Connect with us

Gojentakmapan

Saat Isolasi Tetap Layani Aduan, Dua Kali Dorong Ambulance Mogok

Kisah dr Gaffar, Jubir Satgas Gugus Covid-19 Gowa Selama Pandemi

-

BKM/SAR dr Gaffar

SEJAK covid-19 merebak dan menjadi pandemi pada Januari 2020, seluruh wilayah baik kabupaten kota di Sulawesi Selatan waspada. Kewaspadaan makin ditingkatkan manakala covid-19 naik menjadi level empat (di Makassar) dan level tiga di Kabupaten Gowa.

LAPORAN: SARIBULANG

Kondisi naik level penyebaran covid-19 gelombang kedua kemarin membuat seluruh penghuni Kabupaten Gowa waspada tingkat tinggi. Bahkan disertai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM hingga kali keempat. Namun alhamdulilah, ungkapan syukur ini digaungkan masyarakat setelah level penyebaran covid-19 turun menjadi level dua dari level tiga beberapa bulan lalu.
Meski kondisi ini sudah mulai membaik, namun masyarakat masih diimbau tetap konsisten dan disiplin prokes. Tak boleh abai. Inilah yang dilakukan salah satu garda terdepan penanganan covid-19 di Gowa yakni, dr Gaffar.
Sosok dokter berperangai ramah yang dipercayakan menjadi juru bicara Satuan Tugas Gugus Penanganan Covid-19 Kabupaten Gowa adalah orang paling sibuk mengurusi penanganan covid selama masa pandemi. Nyaris tak ada waktu istrahat. Dia hanya memanfaatkan tidur ketika ada waktu 3-4 jam untuk lelap sejenak.
Sebagai manusia biasa, dr Gaffar yang juga adalah Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa mengaku punya keterbatasan dalam menangani bertubi-tubinya rongrongan covid-19 ini.
Bahkan dia mengaku sempat kehilangan waktu sekadar ngumpul makan bersama keluarganya. Untungnya, kata Gaffar, keluarganya paham betul tugas-tugasnya sebagai dokter dan sebagai bagian dari Satgas Covid-19 ini. Terutama istrinya, Santi Fitriani yang bergelut dibidang pertanian.
Menurut Gaffar, beruntung juga selama pandemi, dia dan keluarganya beda rumah. Dimana dr Gaffar selama tugas di ibukota kabupaten menetap di Kelurahan Bonto-bontoa. Istrinya beraktivitas sektor pertanian di wilayah Kanreapia, Kecamatan Tinggimoncong (Malino).

Sementara anaknya tiga orang, satunya kuliah di UNM Makassar, satunya di Airlangga dan yang ketiga ada di pesantren sehingga menguntungkan juga bagi dirinya untuk minim berinteraksi secara langsung. Anaknya yang keempat (bungsu) dan masih SD bersama ibunya (istrinya) di Malino, tepatnya di Desa Kanreapia.
Sehingga menurutnya, ada manfaatnya juga ritme pertemuan selama pandemi agak kurang. Tentunya kemungkinan terimbas reaktif covid, jauh. Apalagi, kata Gaffar, dirinya sempat positif akibat rutinnya interaksi dengan masyarakat yang reaktif. Bahkan yang jadi pasien covid-19. Saat terpapar itulah dirinya tak lepas tanggung jawab sebagai satgas. Dokter yang dikenal ramah dan cepat respon bila dihubungi ini mengaku, sempat melakukan isolasi mandiri dirumahnya.
Kendati isolasi mandiri dan harus lebih banyak istrahat, ratusan aduan masuk ke ponselnya yang aktif setiap saat, apalagi untuk call centre. Yang paling riskan jika aduan itu berkaitan proses pemakaman korban meninggal Covid-19. Apalagi ketika marak-maraknya penolakan pemakaman dan sebagainya.
Dan yang paling memicu emosi hati adalah ketika menerima aduan melalui call centre dari pihak yang meninggal keluarganya. Dimana penelpon itu menyudutkan dr Gaffar pada posisi demikian. Karenanya, Gaffar kerap ikut menangis bersama si penelpon. Dirinya ikut larut dalam emosi saat digiring ke suasana mencekam sedemikian rupa.
”Tapi, masyarakat tak perlu tahu saya sedang isolasi. Mereka tetap harus saya respon setiap kali menelpon tentang pelayanan di masa pandemi apalagi jika ada yang sampai terpapar. Respon cepat inilah harus saya utamakan sebab ini adalah tanggung jawab saya, ” ungkap Gaffar yang sudah menjalani PCR sebanyak tujuh kali dan tetap negatif.

Hanya saja, dia selalu bersyukur sebab hanya sekali dia sempat terpapar saat itu dan setelah itu kewaspadaannya lebih tinggi lagi. Namun tetap menjalankan tugas sebagai Satgas.
”Pada saat puncak-puncaknya kasus covid terutama awal-awal pandemi dan gelombang kedua, saya sampaikan ke ibu di rumah, sepertinya masyarakat tidak perlu tau kondisi saya. Disaat saya isolasi mandiri dan bergejala saya perlu ‘hadir’ melayani warga yang membutuhkan semaksimal mungkin. Padahal pada saat itu saya belum dapat tidur di malam hari, atau kondisi saya lagi bergejala atau kurang sehat,. Tapi itulah risiko dari tanggung jawab moril saya selaku dokter yang menjadi satgas. Disaat saya lemah, saya tetap melayani dan mengawal masyarakat sampai ada solusi dari setiap permintaan layanan maupun pengawalan terutama terkait pengawal penegakan kasus dan jenazah covid,” papar Gaffar.
Apalagi diakuinya, dukungan sarana dan prasarana terutama dalam mendukung proses layanan yang ada, tidak semua langsung tersedia.

”Namun semua itu saya anggap adalah tantangan dalam proses layanan dan Alhamdulillah, solusi selalu saja ada, selalu ada solusi di setiap persoalan yang ada. Saya tidak pernah lupa, saya senantiasa minta perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT,” kata Gaffar.
Diapun teringat ketika disaat puncak-puncak penyebaran covid-19, dia harus mendorong sendiri mobil ambulance. Baginya ini adalah pengalaman sangat berarti, apalagi mendorong dengan mengenakan baju APD lengkap.
”Saya mendorong ambulance dua kali. Satu kali saat dari rumah sakit di Makassar menuju pemakaman di Gowa dan satu kali juga saat membawa pasien Covid kritis dari Gowa ke Makassar. Betul-betul kenangan dan ini sejarah bagi saya. Sejarah tentang pandemi Covid dan sejarah tentang banyak hal yang terjadi yang saya lakukan di luar dugaan, di luar ekspektasi. Ini semua hikmah hidup,” kenangnya.

Sebagai kepala keluarga tentu kekuatiran terhadap keselamatan anak istri selalu ada. Sehingga meski berjauhan, setiap saat ada waktu senggang, Gaffar berkomunikasi kepada istri dan anak untuk mengecek kondisinya.
”Saya tanyakan kondisi, apa reaktif atau tidak. Dan Alhamdulillah, istri saya dan anak-anak saya selalu dilindungi. Jadi saya intens komunikasi ke mereka untuk mengetahui kondisi mereka,” kata Gaffar.
Baginya masa pandemi ini adalah pengalaman bersejarah baginya, penuh tantangan menghadapi tangisan bahkan histeris keluarga yang terpapar covid-19.

”Dari perjalanan pandemi ini, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan disamping ilmu kedokteran saya betul-betul tertantang dengan kondisi sosial masyarakat yang menjadi korban covid. Kita tidak tau sampai kapan pandemi ini mewabah. Karena itu sebagai manusia saya ingatkan kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada sebab covid tidak hanya meruntuhkan ekonomi, meruntuhkan keimanan tapi juga membuat derita yang mendalam jika kita kehilangan anggota keluarga. Mari kita disiplin menggunakan masker, disiplin menjalankan prokes dan mari kita vaksin agar kita punya antibodi yang kuat untuk menolak virus corona ini,” kata Gaffar mengingatkan. (*)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini