Connect with us

Headline

Jokowi: Tak Ada Lagi Banjir di Jeneponto

Bendungan Karaloe Diresmikan, Petani Bisa Panen Dua Kali Setahun

-

GOWA, BKM — Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) meresmikan operasional bendungan Karaloe di Desa Garing, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, Selasa (23/11) pukul 10.20 Wita.

Jokowi mengatakan, dengan dimanfaatkannya bendungan dengan luasan 7.000 hektare lahan yang diairi, akan membawa dampak besar bagi segenap masyarakat Kabupaten Jeneponto selaku penerima manfaat.

“Dengan hadirnya bendungan ini, saya harap petani sudah bisa melakukan panen padi dan palawija dua kali setahun. Selain itu, dengan kehadiran bendungan Karaloe ini, maka tidak akan ada lagi banjir yang melanda Jeneponto. Seperti pada tahun 2019 lalu, Jeneponto mengalami banjir yang cukup besar. Semoga kehadiran bendungan ini banjir tersebut tidak lagi terjadi,” ujar Jokowi di sela meresmikan bendungan.
Peresmian ditandai dengan memutar roda pintu air bendungan Karaloe, disaksikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, dan Wali Kota Parepare HM Taufan Pawe.

Jokowi mengatakan, bendungan Karaloe yang dibangun menghabiskan anggaran sebesar Rp1,27 triliun ini, telah selesai dan diresmikan pengoperasiannya.

Bendungan yang nantinya bisa mengairi area persawahan seluas 7.000 hektare di Kabupaten Jeneponto, tentu menjadi berkah bagi masyarakat Jeneponto.

Dikatakan Jokowi, fisik bendungan Karaloe ini ada di Kabupaten Gowa, namun yang mendapatkan dan merasakan manfaatnya adalah Kabupaten Jeneponto.

“7.000 hektare adalah sebuah luasan yang besar sekali. Dengan adanya bendungan ini petani yang dulu hanya bisa panen padi sekali maupun palawija, kini bisa panen dua kali. Bendungan ini juga mengurangi banjir di Jeneponto sebesar 49 persen. Ini memberikan dampak yang baik, karena airnya dimanej dari bendungan Karaloe ini. Dan juga pemanfaatan bagi pembangkit listrik, air baku dan semuanya diperuntukkan bagi masyarakat, ” kata Jokowi.

Bagi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, kedatangannya ke lokasi bendungan bukan yang pertama kali. Sebelum diresmikan, dirinya sempat melihat langsung progress pembangunan bendungan ini. Pada setahun lalu, atau tepatnya 21 November 2020, kala itu Andi Sudirman masih sebagai wakil gubernur Sulsel meninjau langsung progres pembangunannya.
“Alhamdulillah, Bapak Presiden Jokowi telah meresmikan bendungan Karaloe. Diharapkan hadirnya bendungan ini mampu meningkatkan hasil pertanian yang akan berdampak pada kesejahteraan petani. Ini juga mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional,” kata Andi Sudirman

Sementara itu, d

i sela peninjauan kondisi kawasan bendungan Karaloe mendampingi Presiden RI Joko Widodo, Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan merasa bersyukur karena megaproyek nasional yang dibangun sejak 2014 lalu ini, kini sudah selesai dan mulai dioperasikan pada 2021 ini.

Adnan mengatakan, bendungan Karaloe ini berada di dua kecamatan di Gowa, yakni Kecamatan Biringbulu dan Tompobulu.
Diakuinya, meski lokasi bendungan mengambil wilayah dua kecamatan di Gowa dan hasilnya dinikmati masyarakat kabupaten lain, namun Adnan menegaskan itu adalah sebuah berkah. Karena walau akan dinikmati oleh masyarakat Jeneponto, sudah tentu akan berimbas pula manfaatnya kepada masyarakat di Gowa. Salah satunya, kawasan bendungan Karaloe ini akan menjadi salah satu potensi wisata air di Gowa.

“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur karena pembangunan bendungan ini butuh delapan tahun pengerjaan. Kenapa delapan tahun? Karena sempat terhenti tiga tahun, dan hari ini sudah diresmikan. Ini menunjukkan komitmen dari Bapak Presiden untuk terus meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Ya, 100 persen lokasinya berada di Gowa dan aliran bendungan ini untuk Jeneponto, tapi itu tidak jadi masalah. Karena ini bagian dari Sulsel dan kita komitmen untuk sama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan kami atas nama pemkab dan masyarakat Gowa menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden dan Menteri PUPR yang telah membuat bendungan ini,” tandas Adnan.

Bupati juga mengatakan, selain bendungan Karaloe, masih ada lagi satu bendungan akan dibangun di Gowa, yakni bendungan Jenelata. Proyek ini sudah dalam persiapan pembangunan yang juga dilakukan juga oleh pemerintah pusat.

“Semoga bendungan Jenelata itu segera dibangun dan juga bisa diresmikan oleh Bapak Presiden nanti. Khusus bendungan Jenelata ini, nantinya 100 persen akan dinikmati seutuhnya oleh masyarakat Gowa. Letaknya di Kecamatan Manuju,” jelas Adnan. (sar-jun)

Didampingi Empat Politisi Golkar

Sedikitnya empat politisi Partai Golkar hadir menyambut dan mendampingi Presiden RI Joko Widodo saat meresmikan bendungan Karalloe yang terletak di perbatasan dua kabupaten, Gowa dan Jeneponto, kemarin.
Mereka adalah Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto dalam kapasitasnya selaku Menteri Koordinator Perekonomian dan Perdagangan, Ketua Golkar Sulsel HM Taufan Pawe (TP) selaku Wali Kota Parepare, Ketua DPD II Golkar Jeneponto dalam kapasitasnya selaku Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, serta Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan.
Soal kehadiran TP, juru bicara Golkar Sulsel Zulham Arif mengemukakan bila Pak Airlangga, Senin (22/11) menelepon, meminta agar TP hadir untuk mendampingi. “Khusus beliau (TP) dalam acara peresmian bendungan Karalloe, sekaligus melaporkan progres Institute Teknologi Habibie (ITH), yang alhamdulillah sudah ada rektornya. Pak Presiden memang punya atensi khusus akan hadirnya ITH,” ujar Zulham Arif.
Kunjungan Presiden Jokowi di Sulsel yang didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, juga disambut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, serta politisi Partai Gerindra yang kini tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan Aras, serta anggota Fraksi PPP DPR RI Dr HM Aras.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dilaporkan tidak hadir. Tak hanya itu, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan politisi Nasdem dan PKB juga tidak terlihat hadir dalam peresmian megaproyek ini.
Bendungan Karaloe mulai dibangun Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jenebarang, Ditjen Sumber Daya Air sejak Desember 2013. Dengan luas genangan 248,50 hektare, suplai air bendungan ini akan digunakan untuk mengairi lahan irigasi seluas 7.000 hektare, sumber air baku 440 liter/detik, pembangkit listrik mikrohidro 4,5 MW, dan pengendali banjir untuk Kabupaten Gowa sebesar 49 m3/detik.
Selain berfungsi sebagai konservasi air, bendungan Karaloe juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata karena di sekelilingnya terdapat hutan sehingga udaranya masih sejuk dan bersih. Bendungan ini memang salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diharapkan mampu menambah pendapatan masyarakat yang lebih produktif.
“Masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa, kini memiliki satu kebanggaan yang patut kita jaga dan lestarikan bersama, yaitu bendungan Karalloe yang telah diresmikan Bapak Presiden Joko Widodo. Bendungan ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak produksi pertanian agar semakin meningkat,” ujar anggota Fraksi PPP DPR RI Dr HM Aras.
Sebagai informasi, konstruksi bendungan Karalloe terbagi dalam dua paket. Yakni paket I berupa pembangunan bendungan utama, bangunan pelimpah, relokasi dan rehabilitasi jalan menuju bendungan, dan terowongan pengelak. Kontraktor pelaksana pekerjaan yaitu PT Nindya Karya (Persero). Biaya konstruksi bersumber dari APBN dengan kontrak tahun jamak (multi-years contract) Tahun 2013-2019 sebesar Rp 568 miliar.
Kemudian, paket II merupakan lanjutan paket I yang dikucurkan sebesar Rp 657 miliar bersumber dari APBN 2008-2020. Pekerjaannya meliputi timbunan tubuh bendungan, proteksi galian, intake, instrumentasi, hidromekanikal, serta pembangunan instrumen yang bersifat mekanikal dan elektrik dengan kontraktor KSO (kerja sama operasional) PT Nindya Karya (Persero) dan PT MMU Bukit Rejeki.

“Hal ini terjadi karena berkat kerja bersama yang aktif antara pemerintah daerah, pemerintah pusat dengan kami di Komisi V DPR RI. Sehingga mampu mendorong proyek bendungan Karalloe ini bisa diselesaikan sesuai dengan target yang telah dijadwalkan. Dengan alokasi anggaran yang cukup besar yaitu total Rp1,225 triliun yang dikucurkan secara dua tahap itu tentu menjadikan kualitas konstruksi bendungan sangat kuat,”sambung Aras.

Presiden Joko Widodo sangat berharap bahwa bendungan Karraloe mampu menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan. Dengan adanya sistem pengairan yang lebih baik ini, membuat para petani tidak perlu lagi khawatir terhadap pengairan sawah dan ladangnya.
“Selain membantu program ketahanan pangan daerah, sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo, dengan adanya bendungan ini semoga bisa menyerap wisatawan lokal sehingga mampu memberikan pemasukan daerah yang lebih besar lagi. Dengan harapan destinasi wisata itu dikelola dengan baik oleh pemerintah, agar hasilnya bisa dimanfaatkan lagi untuk pemeliharaan dan pengembangan sektor lainnya. Namun, yang harus menjadi perhatian bersama adalah kewajiban kita dalam menjaga alam dan lingkungan agar tetap lestasi. Itu yang harus diutamakan,” tutup HM Aras. (rif)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini