Connect with us

Headline

Supir Sekdis PUTR Keciprat Dua Proyek Irigasi

Supir Anggu Dikasih Kantung Plastik Berisi Uang Rp1 Miliar

-

BKM/RAHMAT SAKSI -- Dua orang supir dihadirkan sebagai saksi di persidangan, Kamis (9/9). Masing-masing Irfandi, supir pribadi Edy Rahmat dan Suryadi, supir Agung Sucipto.

MAKASSAR, BKM — Fakta baru terus muncul dalam sidang kasus dugaan suap dan gratifikasi yang melibatkan Gubernur Sulsel nonaktif HM Nurdin Abdullah dan mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel Edy Rahmat. Saksi-saksi yang dihadirkan mengungkap hal itu.
Terbaru adalah keterangan dari dua orang supir. Masing-masing Irfandi, supir pribadi terdakwa Edy Rahmat, dan Suryadi, supir Agung Sucipto. Mereka hadir sebagai saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, Kamis (9/9).

Dalam pengakuannya di depan majelis hakim yang diketuai Ibrahim Palino, saksi Irfandi menyebut pernah keciprat dua proyek irigasi. Ia mengerjakan dua proyek irigasi di Kabupaten Selayar dan Baddoka. Masing-masing proyek pembangunan tersebut senilai Rp180 juta.
”Proyek irigasi di Baddoka nilainya Rp180 juta. Begitu juga yang di Selayar senilai Rp180 juta. Anggaran tahun 2020. Pak Edy (Rahmat) saat itu sudah jadi sekdis PUTR,” terang Irfandi.
Selain soal proyek yang ditanyakan, Irfandi juga dicecar jaksa penuntut umum (JPU) KPK soal uang dalam koper yang diterima oleh Edy Rahmat. Ia menjelaskan, ketika sudah menerima koper yang berisi uang, Edy Rahmat langsung minta diturunkan di depan pelabuhan yang terletak di Jalan Nusantara. Selanjutnya pindah ke sebuah mobil Honda HR-V yang belakangan diketahui milik Agung Sucipto. Agung kini sudah menjadi terpidana terkait suap dan gratifikasi dalam kasus ini.

“Saya disuruh mengikuti mobil HRV tersebut. Saya disuruh ikuti dan mutar-mutar di pantai Losari,” ujar Irfandi.
Setelah sempat berputar-putar beberapa kali, kata Irfandi, tetiba mobil tersebut berhenti di depan Masjid 99 Kubah. “Saya ikut terus di belakanganya. Pak Edy turun dan langsung naik ke mobil saya,” kata Irfandi.
Setelah naik ke mobil, Edy Rahmat lalu meminta Irfandi untuk putar-putar ke pusat kuliner Lego-lego. Bahkan sempat masuk ke sebuah restoran di kawasan ini.
Sementara Suryadi, supir Agung Sucipto yang turut dihadirkan sebagai saksi, dalam keterangannya mengungkap bila dirinya tidak mengenal dekat dengan Edy Rahmat. Suryadi berdalih mengenal hanya sebatas tahu namanya. Itupun karena dirinya beberapa kali pernah mengantar Agung Sucipto bertemu dengan Edy Rahmat.
Satu hari sebelum operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK, Suryadi mengaku pernah mengantar Agung Sucipto bertemu dengan Edy Rahmat di Kafe Pancious Jalan Hertasning pada hari Jumat, 26 Februari 2021 lalu.
“Di situ ada yang ketuk mobil saat saya disuruh menunggu. Terus, dia tanya saya, kau supirnya Anggu? Dia kasih saya uang. Dia bilang cuma Rp1 M,” bebernya.
“Dia suruh saya hitung, tapi saya tidak berani. Disimpan dalam kantung plastik warna hitam. Semua isinya uang Rp1 miliar. Saya ikut juga ambil itu uang di dalam mobilnya Honda Jazz. Terus saya angkat dan pindahkan ke mobilnya Anggu. 20 menit kemudian Pak Anggu keluar,” terang Suryadi.
Selain uang yang diserahkan oleh Agung Sucipto, ada juga penyerahan dokumen dari Agung ke Edy Rahmat. Lalu Suryadi diminta untuk mengantar Agung Sucipto ke Rumah Makan Kampung Nelayan, setelah uang itu diserahkan.
“Saya disuruh Pak Anggu ambil koper, kemudian saya pindahkan ke tengah. Waktu di Taman Macan, saya disuruh berhenti dan singgah lagi. Saya disuruh kasih pindah di mobil Pak Edy Rahmat. Pak Anggu perintahkan saya untuk kasih pindah semua ke mobil Pak Edy,” ungkap Suryadi.
Saat OTT terjadi, Suryadi mengaku jika saat itu dia bersama Agung Sucipto sedang dalam perjalanan.
Di perbatasan Takalar-Jeneponto, tiba-tiba mobil yang dikendarainya dicegat oleh tim KPK di pinggir jalan.
“KPK bilang saat itu, tolong turun dari mobil. Kemudian Agung langsung turun dari mobil dan dibawa. Setahu saya uang dari dalam koper itu Rp2 miliar,” ujar Suryadi. (mat)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini