Connect with us

Headline

Eks Kacab Bank Mandiri Bakar Buku Tabungan

Uang dari NA Disetor ke Rekening Mike Tanpa Sepengetahuan Pemiliknya

-

MAKASSAR, BKM — Ada sebuah peristiwa yang terjadi setelah Nurdin Abdullah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 27 Februari 2021 lalu. Buku tabungan atas nama Mike langsung dibakar, karena khawatir uang yang disimpan di dalamnya ada kaitannya dengan kasus yang menjerat gubernur Sulsel itu.
Pengakuan tersebut disampaikan Ardi, eks kepala cabang (kacab) Bank Mandiri Panakkukang, Kota Makassar ketika dihadirkan sebagai saksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, Kamis (14/10). Sidang ini mendudukkan Nurdin Abdullah sebagai terdakwa dugaan korupsi, suap, dan gratifikasi proyek infrastruktur di Sulsel.
”Saya langsung bakar buku tabungan itu setelah mengetahui ada OTT KPK. Kaget juga, karena jangan sampai ada kaitannya (dengan kasus Nurdin Abdullah). Iya, khawatir,” ujarnya.
Ardi mengaku, dalam buku tabungan yang dibakarnya itu terdapat sejumlah uang yang pernah disetorkan terdakwa Nurdin Abdullah dan ajudannya Syamsul Bahri. Penyetorannya dilakukan pada pertengahan 2020 lalu.
Ketika dicecar oleh jaksa penuntut umum (JPU) KPK dan majelis hakim terkait alasannya membakar buku tabungan selain takut, Ardi enggan banyak bicara. “Saya tidak tahu. Saya lupa, Pak,” kelitnya.
Saksi hanya berdalih dan mengaku jika ia pernah menerima uang dari Nurdin Abdullah dan Syamsul Bahri. Ia juga pernah diperintah oleh Syamsul Bahri untuk menyetorkan uang sebesar Rp3,5 miliar ke dalam rekening milik Mike. Uang itu kemudian dia jemput dari rumah jabatan gubernur, di Jalan Sungai Tangka, Kota Makassar. “Kemudian saya setorkan langsung sesuai perintahnya,” aku Ardi.

Selain Syamsul, Nurdin Abdullah juga pernah memintanya untuk menyetorkan uang Rp1,1 miliar ke dalam rekening tersebut. Penyetoran tanpa diketahui si pemilik rekening. “Iya, saya tidak pernah konfirmasi ke pemilik itu. Tapi saya setorkan atas nama si pemilik rekening,” ungkap Ardi.
Diakuinya, karena Nurdin Abdullah sebagai nasabah penting, maka pihaknya pun memberikan prioritas. “Saya setorkan tidak lagi isi slip penyetoran, tapi langsung saja dimasukkan di dalam rekening setelah uang dihitung dan dirasa cukup baru disetorkan. Seperti itu prosedurnya,” ujarnya.
Setelah semua uang masuk ke dalam rekening tersebut, dia dihubungi oleh Nurdin Abdullah agar membawa buku rekning dan kartu ATM-nya ke rujab. “Tapi saat saya ke rujab, Bapak (Nurdin) tidak ada. Jadi saya ketemu Pak Syamsul lalu saya titipkan. Itu (buku tabungan dan ATM) tersimpan di amplop,” jelas Ardi.
Meski telah diserahkan, namun dia tak memberitahukan berapa nomor pin dalam kartu ATM tersebut. Dia mengaku khawatir melanggar perintah nasabah prioritasnya, yakni Nurdin Abdullah. Belakangan buku rekening tersebut dikembalikan oleh Syamsul Bahri kepadanya tanpa dia ketahui alasannya.
Ardi mengaku tak mengetahui asal usul sumber uang yang diberikan Syamsul dan Nurdin Abdullah. Dia hanya melaksanakan perintah dari nasabah prioritas. JPU dan majelis hakim juga sempat memperlihatkan kembali berita acara pemeriksaan (BAP) Ardi oleh penyidik KPK. JPU KPK M Asri mengatakan, pembakaran buku tabungan oleh mantan kepala cabang Bank Mandiri itu merupakan bentuk atau upaya untuk terhindar dari masalah. “Ketika dia tidak membakar, nanti penyidik atau petugas KPK nanti bisa mengetahui dan bisa menggali bukti lain,” ungkap Asri saat ditemui di sela persidangan, kemarin.
JPU menganggap langkah itu janggal, mengingat pembakaran tanpa diketahui oleh pemilik rekening. Pembakaran diduga sebagai upaya untuk menghilangkan barang bukti. “Itu kan khawatir. Takut kalau kita menilainya. Dan ada yang memang tidak beres dari (proses) pembukaan rekening itu,” tegas Asri.
Kendati begitu, lanjut Asri, kesaksian Ardi hanya mempertegas dan menyelaraskan alur dari peristiwa pidana yang terjadi. JPU KPK memastikan bahwa uang yang disimpan di rekening atas nama Mike, adalah milik Nurdin Abdullah yang diberikan dari kontraktor.

“Dari keterangannya kita bisa menganalisis ada transaksi oleh Nurdin Abdullah terkait pergantian uang dan pembelian barang melalui anaknya bernama Uji (Fauzi). Uang itu Rp2 miliar. Kita bisa analisa bahwa sumbernya dari uang suap atau gratifikasi, dari keterangan sebelumnya,” tegas Asri.
Sementara saksi lainnya, mantan Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov Sulsel Sari Pudjiastuti, dalam keterangannya mengatakan jika dirinya pernah diminta oleh Nurdin Abdullah untuk mencarikan uang Rp1 miliar guna kegiatan operasional gubernur.

“Ada uang yang diberikan oleh H Momo dan H Indar kepada saya. Jumlahnya sebesar Rp2 miliar,” kata Sari Pudjiastuti.
Lalu, lanjut Sari, uang itu diantar langsung olehnya ke rumah gubernur dan dimasukkan ke dalam koper berwarna kuning.
Selain Ardi dan Sari, saksi lain yang dihadirkan JPU dalam sidang kemarin adalah Miftahul Jannah (teller Bank Mandiri Panakkukang), dan Asriadi (Koordinator Teller Bank Mandiri Cabang Panakkukang), serta Syamsul Bahri dan Salman Natsir. (mat)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini