Connect with us

Headline

Saksi Beber Pengusaha Titipan NA

JPU KPK Hadirkan Dua Ajudan Gubernur dan Tiga Karyawan Bank di Persidangan

-

BKM/RAHMAT SAKSI -- Enam orang dihadirkan sebagai saksi di sidang lanjutan dengan terdakwa Gubernur Sulsel Nonaktif HM Nurdin Abdullah di Pengadilan Tipikor Makassar, Kamis, (7/10).

MAKASSAR, BKM — Sidang kasus dugaan korupsi, suap, dan gratifikasi dengan terdakwa Gubernur Sulsel Nonaktif HM Nurdin Abdullah serta mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Edy Rahmat, terus bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar. Kamis (7/10), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) kembali menghadirkan enam orang saksi.

Mereka adalah Sari Pudjiastuti (eks kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel), Syamsul Bahri dan Salman Natsir (ajudan Nurdin Abdullah), Muh Ardi, Miftahul Jannah, dan Asriadi (karyawan Bank Mandiri).
Dalam kesaksiannya, Sari Pudjiastuti mengungkap semua nama kontraktor yang diperintahkan Nurdin Abdullah untuk memenangkan proyek pengerjaan infrastruktur di lingkup Pemprov Sulsel. ”Beliau (Nurdin Abdullah) sampaikan kalau ini (perusahaan) agar diperhatikan. Ada tujuh perusahaan,” kata Sari.
Sari menjelaskan, Nurdin Abdullah mengarahkannnya agar tidak mempersulit kontraktor yang ikut lelang tender proyek pengerjaan infrastruktur tahun 2019-2020. Dia bahkan mengaku dipanggil berulang kali ke rumah jabatan gubernur di Jalan Sungai Tangka, Kota Makassar agar dijaskan siapa orang-orang dimaksud. ”Beliau selalu mau pengerjaan dikerjakan oleh orang-orang terkualifikasi di bidangnya,” ujar Sari.
Nama-nama kontraktor itupun lalu disebutkan oleh Sari Pudjiastuti. Masing-masing Agung Sucipto, kemudian John Teodore, Yusuf Rombe, Tiaw Kwan Sakti Rudy Moha, Haji Momo, Petrus Yalim, Andi Kemal, hingga perempuan bernama Haji Indar. “Dan setelah dapat arahan dari bapak itu baru mereka datang menghadap ke kantor saya,” jelas Sari.
Ada beberapa proyek yang dikerjakan kontraktor sesuai arahan Nurdin Abdullah. Sari menerangkan semua proses yang diminta oleh Nurdin Abdullah akan dikerjakan oleh kontraktor untuk beberapa proyek. Di luar proyek pengerjaan ruas Jalan Palampang, Munte, Bontolempangan, di Kabupaten Sinjai hingga Kabupaten Bulukumba. Mulai dari tahap satu dan dua.

Proyek di sana dikerjakan oleh Agung Sucipto, melalui perusahaannya PT Cahaya Sepang Bulukumba. Semua anggaran proyek itu, menurut Sari, bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Pemulihan Ekonomi Khusus (PEN) sebesar Rp35 miliar.
Selain itu, ada juga proyek infrastruktur lain di Toraja yang dikerjakan kontraktor Yusuf Rombe. Selebihnya sejumlah proyek lain di lingkup Pemprov Sulsel. “Beliau (Nurdin Abdullah) menyampaikan, kalau paket ini, dimenangkan ini. Jadi saya tindaklanjuti arahannya,” ucap Sari.
Berulangkali datang ke rujab gubernur untuk menemui Nurdin Abdullah, seingat Sari, NA menyampaikan arahan itu secara bertahap untuk masing-masing kontraktor. Nurdin mengutus ajudannya Syamsul Bahri untuk memanggil Sari Pudjiastuti. “Kalau tidak salah empat sampai lima kali itu saya dipanggil di rujab, dari Desember 2019 sampai Feberuari 2020,” bebernya.

Setelah arahan dari pimpinannya diterima, Sari kemudian memanggil tim Kelompok Kerja (Pokja) 2 dan 7 untuk melaksanakan instruksi tersebut. “Jadi saya sampaikan sesuai dengan apa yang bapak (Nurdin Abdullah) sampaikan ke saya. Dan pokja mengerti sampai melaksanakan perintah itu,” imbuh Sari.
Lebih lanjut, kata Sari, kontraktor yang jadi prioritas Nurdin Abdullah sempat memberikannya sejumlah uang setelah proyek selesai dikerjakan pada awal 2021. Sari menerima pemberian uang dari Haji Indar sebesar Rp125 juta. “Rp75 juta dulu uang dia pinjam dari saya. Sisanya barangkali tanda terima kasih,” ucapnya.
Kemudian, dia juga mengakui menerima pemberian uang dari Andi Kemal sebesar Rp125 juta, Agung Sucipto Rp60 juta, kemudian dari Haji Momo melalui ajudannya Boy, sebesar Rp100 juta. Setengah dari pemberian uang kontrakor tersebut dia bagikan ke pokja 2 dan 7. “Tapi semua saya sudah setorkan kembali ke KPK,” tandasnya.
Sari Pudjiastuti mengaku diperintahkan Nurdin Abdullah mencari uang opersional sebesar Rp2 miliar. Lebih lanjut, Sari juga mengaku pada Desember 2020 lalu, pernah menghadap ke rujab gubernur untuk bertemu Nurdin Abdullah. Di sana dia kembali menerima perintah dari Nurdin Abdullah. “Disuruh cari Rp2 miliar, katanya bapak (Nurdin Abdullah) untuk biaya opersional,” aku Sari.

Tanpa mempertanyakan maksud dari biaya operasional, Sari melaksanakan perintah pimpiannya itu dengan menemui kembali Haji Momo dan Haji Indar. Dari kedua kontraktor itu, Sari diberikan masing-masing Rp1 miliar. Uang itu kemudian dia serahkan ke Salman Natsir yang telah diperintahkan Nurdin Abdullah.
Sebelum diserahkan ke Nurdin, Salman sempat menutupi kekurangan uang Rp1,6 juta agar mencapai Rp2 miliar. “Uang saya gabung dalam koper kuning. Saya tidak hitung jumlahnya, tapi kata Pak Salman, kurang. Jadi saya minta dia tutupi dulu. Uang Pak Salman saya gantikan Rp10 juta,” tukas Sari.
Sidang yang berlangsung sejak sore baru mendengar kesaksian Sari Pudjiastuti. Menjelang magrib, sidang terhenti akibat gangguan jaringan pada fasilitas virtual yang digunakan, karena terdakwa mengikuti jalannya sidang dari Jakarta. Sidang kemudian ditunda dan dilanjutkan pada pukul 20.00 Wita untuk mendengarkan keterangan saksi lainnya. (mat)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini