Connect with us

Headline

Dirikan RS Baru dan Bangun Jalan Sepanjang 150 Km

Pengembangan Kawasan Wisata Tongke-tongke Jadi Program Unggulan Bupati ASA

-

SINJAI, BKM — Sudah dua tahun lebih Andi Seto Gadhista Asapa menakhodai Kabupaten Sinjai. Bupati yang akrab disapa ASA sebagai akronim namanya ini, telah melaksanakan sejumlah program yang telah disusun. Ia memaparkannya dalam kanal Youtube Berita Kota Makassar yang telah tayang dan mendapat antusias penonton untuk menyaksikannya.
Mengambil latar belakang kawasan wisata magrove di Desa Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur, ASA menjelaskan tentang program yang telah dan akan dilaksanakannya. Termasuk tentang lokasi wisata mangrove Tongke-tongke.
Menurutnya, mangrove di Tongke-tongke pertama kali ditanam oleh seorang warga di desa ini pada tahun 1980-an. Sejak saat itu banyak warga lain yang ikut menanam. Hingga pada saat ini hutan mangrove berjejer sepanjang 13 km di pesisir tiga desa.

”Pengembangannya kawasan ini dilakukan oleh tiga bupati secara berkesinambungan. Mulai dari Andi Rudiyanto Asapa (ayah dari Andi Seto), periode Sabirin Yahya, hingga saya sekarang ini,” ujar Andi Seto.
Salah satu hasilnya, di kawasan ini telah dibuat akses jalan bagi pengunjung yang panjangnya kurang lebih 1 km. Ada banyak spot yang bisa dimanfaatkan untuk berswafoto. Retribusi masuk tergolong murah, yakni Rp5.000 per orang. Dari lokasi ini, Kecamatan Pulau Sembilan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sinjai, bisa terlihat secara jelas.
Diakui ASA, Tongke-tongke menjadi satu dari tiga kawasan wisata yang menjadi unggulan. Dua lainnya adalah Air Terjun Kembar serta Taman Hutan Raya (Tahura).
Selain itu, selama dua tahun menjabat, fokus ASA adalah pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia, serta bidang kesehatan. Tahun ini dibangun rumah sakit (RS) tipe D di wilayah Sinjai Selatan dan menjadi prioritas. Hal itu sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sebab RS yang ada saat ini berada di Sinjai Utara, sehingga butuh waktu tempuh cukup lama untuk sampai.
Di pemerintahan ASA juga dibangun sentra industri serta peternakan. Hal tersebut dilakukan mengingat Sinjai memiliki cukup banyak ternak sapi. Andi Seto meyebut angka 140 ribu ekor sapi ada di wilayah ini.
”Untuk itu kita membangun sentra peternakan serta workshop bagi pelaku usaha. Di workshop itu bisa mengolah daging menjadi makanan siap saji. Kita beri kesempatan kepada peternak darn warga untuk masuk. Kita juga bangun rumah potong hewan (RPH) yang lokasinya berdampingan, sehingga terintegrasi. Daging ternak yang sudah dipotong bisa langsung diolah di tempat ini,” terangnya.

Pemkab Sinjai juga telah membangun sentra industri lokasi. Karena daerah ini memiliki banyak tenaga terampil dalam pengolahan logam. Mereka biasanya membuat parang, pisau serta peralatan pertanian yang terbuat dari logam.
”Ada dua desa di salah satu kecamatan, yaitu Bulupoddo rata-rata warganya pekerja logam. Di situ kita buatkan workshop. Jumlahnya kurang lebih 50,” jelas Andi Seto.
Di bidang pendidikan, Pemkab Sinjai melaksanakannya secara paripurna. Biaya sekolah yang gratis, menurut ASA sudah biasa dan banyak dilakukan daerah lain. Pihaknya menambah program gratis bagi pelajar di daerah ini. Mereka mendapatkan seragam dan perlengkapan sekolah secara cuma-cuma. Dengan begitu, orangtua tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membiayai anaknya yang hendak masuk sekolah. Persoalan biaya ini kerap menjadi sehingga orangtua untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya.
Di tengah pandemi, Pemkab Sinjai terus mendorong geliat ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan memberdayakan pemilik usaha lokal untuk menjahit seragam sekolah. Kebijakan ini mampu menempatkan pertumbuhan ekonomi Sinjai pada angka yang plus, bukan minus.
Di sektor keagamaan, pemkab juga memberikan insentif kepada mereka yang bekerja dan mengelola bidang keagamaaan. Disiapkan dana hibah bagi pesantren. Nilainya antara Rp30 juta hingga Rp50 juta per pesentren. Di Sinjai terdapat 21 pesentren.
Ada pula program mendidik penghafal Qur’an di pesentren. Pemkab membiayai kebutuhan makan dan minum mereka. Saat ini ada 60 lebih hafiz yang dibiayai.
Melalui program yang dilaksanakan, ASA menyebut sudah cukup banyak masyarakat yang terbantu. Hal itu berpengaruh pada terjadinya penurunkan angka warga miskin. Dari sebelumnya 9,2 persen, kini berada di angka 9 persen. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini