulai usaha dari salon, bisnis spa miliknya berkembang dengan baik. Perempuan yang kini berusia 57 tahun itu tercatat sebagai salah satu pengusaha yang sukses. Namun, untuk mencapai titik seperti yang ia rasakan sekarang, tentu saja butuh melewati perjalanan panjang. Dalam podcast Diary Putri untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, ia menceritakan pahit getirnya kehidupan yang dilalui.

“Saya itu orang kampung. Saya lahir di Makassar tapi besar di Maluku. Saya dibawa oleh ayah ke satu pulau yang sangat kecil. Namanya pulau Geser di Seram Timur, Ambon. Penduduknya sekitar 200 sampai 300 orang saja. Ketika saya dan saudara-saudara mulai sekolah, ayah membawa kami kembali ke Makasaar. Kami termasuk keluarga yang miskin. Jadi bapak saya akhirnya memilih kembali ke Papua untuk berusaha, sementara kami ditinggal di Makassar. Nah, dalam perjalanan karir bapak saya itu ada saatnya bagus, tapi pada akhirnya juga bangkrut,” tuturnya.

Di usia 15 tahun, Henny remaja tidak punya keterampilan apa-apa, selain sopir. ”Kebetulan ayah saya waktu itu sempat berhasil dan kemudian membelikan saya mobil. Saya menggunakan mobil itu untuk mencari uang. Saya jadi sopir petepete (angkot) tanpa SIM,” kenangnya.

Profesi sebagai sopir angkutan umum menjadi awal perjalanan karirnya. Setelah lulus SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Hasanuddin, Fakultas Farmasi. Namun, karena persoalan ekonomi, Henny yang baru masuk semester dua, mau tidak mau harus putus kuliah.

”Waktu membayar uang kuliah pertama itu dibantu oleh orang lain, yang sampai saat ini saya tidak akan lupa jasa-jasa beliau,” ujarnya.

Pada usianya yang ke 19 tahun, ia mencoba peruntungan dengan mendaftar menjadi seorang pramugari di Maskapai Garuda Indonesia. Hasilnya, Henny menjadi satu-satunya kandidat yang lolos di antara 480 orang pendaftar.

Pada April 1994, memasuki usia 20 tahun, dia dikirim ke Jakarta. “Di situlah mulai. Namanya anak kampung masuk ke kota, ya kita bisa saja tersesat, tapi bisa juga sukses. Tergantung pada pilihan hidup dan prinsip yang kita tetapkan pada diri sendiri. Jadi saat saya ke Jakarta, ya tujuan saya hanya ingin jadi orang kaya, bukan yang lain,” terangnya.

Henny menjadi seorang pramugari selama empat tahun, sebelum akhirnya ia dilamar dan menikah. “Saya sampai empat tahun lalu dilamar, kemudian menikah. Seiring waktu saya tidak bisa diam. Karena suami saya PNS, gajinya pas-pasan. Tapi saya memilih beliau bukan karena kekayaan, tapi karena saya yakin beliau mampu mendampingi saya, yang istilahnya saat itu cewek hiperaktif. Semua mau dikerjakan. Semua mau dilakukan. Jadi saya memilih pasangan yang mampu menghadapi saya dengan segala kesibukannya, dan tidak selingkuh,” jelasnya.

Setelah menikah, ia bekerja dengan seorang produser film. “Kebetulan saya dipilih oleh mereka mungkin karena saya tahu bagaimana jalan yang cantik, bicara yang bagus, karena dengan profesi saya sebelumnya,” imbuhnya.

Ia diminta untuk mengcasting bintang-bintang film yang akan diberi peran untuk produksi filmnya. “Saat itu saya menemukan Ida Iasha yang dulu terkenal dengan film-film melankolisnya. Awalnya kami mulai dengan film yang disutradara Slamet Rahardjo. Lalu lanjut kami juga memproduksi film Ali Topan Detektif Partikelir Turun ke Jalan. Kemudian berlanjut dengan beberapa film lagi,” tambahnya.

Di usia 29 tahun, Henny bisa dibilang sebagai top manajer di Jakarta. Seorang eksekutif muda. Ia memegang beberapa proyek developer dan bekerja sama dengan lima konglomerasi, termasuk XXI.

Dirinya mengaku lebih memilih untuk berkecimpung di dunia developer.

“Jadi saat itu saya belajar bagaimana menjadi kontraktor, jadi developer. Bagaimana menyatukan pikiran-pikiran dari para bos-bos ini untuk menjadi sebuah ide dan karya. Ada beberapa tempat, Alam Sutra termasuk salah satunya. Saya mulai membeli tanah mereka, menegosiasi dengan pemilik Alam Sutra yang lama. Jadi kita membeli perusahaannya, lalu digabungkan dengan perusahaan kami. Perusahaan kami waktu itu membeli lebih dari 150 hektare, dan sekarang sudah lebih dari 1000 hektare,” bebernya.

Di saat usia 34 tahun, Henny melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan. Saat itu ia mendapat cobaan. Dirinya divonis menderita kanker kandungan stadium empat dan kanker metastasis paru-paru.

“Ketika itu dokter mengatakan bahwa usia saya ini paling lama sebulan. Karena di paru-paru sudah 80 persen kankernya nyebar, dan yang di kandungan sudah sebesar bola tenis,” ungkapnya. Dokter menyarankan ia untuk memenuhi hidupnya selama sebulan dengan suatu karya-karya.

Kemudian, untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik, ia memilih berangkat ke Singapura. Henny yang sudah sukses dan mempunyai uang tentu saja akan melakukan apa saja demi kesembuhannya. Namun, apa yang ia peroleh sama saja. Dokter di Negeri Singa juga menyerah, meskipun ia bersikeras meminta diobati. “Dia bilang, sampai uangmu habis pun belum tentu kamu sembuh dan belum tentu kamu hidup,” katanya mengutip pernyataan sang dokter.

Dengan fakta yang ia terima, ia mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan pengobatan. “Sisanya saya serahkan pada Tuhan,” ujarnya dengan penuh kepasrahan.
Satu bulan berlalu, kanker yang ada di tibuh Henny bertambah parah. ”Tapi saya belum meninggal. Saya berdoa pada Tuhan saat itu, saya ke gereja di Cipanas, saya yakin disembuhkan oleh Tuhan. Bulan ke tiga saya mulai dapat miracle dari Tuhan. Kanker saya di kandungan saat itu dinyatakan sembuh. Ketika saya ke Singapura untuk cek lagi, ternyata kanker di kandungan saya sudah tidak ada, hilang begitu saja. Lalu dirontgen, paru-paru masih ada sekitar 60 persen. Lalu kami lanjutkan pengobatan,” jelasnya lagi.

Pada saat proses pengobatan itu, sambil menunggu, Henny tertarik untuk melanjutkan pendidikannya kembali. Ia mempunyai cita-cita yang dulu sempat terputus. Ia mengaku sangat ingin berkuliah di UI (Universitas Indonesia). Namun karena faktor usia yang saat itu ia sudah menginjak 34 tahun, ia terpaksa harus mengubur kembali cita-citanya.

Ia kemudian berkuliah di Universitas Atma Jaya Jakarta, Fakultas Pendidikan. “Kebetulan saya di sini hobi membina. Mungkin bakat dan talenta saya ada di situ. Lalu saya ambil BK (Bimbingan dan Konseling). Saya lulus. Puji Tuhan IPKnya masih 3,4.”
Mengejutkannya, saat berkuliah ia tengah mengandung anak ketiga. “Harusnya saya tidak boleh mengandung. Namun, puji Tuhan saya masih diberi anak ketiga, sambil kuliah,” ujarnya.

Kemudian, usia 40 tahun, ia lulus dengan gelar sarjana pendidikan (SPd). Dua tahun setelah kelulusannya, Henny kembali mendaftar kuliah. Kali ini, ia berhasil menggapai impiannya. Ia diterima di UI di Program Pascasarjana, Fakultas Ekonomi Program Magister dan Perencanaan Kebijakan Publik.

“Setelah itu, saya lulus, kebetulan ada salah satu dirjen melihat hasil karya saya sebuah buku berjudul Cantik, Sehat, dan Sukses Berbisnis Spa. Saya menulis buku itu, lalu dia panggil saya. Sejak saat itu saya bekerja dengan direktur Pengembangan SDM Kementerian Pariwisata untuk menyususn SKKNI Spa Indonesia,” jelasnya.

Dengan gelar SPd yang disandangnya, kenapa Henny tidak menjadi seorang guru? “Jadi guru itu lama untuk melihat hasilnya. Harus sabar menunggu. Sedangkan saya ini tipikal orang yang tidak sabaran. Jadi saya kalau mendidik, saya punya lembaga kursus spa. Orang lain bikin kursus spa itu sampai berbulan-bulan, bahkan sampai ada yang bertahun-tahun, saya bilang sepuluh hari sepuluh pertemuan, saya bisa memberi sertifikat kompeten. Kenapa? Saya yakin siapapun bisa kalau ada kemauan untuk berlatih. Jangan membuang waktu dengan jadwal yang sangat panjang. Kamu enak pijitnya, enak lulurnya, santun bahasamu, dan punya knowledge sedikit tentang apa yang kamu kerjakan, thats all,” tandasnya.

Menurutnya, sebuah kompetensi itu cukup seseorang punya skill, knowledge, dan good attitude. “Kenapa saya tidak menjadi seorang guru, nah itu tadi, saya orangnya tidak sabaran. Tapi sampai sekarang saya masih diberi kepercayaan oleh teman-teman dan asosiasi dari PHRI, dari Masyarakat Sadar Wisata, kemudian saya bergelut di dunia pariwisata. Saya pembina orang muda untuk keterampilan dan wirausaha,” terangnya.

Pada tahun 2014 terjadi krisis moneter di Indonesia. Henny kemudian pensiun dan hijrah ke Medan bersama saudara-saudaranya. Mereka mempunyai delapan cabang Parkir Fashion yang tersebar di sana dan terus berkembang. Namun, Henny merasa tidak nyaman berada Kota Melayu Deli tersebut. “Pertama, tidak cocok karena tidak ada ikan laut. Kedua, jauh dari Pantai.” Ia merasa banyak faktor-faktor yang tidak mendukung keberadaannya di sana.

Kemudian ia teringat pernah membeli tanah di Bili-bili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang luasnya sekitar 24 hektare pada tahun 1993, “berarti sudah 20 tahun lebih saya anggurin. Saya coba ke sana, saya duduk, saya tidur di sana selama sebulan tanpa atap. Cukup beralaskan bale-bale bambu dan beratapkan bintang. Karena saya cukup aktif di medsos, saya uploadlah foto-foto saya. Waktu itu masih Facebook. Saya pamerkan di Facebook saya. Teman-teman saya bilang, boleh ngga kita ke sana, makan.
Boleh, saya bilang. Saya siapkanlah makanan, karena memang saya suka masak. Lama-lama, teman-teman datang terus, besok datang lagi, besok datang lagi. Lalu saya bilang, bayar dong,” ungkapnya.

Teman-temannya kemudian membayar Rp50 ribu. Mereka sudah bisa makan dan minum sepuasnya. Namun, bukannya berkurang, justru semakin banyak orang yang tertarik untuk datang. Jadi sebenarnya, menurut Henny, objek wisata Rumah Kebun Bili-bili ada karena sebuah accident.

“Yang tadinya saya cuma ada meja makan kecil, akhirnya saya ganti yang lebih panjang. Ngga cukup juga. Karena tidak sempat untuk ke kota untuk beli meja makan, lalu ya udah pake triplek aja bikinnya. Kebetulan saya lagi bangun rumah. Yang tadinya saya tidur di bawah bintang, sekarang saya bikin atap. Udah bikin meja dua puluh orang, jadi. Besoknya ada telelepon lagi, Bu Hen saya 10 orang ya. Alamak, teruss datang-datang. Ya udah deh, karena saya sudah investasi di Medan, duit saya otomatis berputar di sana. Saya ngga punya dana lebih lagi yang bisa saya pakai. Ya udah, mulai jual rumah satu, bikin jalan 1,5 kilometer. Habis juga, ludes. Bikin lagi, nambah, satu-satu barang saya jual. Suami saya bingung, kamu bikin apa? Ada, nanti aja kamu datang baru lihat. Satu tahun baru suami saya datang untuk lihat. Pantesan habis. Semuanya diinves di Rumah Bili-bili. Makanya saya marah kalo ada orang bilang, kok bayar. Aduhh.” (pkl)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini