Connect with us

Headline

Saya Lahir di Unhas, Bukan Kacang Lupa Kulit

-

Bakal Calon Rektor Unhas, Prof Dr Indrianty Sudirman,MSi,CRMP,CRGM

KACANG lupa akan kulitnya. Mungkin ada di antara kita yang seperti itu. Namun tidak demikian dengan Prof Dr Indrianty Sudirman. Bakal calon rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2022-2026 ini menjelaskan alasannya ketika hadir di studio Podcast Berita Kota Makassar Lantai III Gedung Graha Pena, Makassar, Rabu (8/9).

”Saya mulai dari awal perjalanan karir. Saya punya sejumlah pilihan untuk berkarir, tapi passion saya memang untuk menjadi dosen di Unhas. Tempat saya dilahirkan menjadi sarjana. Saya dibesarkan oleh Unhas sehingga menjadi seperti sekarang ini. Setelah saya diberi ilmu, pengalaman, keterampilan, saya tidak boleh jadi kacang yang lupa akan kulit. Ketika institusi memanggil, maka saya harus tersedia untuk institusi saya.”
Prof Indri mengungkap hal itu ketika ditanya tentang alasannya maju dan mencalonkan diri dalam sukses Unhas untuk periode empat tahun mendatang. Ia juga memaparkan berbagai hal yang telah dilakukannya sebagai bagian dari pengabdiannya terhadap almamater.

Prof Indri yang saat ini dipercaya sebagai sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA), merupakan salah satu anggota dari tim penyusun dari visi dan misi Unhas, yang menghasilkan sejumlah dokumen-dokumen penting dan pemikiran dalam pengembangan Unhas. “Memang saya tidak duduk di front liner, namun saya ada di backstage, sehingga saya merasa ruh dari visi Unhas sangat saya pahami. Dengan berbekal pengalaman yang saya dapatkan, saya merasa juga punya program-program untuk mewujudkan visi tersebut,” tandasnya.
Menurutnya, capaian Unhas saat ini luar biasa. Banyak sekali torehan prestasi yang telah diraih. Untuk itu, ketika mengambil alih kepemimpinan saat Unhas dalam kondisi seperti sekarang, akan menjadi tantangan berat untuk mempertahankannya.
Seandainya kelak terpilih menjadi rektor Unhas, Prof Indri sudah menyiapkan beberapa program untuk dijalankannya. “Saya tidak mau sekadar mengatakan saya mau Unhas menjadi tiga besar, dua besar, atau yang terbaik. Karena itu sebenarnya hanyalah pengakuan dari hasil yang kita lakukan,” ujarnya.
Salah satu strateginya adalah millenial staging. “Customer kita adalah generasi Z dan Alfa. Mereka punya cara berpikir yang sangat berbeda seperti saya dari generasi X. Untuk itu tentu saya butuh dukungan dari mereka. Sumber daya manusia (SDM) Unhas begitu berpotensi, baik dari generasi X maupun generasi Z dan Alfa, yang memang dalam prosesnya banyak mewarnai akselerasi percepatan kemajuan Unhas,” terangnya.
Dalam posisinya sebagai sekretaris MWA, di mana MWA nantinya akan memilih calon rektor Unhas, bagaimana Prof Indri menjelaskan bahwa kedekatan itu tidak akan berpengaruh dalam proses pemilihan nantinya?
“Sebelum saya berpikir bahwa almamaterku memanggil dan saya harus maju, saya masih dalam proses istikharah. Saya tentu harus datang ke semua senior yang telah mendidik saya yang tentu berperan membentuk diri saya. Pada intinya, mereka semua berpikir saya sudah cukup untuk maju,” jelasnya.

Dengan itu pula, Prof Indri pun sudah berkonsultasi dengan ketua MWA. Ketua MWA berpesan kepada Prof Indri untuk tidak boleh terlibat dalam semua rapat apapun terkait dengan pemilihan rektor. “Jadi Bapak ketua MWA berusaha untuk menjaga netralitas dan independensi. Begitu juga anggota MWA yang lainnya. Menurut saya, orang-orang di MWA ini sebenarnya orang-orang yang sudah selesai dengan diri mereka sendiri, sehingga tidak ada lagi politik praktis pada pemilihan. Jadi soal kedekatan itu, saya yakin mereka di MWA ini orang bijak,”tandasnya.
Prof Indris juga menjelaskan tentang posisi dan jabatannya di lingkup Unhas selama ini. Menurutnya, aspek-aspek yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan perguruan tinggi ada yang disebut pimpinan, dalam hal ini adalah rektor dan wakil rektor. Ada yang disebut pelaksana akademik, seperti dekan. Ada yang disebut satuan pengawas, dan ada yang disebut sebagai penjaminan mutu.
“Jadi ada delapan organ yang harus ada fungsinya untuk mengatakan suatu perguruan tinggi ini efektif dan efisien. Selain itu, ada unsur penunjang akademik, unsur pelaksana administrasi dan unsur pengembangan. Dari delapan itu, saya sudah berada di dewan yang merupakan unsur pemberian pertimbangan dan pengawasan, yaitu di MWA. Kemudian saya sudah ada di unsur pelaksana akademik dengan menjadi direktur Rumah Sakit Unhas. Dari sisi unsur pelaksana akademik, saya pernah di Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi,” bebernya.
Menurutnya, tidak harus kelihatan bahwa ia menempati posisi atau jabatan, namun dengan terlibat dalam memberikan semangat dan keyakinan untuk mewujudkan sesuatu itu sudah cukup. Hal tersebut merupakan bentuk sumbangsih Prof Indri pada posisi strukturalnya.
“Dari delapan organ itu, saya sudah pernah di posisi unit pelaksana akademik. Sudah di posisi dewan pertimbangan seperti di MWA. Pada posisi ini, bahkan sebelum saya di posisi sekretaris MWA, saya sudah dilibatkan MWA untuk menyusun peraturan-peraturan,” tambahnya.
Prof Indri juga pernah bergabung dalam tim pengembangan selama delapan tahun dan terlibat dalam statuta, penyusan visi dan misi, penyusunan nilai RP, dan semua dokumen penting, termasuk laporan-laporan pertanggungjawaban setiap tahun.
“Dari delapan organ itu saya terlibat lima di dalamnya. Saya terlibat di pelaksananya, penunjang akademik, pengembangan, penjaminan mutu dan terlibat juga dalam lembaga normatif. Tidak harus menjadi orang dengan jabatan, tapi apa yang kita lakukan untuk fungsi tersebut,” begitu prinsip Prof Indri.
Di bagian lain penjelasannya, Prof Indri juga memaparkan tentang posisi perempuan dalam kepemimpinan. “Saya tidak melihat tugas-tugas rektor itu harus ditentukan karena dia laki-laki atau perempuan. Yang dibutuhkan dari seorang rektor adalah yang mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan yang berisiko. Unhas ini lagi di fase pertumbuhan. Untuk itu dibutuhkan seorang risk taker. Risk taker can be a man can be a woman,” tandasnya.
Hal lain yang dibutuhkan adalah skill negoisiasi. “Tidak berarti negosiation skill perempuan lebih jelek dari pada laki-laki. Kita butuh kemampuan berpikir strategis,” ucapnya lagi.
Sebagai seorang akademisi, Prof Indri tersertifikasi CRMP dan CRGP. “Nilai berpikir strategis saya itu 100. Dan semua pesaing saya itu laki-laki tidak ada yang dapat nilai 100. Jadi itu menunjukkan tidak berarti laki-laki lebih bisa berpikir strategis daripada perempuan. Kita ini harus berpikir maju, jangan ke belakang. Ada banyak hal-hal yang dapat dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Semuanya mempunyai kemampuan tersendiri,” ungkap.
Unhas entrepreneurial university bereputasi internasional merupakan hal yang hendak diwujudkan Prof Indri. Tujuan utamanya meningkatkan kemaslahatan nasional dan global, serta meningkatkan kemandirian sumber sumber pembiayaan, meningkatkan kesejahteraan (insentif satuan biaya tridharma)
Di bagian akhir, Prof Indri menyampaikan kepada seluruh civitas akademik Unhas untuk tetap mempertahankan tradisi-tradisi akademik. Menjaga Unhas benar-benar dengan niat yang ikhlas melihat apa yang dibutuhkan ke depannya. ”Mari kita pilih berdasarkan kriteria terbaik dan kita hindari politik praktis dalam pemilihan,” ujarnya mengajak. (pkl)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini