Connect with us

Headline

Besar Tanpa Marketing, Bertahan Kala Pandemi

Habbabul Jannah, Pengusaha Katering Emmy Saelan dan Ketua APJI Makassar

-

BANYAK kalangan usaha yang sangat bergantung pada marketing untuk memasarkan produknya. Hal itu dianggap penting agar sebuah hasil produksi bisa laku di pasaran. Namun, Habbabul Jannah tidak masuk di dalamnya. Ia mampu membawa usahanya seperti saat ini walau tanpa tenaga pemasaran khusus. Bagaimana caranya?

DALAM siniar (podcast) yang tayang di kanal Youtube Berita Kota Makassar, perempuan berhijab itu berbagi kisah tentang perjalanan usaha Katering Emmy Saelan miliknya. Ia merintisnya mulai dari sebuah warung makan di tahun 2004. Selang 10 tahun kemudian, wanita yang akrab disapa Babul itu mengembangkan usahanya menjadi katering.
”Awalnya warung makan kami menyiapkan makanan khusus bagi mahasiswa. Kan di sekitar tempat tinggal banyak orang yang kuliah. Alhamdulillah, bisnis kecil-kecilan kami itu kemudian berkembang. Mahasiswa banyak yang memesan dan makan di tempat kami,” tuturnya.

Seiring perjalanan waktu, mahasiswa tersebut sudah banyak yang sarjana. Banyak pula yang kemudian bertemu jodoh. Mereka lalu menghubungi Babul untuk melayani konsumsi di pesta pernikahannya.
”Dari situ saya berpikir kenapa saya tidak buat katering saja. Apalagi saya kan selama ini memang sudah senang memasak,” ujarnya sambil tertawa ringan.
Diakui Babul, dalam bisnis katering, yang ditawarkan adalah citarasa berbeda. Dengan model seperti itu, konsumen akan memesan berulang-ulang hingg akhirnya menjadi langganan tetap.
Yang menarik dari penjelasan Babul, ia tidak punya tenaga marketing khusus untuk menawarkan produk ke konsumen. Dirinya berharap bahwa konsumen yang dilayaninya dengan baik akan menjadi bagian dari pemasaran yang efektif. Mereka menyampaikan informasi tentang makanan yang disajikan Katering Emmy Saelan hingga dikenal masyarakat secara luas.
”Kami tidak hanya melayani konsumen yang ada di Makassar. Tapi sudah sampai ke Jeneponto dan Parepare. Karena untuk jarak seperti ini kami bisa mempertahankan kualitas masakan agar tetap fresh saat dinikmati,” terangnya.
Hal lain yang diterapkan Babul adalah tidak sekadar menjanjikan sesuatu atau PHP (pemberi harapan palsu). Dengan harga yang relatif terjangkau, Babul berusaha memberikan layanan terbaik dan amanah. Hal ini menjadi salah satu kunci untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari pelanggan.

Selain itu, Katering Emmy Saelan juga menggunakan bahan yang fresh. Termasuk telah mengantongi sertifikat halal.
Ditanya tentang dampak pandemi covid-19 terhadap usahanya, Babul mengaku cukup merasakan hal itu. Namun, Allah Maha Bijaksana. Di tengah kondisi tidak ada event yang bisa dilaksanakan akibat penerapan peraturan guna menghindari penyebaran virus corona, ada kerja sama yang ditawarkan dari lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT).
”Kami bekerja sama dengan ACT sebagai bagian dari upaya membantu pengusaha yang terdampak pandemi. Kami diminta menyediakan nasi dos untuk kemudian dibagi-bagikan. Ini dilakukan secara begilir dengan pengusaha lain,” jelas Babul.
Perempuan yang dulunya bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS) ini, menyebut bahwa kondisi saat ini perlahan mulai normal. Semenjak adanya kebijakan pemerintah yang memperbolehkan pelaksanaan even besar, perlahan-lahan acara pesta penikahan di gedung kembali menggeliat. Sementara acara seperti ini menjadi event yang banyak memesan makanan ke Katering Emmy Saelan, disamping akikah serta syukuran.

Sebagai pemilik usaha katering, Babul kini dipercaya sebagai ketua Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Kota Makassar. Dia pun mengakui pandemi telah berdampak pada keseluruhan anggotanya. Pendapatan mereka dari usaha katering tidak ada sama sekali. Bahkan ada di antaranya yang terpaksa gulung tikar.
Guna mengisi waktu yang ada, APJI Makassar memanfaatkannya untuk belajar, dengan harapan semoga setelah pandemi berakhir ada ilmu yang bisa dikembangkan. Sejumlah pelatihan bagi anggota yang digelar. Di antaranya terkait higienitas makanan yang disajikan, serta pelatihan pembuatan tumpeng dengan mendatangkan tenaga pengajar khusus.
”Anggota APJI Kota Makassar saat ini kurang lebih 200. Selama pandemi mereka sama sekali tidak punya pemasukan dari usaha katering. Beruntung ada beberapa teman yang rezekinya masih bagus, biasa memesan nasi kotak untuk disalurkan ke orang-orang yang membutuhkan,” tandasnya.

Babul melihat kini sudah ada harapan bisnis katering untuk hidup kembali seperti dulu. Diizinkannya pelaksanaan event besar di gedung-gedung dan hotel, menjadi penandanya. Bahkan sudah ada beberapa pemesanan yang telah dilayani. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini