Connect with us

Headline

Agar Keluar dari Pandemi, Vaksinasi Harus ”Dipaksa”

-

MAKASSAR, BKM — Penanganan pandemi covid-19 terus menjadi hal yang diperbincangkan. Masyarakat menuntut kejelasan apa saja yang dilakukan pemerintah dalam penanggulangan wabah virus yang sudah melanda dunia selama kurang lebih dua tahun.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Hj Andi Khadijah Iriani memaparkan apa saja yang telah dilakukan pemerintah kota di tengah pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Ia menyampaikannya ketika menjadi narasumber dalam program RanahRus untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Kamis (5/8).
Dijelaskan bahwa setelah Moh Ramdhan Pomanto dan Hj Fatmawati Rusdi dilantik sebagai wali kota dan wakil wali kota Makassar, program Makassar Recovery diluncurkan. Ini merupakan salah satu inovasi yang ditujukan untuk percepatan penanggulangan pandemi.
Ada tiga poin yang menjadi perhatian dalam program Makassar Recovery ini. Masing-masing imunitas kesehatan, adaptasi sosial, dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Pada imunitas kesehatan, dilakukan dari hulu ke hilir. Hulu, dalam hal ini merupakan proteksi kepada masyarakat agar tidak terinfeksi oleh virus. Sedangkan hilirnya merupakan Dinas Kesehatan, memberi pelayanan kepada pasien.
Hal yang dilakukan agar dapat memproteksi masyarakat adalah dengan memperkuat imunitas melalui vaksinasi, menegakkan protokol kesehatan yang ketat, dan bagaimana caranya agar masyarakat benar-benar patuh dengan aturan yang diberlakukan.
Namun, bagaimana jika ada masyarakat yang terinfeksi? Untuk hal tersebut, disebutkan bahwa ada beberapa tenaga kesehatan yang bertugas untuk melakukan pelacakan (tracing) dari rumah ke rumah melalui program covid hunter.
“Dilacak satu rumah dengan swab antigen. Jika ada yang positif, kita langsung PCR. Terlebih lagi jika ada penderita yang tidak memperlihatkan gejala (OTG). Kemudian kita beri edukasi bahwa mereka seharusnya diisolasi,” tuturnya.
Pemerintah dan Dinas Kesehatan berupaya untuk terus mengedukasi masyarakat untuk melakukan isolasi. Untuk itu, pemerintah berinovasi dengan program isolasi apung.
“Jadi, dari hulu ke hilir ini kita menjadi satu ekosistem yang berpadu, sehingga secara komprehensif bisa menjalani kegiatan yang sesuai dengan perintah untuk meredam pandemi ini,” ujarnya.
Sejauh ini, telah ada tiga gelombang yang memperlihatkan grafik penyebaran covid-19 melalui berbagai klaster-klaster. “Jadi, ada namanya grafik epidiomologi. Tahun 2020, saat covid-19 mulai memasuki wilayah kota Makassar, grafiknya tidak terlalu tinggi. Pada Desember sampai Januari, grafiknya memperlihatkan peningkatan. Nah, itu dikarenakan oleh klaster dari Natal dan tahun baru. Setelah itu, penyebaran ini kemudian sedikit reda. Baru naik lagi pada saat sekarang ini,” jelasnya.
Diakui, masalah saat ini lebih rumit. Klaster bukan lagi berasal dari perkumpulan pada sebuah acara-acara tertentu, namun sudah mencapai klaster rumah tangga. Untuk itulah dilakukan tracing covid hunter. Tracing oleh anggota-anggota terpilih yang disebut sebagai detektor.
Namun, meski sudah melaksanakan covid hunter ini, masyarakat masih merasa kinerja yang dilakukan pemerintah ini kurang dan melayangkan protes serta kritikan kepada pemerintah. Untuk itu, sebagai langkah lanjutan, detektor-detektor ini akan kembali turun dengan semua masukan-masukan dari masyarakat. “Itu akan terus kami perbaiki,” imbuhnya.

Soal isolasi apung, dijelaskan Iriani, merupakan fasilitas pemerintah yang disiapkan untuk warga kota Makassar yang terinfeksi covid-19. Mengingat bahwa Sulawesi Selatan adalah wilayah dengan angka terkonfirmasi positif terjangkit virus korona terbanyak. Hal tersebut dikarenakan oleh banyaknya penyebaran yang terjadi akibat perjalanan lintas daerah, dimana masyarakat diduga ada yang membawa virus dari kota ke daerah, ataupun dari daerah ke kota. Jadi, hal tersebut yang menyebabkan makin meluasnya penyebaran virus ini.
Untuk menjalani isolasi di KM Umsini yang telah disediakan, harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. “Jika memang dalam sebuah rumah memenuhi syarat, kami akan angkut ke isolasi apung,” terangnya.
Namun, masyarakat yang ingin melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing juga diperbolehkan. Tentunya dengan persyaratan lain yang wajib dipenuhi. Seperti, jika dalam satu rumah ada salah satu anggota keluarga yang terkena covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri (isoman), maka ia harus ditempatkan dalam satu kamar yang di dalamnya terdapat kamar mandi pribadi. Sementara itu, anggota keluarga yang lain akan mendapatkan edukasi agar tetap menggunakan masker meski di dalam rumah. Kemudian, jika isoman telah selesai, semua peralatan yang digunakan oleh penderita irus korona harus di disinfektan sebelum dikeluarkan. Namun, jika hal tersebut tidak dapat dipenuhi, maka pasien akan di bawa ke tempat isolasi apung.
Iriani juga menjawab kabar yang tersebar terkait isolasi apung yang mengalami kendala dalam pemberian fasilitas, di mana pasien isolasi mengatakan bahwa fasilitas yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Mulai dari masalah air, hingga masalah WiFi.

“Di hari pertama saat kita launching, kita masukkan pasien yang berjumlah 75 orang. Jadi, ada beberapa kapal, baik dari SKPD pemkot maupun dari Lantamal. Dari sini, semua tenaga kesehatan (nakes) dan semua yang bertugas di atas kapal isolasi apung sudah mengetahui fungsinya masing-masing. Sudah terkoordinasi dengan baik,” jelasnya.
Namun, menurutnya, di dalam pelaksanaan ini tentu saja tidak semua hal dapat digapai oleh pertugas. Terlebih lagi, penerapan yang dijalankan berbeda-beda.
“Di hari kedua, kami lihat, oh ternyata di atas kapal itu masih ada toilet yang belum berfungsi. Masih ada air yang tidak mengalir lancar, sehingga satu toilet bisa dipakai beramai-ramai,” ungkapnya.
Iriani pun menyampaikan kepada nakes yang ada di atas kapal bahwa ruang antara yang steril dan non steril harus tetap dijaga dengan baik. Pasien tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan steril.
Terkait dengan WiFi, di hari kedua diupayakan oleh nakes-nakes yang ada dengan cara memberikan hotspot pribadi kepada pasien. “Tapi saya sudah mendapatkan laporan bahwa dinas terkait yang bertanggung jawab sudah melakukan pekerjaannya,” imbuhnya.
Selain detektor untuk covid hunter serta memfasilitiasi masyarakat dengan isolasi apung, hal lain yang juga penting dilakukan untuk mencegah peningkatan angka pasien terinveksi covid-19 adalah vaksinasi. Lalu bagaimana perkembangan program vaksinasi yang ada di Makassar.
“Makassar adalah centre, ibu kota provinsi. Kami memberikan 35 persen kontribusi kepada pemerintah provinsi. Cakupan vaksinasi sampai tanggal 4 Agustus sebanyak 39,96 persen. Hampir 40 persen vaksinasi pertama,” sebutnya.
Dia pun mengucapkan terima kasih kepada seluruh komunitas-komunitas yang telah memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Mulai dari TNI-Polri, Kalla Group, Fajar Group, dan komunita lainnya.
Namun, meskipun sudah banyak masyarakat yang melakukan vaksinasi, masih juga ada yang beranggapan bahwa mereka ”dipaksa” untuk melakukan vaksinasi. Khadijah mengatakan, “Sebenarnya, menurut saya memang mereka harus dipaksa.”

Dikatakan, terlalu banyak berita hoaks yang bertebaran sehingga masyarakat menjadi curiga dan ragu untuk melakukan vaksinasi. Padahal, lebih banyak hoaks dibandingkan kebernaran yang dipercaya masyarakat. “Jika ingin segera keluar dari pandemi, maka semua masyarakat harus divaksin tanpa terkecuali,” tandasnya
Pemerintah kota Makassar bersama dengan dinas kesehatan mempunyai sasaran vaksinasi sebanyak 1,1 juta jiwa. “Dari banyaknya sasaran, kita baru mencapai angka 40 persen. Masih ada 60 persen sisanya yang belum divaksin,” terangnya.

Belakangan, antusias masyarakat cukup tinggi untuk melakukan vaksinasi. Sementara di sisi lain, kesiapan vaksin terbatas. Bagaimana Iriani mengklarifikasi hal tersebut? “Benar, itu tidak salah,” akunya.
“Jadi, melihat masyarakat yang telah divaksin berjumlah sekitar 400 ribu orang, artinya, sudah banyak masyarakat yang bisa mengedukasi masyarakat lain untuk ikut divaksin,” katanya. (pkl)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini