Connect with us

Headline

Sosok Panutan Bagi Anak, 165 Cucu dan Cicit

In Memoriam Hj Andi Cenrara Puang Kanang

-

IST Hj A Cenrara Puang Kanang semasa hidup.

KASIH seorang ibu tak akan terbalaskan dengan apapun. Ia begitu gigih dan terus kuat untuk mendidik anak-anaknya hingga mampu menjadi orang yang berguna buat bangsa, negara dan keluarga.

Tak ada kata lelah membimbing anak-anaknya sampai usia senja hingga kewajiban itu berakhir setelah dipanggil menghadap oleh Sang Ilahi.
Begitulah sosok Hj Andi Cenrara Puang Kanang. Wanita yang menjadi panutan bagi keluarganya, khususnya keluarga besar H Syamsu Nur (Komisaris Utama PT Fajar Holding).
Ta berhenti air mata dan doa mengiringi kepergian wanita yang gigih merawat anak dan cucunya, serta menjadi teladan di tengah warga sekitar rumahnya.
Kepergian wanita yang selalu senyum ini di usianya 97 tahun begitu terasa. Ia memberi kesan mendalam bagi keluarga ditinggalkannya. Banyak pelajaran hidup dipetik darinya. Sosoknya yang tegar itu menjadi panutan bagi anak-anaknya sampai ke cucunya.
“Kami semua merasa kehilangan, karena selama hidupnya ibunda kami telah munjukkan kasih sayang sangat besar kepada anak-anaknya, cucu, dan cicitnya. Dia menjadi tempat untuk meminta pandangan serta doa restu,” kenang Syamsu Nur, anak sulung Hj Andi Cenrana.
Dalam kisahnya, Syamsu Nur menyampaikan mendiang almarhum ibunya sering dimintai restu, terutama bagi yang ingin menghadapi ujian. Nasihat darinya mengantarkan anak-anaknya, cucu, dan cicitnya berhasil dalam dunia pendidikanya.
Tidak itu saja, anak-anaknya senang mengajak orangtuanya tinggal di rumahnya. Menyediakan kamar dan ruang spesial agar sang ibu betah berlama-lama berdiam di rumah bersamanya.
“Kita merasa sangat kehilangan karena kami begitu dekat dengannya. Dia tempat bagi kami mencurahkan segala apa yang kami rasakan. Dia juga bisa memberikan pandangan-pandangan yang sejuk. Kenangan itulah yang pada hari ini kami merasa sedih. Kami merasa kehilangan seorang panutan yang luar biasa yang memiliki pedoman hidup yang sangat kuat,” imbuhnya.
Bagi Syamsu Nur, sosok mendiang ibunya begitu sangat hebat dan kuat. Diperlihatkan dengan sosoknya sangat tegar menahan sakit yang dideritanya tanpa memberi tahu anak-anaknya maupun keluarga.
Dan pada saat dirinya mengembuskan napas terkahir, wajahnya memperlihatkan senyum dan wajahnya cerah. Isyarat bahwa kepergiannya begitu sangat tenang.
“Dia mengembuskan napas terakhir dengan wajah yang cerah. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mendoakannya. Saya tahu kalau ibu saya ini tidak pernah punya utang, namun demikian kiranya ada hal yang kami tidak ketahui agar disampaikan kepada kami. Insyaallah kami menyelesaikan bila itu ada agar perjalanan alhmarhum dibukakan pintu selebar-lebarnya oleh Allah Swt dan arwahnya mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Selamat jalan ibunda, kami tidak berhenti menyertai dengan doa,” tutupnya.
Anak kedua almarhumah, H Syahrir Nur berkisah jika ibunya selalu mengajari anak-anak dan cucunya untuk bersabar hingga menghargai sesama.

Bahkan di akhir hayatnya, almarhumah yang telah memiliki 165 cucu dan cicit itu masih mengajarkan hal serupa.

H Syahrir mengungkapkan jika ibunya sempat mengumpulkan semua anggota keluarga pada tahun 2020 lalu.

“Cucu dan cicitnya beliau itu ada 160-an. Pastinya ada 165 orang. Itu 2020 kita kumpulkan. Kalau sekarang, jumlahnya sudah kurang lebih ada 200 orang,” kata H Syahrir.

Walaupun memiliki banyak cucu dan cicit, namun Hj Andi Cenrara dikatakannya tidak pernah membeda-bedakan. Semua sama diberlakukan selayaknya cucu dan cicit.

Pesan-pesan moral tak henti ia lontarkan kepada semua cucu dan cicitnya. Hal ini ia sampaikan, karena Hj Andi Cenrara adalah seorang ibu rumah tangga yang memang fokus untuk mendidik dan membina anak-anaknya. Bahkan sampai ke cucu dan cicitnya.

“Beliau selalu menyampaikan, kepada anak-anaknya, kepada cucu dan cicitnya untuk selalu bersabar dan bersungguh-sungguh. Rajin belajar dan ingat ibadah,” jelasnya.

Pesan itu selalu disampaikan sejak H Syahrir kecil hingga saat ini.

“Kalau dulu beliau juga selalu berpesan kepada kita, untuk selalu menghargai orang lain. Jangan sekali-sekali menghina orang lain. Dan apa yamg kita lakukan, tekuni,” tambahnya.

Sehingga, pesannya untuk selalu akur ke sesama keluarga, membuat keluarga besarnya hingga saat ini tetap bisa solid dan tidak terpecah.

“Beliau juga selalu berpesan kepada kami keluarganya untuk jangan pernah bertengkar dengan saudara. Peliharalah kebersamaanmu. Saling membantu. Sehingga sesama saudara akan saling menghargai,” imbuhnya.
Almarhumah yang berpulang pada Selasa (21/9) telah dikebumikan di dalam kawasan pesantren, Rabu (22/9). Selamat Jalan Puang Kanang. Semoga husnul khotimah. Aamiin.. (arf-nug)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini