Connect with us

Headline

Polisi akan Otopsi Mayat Diduga Korban Ritual Orangtuanya

MUI dan Kemenag Gowa Telusuri Indikasi Praktik Aliran Sesat

-

IST MEMBAIK-AP, bocah perempuan berusia enam tahun yang menjadi korban kekerasan orangtua dan keluarganya, kini kondisinya membaik usai menjalani operasi pada mata kanannya.

GOWA, BKM — Hingga kini kasus kekejaman orangtua dan kerabatnya terhadap seorang bocah perempuan AP (6) di Lingkungan Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel, terus didalami oleh penyidik Satuan Reskrim Polres Gowa.
Pihak kepolisian terus mencari kebenaran motif dari ulah kejam orangtua korban, yakni Ta dan Ha, bersama BA (kakek) dan US (paman korban) yang dilakukan pada Sabtu (4/9) lalu.

Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Boby Rachman yang dikonfirmasi, Rabu (8/9) sore mengatakan, saat ini pihaknya masih fokus pada peristiwa pencongkelan mata korban AP, serta pemeriksaan beberapa warga sebagai saksi.

Boby menampik saat ditanya terkait indikasi pesugihan yang melatarbelakangi kasus penganiayaan AP yang dilakukan kedua orangtuanya dan dua kerabat lainnya, yakni kakek dan pamannya.
Menurut Boby, pihaknya tidak tahu menahu soal viralnya di medsos yang menyebutkan jika kasus kekerasan terhadap anak ini karena pesugihan.

“Kalau terkait dugaan pesugihan yang dilakukan para tersangka ini, kami tidak bisa mengklaim kebenarannya. Apakah itu aliran sesat atau aliran hitam atau sebagainya. Yang jelas kami tidak boleh menyimpulkan sebelum menerima penjelasan resmi hasil kajian dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). Apakah termasuk aliran sesat atau aliran hitam, bukan kapasitas kami sebagai penyidik. Jadi pihak Kemenag atau MUI yang menentukan status alirannya. Ketika ada kajiannya baru bisa ditindaklanjuti. Saat ini, kami fokus dulu kepada kekerasan anak,” jelas Boby.

Ditanya soal status kedua orangtua korban, Boby mengatakan, ibu dan ayah AP kini sudah resmi tersangka bersama kakek dan paman korban.
“Jadi sudah ada empat tersangka. Namun untuk kedua orangtua korban belum kami tahan, sebab masih menjalani observasi di RS Dadi Makassar. Saya sudah koordinasi dengan pihak rumah sakit. Pihak dokter menyampaikan masih mau melakukan observasi. Pihak rumah sakit menurunkan beberapa dokter. Jadi bukan hanya satu dokter yang menangani kedua tersangka ini. Karenanya, para dokter di Dadi masih meminta observasi. Makanya kami tidak bisa langsung membawa tersangka ke polres saat ini,” papar Boby.

Sementara terkait kematian kakak AP, yakni DP (25) yang meninggal sehari sebelum sang adik mendapat perlakuan kejam orangtua dan keluarganya, Boby menjelaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Polda Sulsel dan akan mengarahkan pemeriksaan terhadap kasus kematian DP.

”Untuk kematian kakak korban ini kita bedakan dengan penganiayaan. Kematiannya nanti kita proses penyelidikan sambil memeriksa saksi-saksi. Tentang apa penyebab kematiannya, tentunya kita akan melakukan otopsi. Saat ini kami tidak bisa menyimpulkan penyebab kematiannya dulu, sebab harus mendapatkan keterangan valid dari saksi-saksi juga, meski kami sempat himpun bahwa kakak korban meninggal akibat mengalami kekerasan orangtua, yakni diduga dicecoki dua liter garam ke mulutnya. Untuk itu kita akan otopsi jasadnya untuk mengetahui penyebab kematiannya, ” jelas Boby yang kembali dikonfirmasi, Rabu (8/9) malam.
Terpisah, Lurah Gantarang Anshari yang dikonfirmasi terkait kondisi dan suasana di sekitaran rumah korban di Lembang Panai, mengatakan saat ini kondisinya cukup tenang. Namun pihaknya selaku pemerintah kelurahan tengah menjajaki dan mendata kemungkinan adanya kegiatan tersembunyi berupa ritual ataupun aliran tertentu, yang diduga melatari peristiwa kekejaman kedua orangtua korban AP.
Menurut Anshari, selama ini tidak pernah terdeteksi adanya kegiatan ritual di wilayahnya. Dugaan praktik tersebut baru terkuak setelah kekerasan dan kekejaman terjadi pada bocah AP.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gowa bersama jajaran Kementerian Agama (Kemenag) RI Kabupaten Gowa turun ke lokasi tempat tinggal korban AP dan keluarganya di Lingkungan Lembang Panai, Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggimoncong, Kamis (9/9).

Mereka melakukan penelusuran indikasi ritual yang dilakukan keluarga korban.
Selain itu, MUI dan Kemenag juga akan melakukan sosialisasi dan penyuluhan bagi masyarakat sekitar di Lembang Panai. Apalagi santer terdengar jika di wilayah itu terdapat perkumpulan aliran yang pengikutnya lebih kurang 40 orang. Di antaranya adalah kedua orangtua korban AP.

“Pagi ini (kemarin) kami turun ke lokasi bersama pihak Kemenag. Nanti setelah dari lokasi melakukan investigasi langsung, barulah kita akan sampaikan seperti apa dugaan aktivitas yang ada,” kata Ketua MUI Gowa KH Abubakar Paka yang dihubungi via ponselnya, Kamis (9/9).

Sementara kondisi bocah AP semakin membaik usai dilakukan operasi pada matanya di RSUD Syekh Yusuf Gowa. Setiap hari aparat Pemkab Gowa melalui Dinas Sosial melakukan pemantauan terhadap kondisi AP. Setiap hari tim dari Dinas Sosial Gowa dipimpin langsung Plt Kepala Dinas Sosial Gowa Firdaus melakukan pemantauan di ruang perawatan bocah malang itu. (sar)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini