Connect with us

Headline

Diduga Ada Perkumpulan Pesugihan Beranggotakan 40 Orang

Usai Dioperasi, Kesembuhan Mata AP Diperkirakan tak Sampai Sebulan

-

IST MEMBAIK-Kondisi AP sudah membaik pada hari Selasa (7/9). Setelah menjalani operasi mata, Senin (6/9), dokter memperkirakan proses kesembuhan mata AP tidak sampai satu bulan.

GOWA, BKM — Kasus penganiayaan ibu kandung terhadap anak perempuannya yang berusia enam tahun di Kabupaten Gowa, memunculkan hal baru. Kuat dugaan adanya perkumpulan pesugihan yang beranggotakan kurang lebih 40 orang.
Kasat Reskrim Polres Gowa AKBP Boby Rachman mengungkap indikasi adanya praktik pesugihan, yang disebut-sebut melatarbelakangi penganiayaan terhadap AP oleh ibu kandungnya. Bahkan ada puluhan orang yang terlibat dalam ritual tersebut. ”Mereka diduga masuk dalam perkumpulan yang jumlahnya lebih kurang 40 orang. Tapi untuk memastikannya, kita masih dalami,” ujar AKP Boby Rachman, Selasa (7/9).

Kasubag Humas Polres Gowa AKP Mangatas Tambunan, mengatakan hingga saat ini penyidik masuk bekerja. ”Polisi masih mendalami dari berbagai sisi, terutama motifnya. Penyidik juga masih akan melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan sementara menunggu hasil pemeriksaan orangtua korban dari RS Dadi (Makassar),” ujarnya.
Terpisah, Camat Tinggimoncong Iis Nurismi melalui sambungan telepon selularnya, menjelaskan langkah yang dilakukan pemerintah kecamatan menyikapi dugaan praktik-praktik ritual di tengah masyarakat, khususnya di Lingkungan Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, yang merupakan lokasi kasus kekerasan pencongkelan mata terhadap korban AP. Melalui Lurah Gantarang Anshari, dilakukan pendataan tentang adanya indikasi praktik perdukunan di tengah masyarakat Lembang Panai.

”Jadi Pak Lurah Gantarang saat ini melakukan pendataan untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Sebab selama ini pemerintah setempat tidak tahu menahu, bahkan cenderung merasa kecolongan. Baru diketahui setelah adanya tindak kekerasan ini. Makanya, dilakukan pendataan di bawah yang disertai sosialisasi dan edukasi agar masyarakat tidak sembarangan mengikuti aliran-aliran atau ritual apapun yang tidak jelas,” ungkap Iis, kemarin.
Ketika berada di lapangan, camat bersama bhabinkamtibmas dan babinsa juga melakukan pendekatan ke warga. Mereka diberi pencerahan dan pendampingan, dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Diharapkan setelah kejadian yang dialami AP, tidak ada lagi peristiwa serupa.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol E Zulpan, meminta kepada masyarakat untuk memberikan informasi kepada pihak kepolisian, ataupun tokoh agama dan tokoh masyarakat jika menemukan adanya praktik aliran sesat di wilayahnya.
“Kasus kekerasan terhadap anak di Gowa dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat untuk dapat saling menjaga lingkungan, dan memberikan informasi kepada pihak yang berwenang, jika ditemukan adanya penganut aliran sesat di tengah masyarakat,” kata E Zulpan dalam keterangannya di Mapolda Sulsel, Selasa (7/9).
Tindakan keji HAS (43) yang tega menganiaya anaknya dengan melukai mata kanannya, diduga melibatkan suaminya TAU (47), kakeknya BA (70) dan pamannya US (44). Ada yang berperan memegang AP untuk proses ritual aliran sesat yang dipelajari pihak keluarga.
E Zulpan meminta masyarakat untuk berani dalam menindak dan melaporkan ke pihak berwenang, agar tidak ada lagi yang terpengaruh dan mudah masuk dalam aliran pesugihan tersebut yang pada akhirnya menimbulkan korban.
“Harus diketahui pula, keberadaan bhabinkamtibmas dan babinsa selalu siap menerima laporan dari masyarakat bila masih ada keluarga atau anggota masyarakat yang melakukan ritual-ritual pesugihan, yang tentunya masuk dalam kategori aliran sesat yang dapat membahayakan,” ujarnya.
Dia mengatakan, kondisi pandemi telah memengaruhi psikologis seseorang yang menyebabkan mudahnya ia terpengaruh untuk masuk dalam ajaran atau aliran sesat pesugihan yang didasari dari dampak yang beragam, seperti ekonomi dan latar pendidikan yang rendah.
E Zulpan pun memastikan pihak kepolisian di wilayah Gowa memberikan sanksi tegas terhadap para terduga pelaku yang telah melakukan aksi keji tersebut. Selain itu, polri dan pemerintah setempat melakukan trauma healing kepada korban untuk mengantisipasi terjadinya gangguan psikologis.

Kondisi AP Membaik

Operasi mata yang dilakukan tim dokter di RSU Syekh Yusuf terhadap AP pada Senin siang (6/9), membuahkan hasil yang menggembirakan. Kondisi bocah malang itu kian membaik. Bahkan, pada Selasa (7/9), perban putih yang menutupi mata kanannya telah dilepas oleh dokter.
Dokter spesialis mata di RS Syekh Yusuf, dr Yusuf Bachmid membenarkan hal itu ketika ditemui, kemarin. ”Alhamdulillah bagus, perbannya sudah dibuka supaya dia nyaman dan bisa menggerakkan matanya. Kalau dilihat tadi anatoksi matanya sudah kembali. Seperti saya bilang kemarin, ini bagus dan jadi berkah buat anak ini,” kata dr Bachmid.

Spesialis mata ini menambahkan bahwa penglihatan AP juga membaik. Bahkan ia memperkirakan proses kesembuhannya tidak sampai sebulan. “Mungkin ini berkah, karena anak ini sudah cukup menderita, banyak yang bersimpati. Insyaallah cepat sembuhnya. Trauma healingnya akan dilakukan berkelanjutan. Hasilnya, saat foto bersama, anak ini sudah merespon dengan baik,” tambah dr Bachmid.

Kondisi AP juga semakin tenang. Tidak lagi menangis dan meraung seperti sehari sebelumnya.
“Mungkin beberapa hari ke depan sudah bisa pulang. Mungkin Bayu yang akan menemani keluarganya dan saya akan arahkan. Kita akan arahkan kontrol rutin ke klinik. Kita kasih free,” kata dr Bachmid, yang sempat menerima kunjungan Dekan Fakultas Kedokteran Unhas Prof Dr Budu bersama Dr dr Yuyun Widaningsih dari Departemen Ilmu Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unhas menjenguk AP.
Bayu, salah satu paman AP yang selama ini menjaga dan mendampingi ponakannya selama perawatan di rumah sakit, sangat bersyukur sebab kondisi AP ini sudah lebih baik. ”Alhamdulillah, kondisinya sudah mulai membaik. Namun, untuk interaksi kita batasi dulu karena masih butuh istirahat. Dia juga sudah mau berinteraksi sama orang lain. Sudah mulai merespon,” ungkap Bayu.

Saat dikonfirmasi terkait perilaku keseharian keluarga korban, termasuk indikasi praktik pesugihan yang dilakukan keluarganya dan orangtua korban, Bayu tidak mau bicara banyak. Dia hanya menyarankan untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

(sar)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini