Connect with us

Headline

Penyandang Disabilitas yang Sukses Kelola Bank Sampah

Ali Topan, Peraih Penghargaan KLHK Kategori Pemuda Inspiratif untuk Advokasi Lingkungan

-

MENYANDANG predikat disabilitas tak jarang membuat seseorang tak lagi bersemangat untuk menjalani hidup. Apalagi itu didapatkan dari sebuah peristiwa kecelakaan ketika bekerja.
Namun tidak bagi Ali Topan. Didampingi istri Sintya Rahmawati Usman dan putri semata wayangnya, Ali menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dalam upaya memotivasi masyarakat agar peduli dengan lingkungan, khususnya dalam mengelola sampah.

Hadir di studio mini Berita Kota Makassar lantai III Gedung Graha Pena, Minggu (17/10), Ali Topan bersama istri yang akrab disapa Eca, berkisah tentang perjalanan yang telah mereka lalui. Ali Topan telah melewati berbagai rintangan serta kendala untuk bisa sampai di titik sekarang ini, hingga akhirnya meraih penghargaan sebagai Pemuda Inspiratif untuk Advokasi Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHKN)
Diceritakan Ali, berkegiatan terkait lingkungan sebenarnya ia awali di tahun 2005. Kala itu ia hanya menggelar aksi bersih-bersih. Ali kemudian mendapat kenyataan bahwa ini tidak memiliki dampak. Karena aktivitasnya hanya memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Di tahun 2019 kemudian tercestulah ide untuk membuat bank sampah. Tujuannya untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar peduli terhadap lingkungan, minimal memulainya dengan mengolah sampah yang ada.
”Dengan bank sampah ini kami punya program ampah tukar emas dan gerakan sedekah sampah. Kan selama ini hampir semua orang mempersepsikan apa gunanya itu sampah. Padahal banyak manfaat yang bisa diperoleh bilah kita mau mengelolanya,” ujarnya.
Misalnya, melalui program sedekah sampah, jika ada hasilnya kita bawa ke fakir miskin. Begitu pula dengan program sampah ditukar emas. Warga yang menyetor sampahnya ke bank sampah kemudian dicatat di buku tabungan. Jika nilainya sudah mencukupi bisa ditukar dengan emas. Ali dan istri telah menjalin kerja sama dengan perusahaan emas mini untuk mendukung programnya ini.
Diakui Ali, tidak mudah untuk mengajak orang lain agar peduli terhadap masalah sampah. Namun, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Di akhir tahun 2020 Ali bisa mewujudkan keinginannya untuk mendapatkan kendaraan roda tiga guna mendukung aktivitas kesehariannya.
Yang menarik dari pasangan ini, mereka sama sekali tidak pernah meminta support anggaran secara langsung dari pemerintah. Ali punya alasannya.
”Saya selalu sampaikan ke teman-teman, jangan pernah berburu anggaran. Karena kalau dengan cara seperti itu nanti bisa berkegiatan kalau ada anggaran. Bagaimana kalau tidak ada anggaran, tidak lagi bekerja. Sementara kerja-kerja seperti ini harus berkesinambungan. Kalaupun kemudian dalam prosesnya ada anggaran yang dikasih tanpa diminta, itu kami anggap sebagai bonus,” bebernya.

Kerja-kerja Ali dalam mengurusi sampah sempat terhenti selama setahun. Ia vakum usai mengalami kecelakaan kerja. Honorer di Pemadam Kebakaran Pemkab Pinrang ini terjatuh dari tower dengan ketinggian 15 meter.
”Waktu itu saya mesti dibantu oleh istri. Setelah sempat vakum setahun, saya kembali beraktivitas, tentu tidak bisa seperti dulu lagi. Saya harus dipapah dan ditandu ketika hendak memberikan motivasi ke teman-teman. Saya tidak pernah mengeluh dengan keadaan saya seperti sekarang. Ini adalah ujian bagi saya,” kata Ali yang menderita lumpuh total di kedua kakinya akibat saraf terjepit di tulang belakang.
Keikhlasan pasutri ini dalam mengurusi sampah akhirnya berbuah kepedulian. Sebuah perusahaan melalui program corporate social responsibility (CSR) memberikan bantuan satu unit kendaraan bermotor tiga roda. Alat transportasi inilah yang digunakan oleh Ali dalam mendukung kegiatan sehari-harinya, walau dengan kondisi kaki yang tak lagi normal.

Sintya alias Eca yang mendampingi suaminya, berkisah bahwa awalnya mereka sempat mendapat ‘tentangan’ dari pihak keluarga. Katanya, buat apa mengurus sampah yang kotor. Namun, hal itu tak terlalu dihiraukan. Mereka tetap melanjutkan langkah pada jalan yang telah dipilih.
”Kami bertiga dengan suami dan anak datang ke sebuah rumah di Sidrap untuk belajar pengolahan sampah. Tidak pernah berhenti, kami lanjut lagi ke Makassar juga untuk belajar masalah sampah,” ungkap Eca.
Menurutnya, ada perjuangan berat yang mereka lalui untuk bisa sampai seperti sekarang. Karenanya, ia ingin agar orang lain tidak sekadar melihat pencapaian yang telah diraih saat ini.
”Dulu kami selalu naik motor ke mana-mana. Kalau hujan kehujanan. Saya juga biasa bonceng suami, sebelum ada motor tiga roda. Begitu juga waktu kecelakaan, tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya gendong, mandikan dan saat buang air. Untuk makan sehari-hari juga sangat susah. Apalagi dia adalah tulang punggung keluarga. Tapi Alhamdulillah, banyak teman-teman yang datang membantu,” jelas Eca. Air bening mengalir dari kedua bola matanya, yang sesekali diusapnya.

Kepedulian terhadap Ali dalam mengolah sampah datang dari Komisi III DPR RI di tahun 2019. Bonus CSR sebuah perusahaan disalurkan sebesar Rp75 juta. Dana itulah yang kemudian digunakan untuk membeli motor roda tiga. Selanjutnya, tahun ini mendapat bantuan mesin press seharga Rp120 juta.
Diakui Ali, saat ini bank sampah di Pinrang belum banyak. Baru delapan unit. Walau begitu, ia tetap terus mengedukasi masyarakat. Karena ia optimistis jumlah bank sampah akan terus bertambah. Apalagi gubernur dan bupati Pinrang telah mendatangani pencanangan satu desa/keluarahan satu bank sampah.
Namun, ada permintaan yang disampaikan Ali. Ia tidak ingin bank sampah dikelolah oleh orang-orang yang tidak ikhlas. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini