Connect with us

Bisnis

PT Vale Bertransformasi, Bangun Kepercayaan dan Tumbuh Lebih Kuat Untuk Capai Hasil Berkelanjutan

-

PENAMBANGAN -- Alat berat milik PT Vale Indonesia Tbk sedang melakukan penambangan nikel.

MENJAGA keberlanjutan pada suatu usaha pertambangan, memang menjadi pertimbangan utama bagi setiap perusahaan pertambangan kala akan memulai usahanya. Karena usaha ini memerlukan modal tidak sedikit.
Sehingga tentu membutuhkan sentuhan-sentuhan program yang tidak saja akan memberi nilai plus kepada daerah. Juga kepada masyarakat di sekitar areal pertambangan. Terutama dalam hal memperlancar roda perekonomian masyarakat dan meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja.
Dan hal ini disadari betul PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale). Sehingga hampir seluruh program yang dibuat bermuara pada membangun sinergitas antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah. Dimana, sinergitas tersebut telah menciptakan keuntungan kepada masing-masing pihak.
Dengan pola kerja seperti ini tentu saja menjadi modal besar bagi PT Vale untuk menjaga kesinambungan usaha pertambangan yang dilakukannya. Karena ini tentu saja akan meningkatkan kepercayaan pemerintah di daerah maupun pusat, jika PT Vale adalah perusahaan pertambangan yang baik.

Bangun Pabrik Pengolahan Nikel

Sebagai salah satu upaya dalam menunjang pertambangan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Pulau Sulawesi, PT Vale segera merealisasikan proyek pembangunan pabrik pengolahan bijih nikel di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Pembangunan pabrik ini adalah untuk mewujudkan komitmen investasi sesuai amandemen Kontrak Karya.
Untuk merealisasikan proyek ini, PT Vale menggandeng dua mitra kerjanya, Taiyuan Iron & Steel (Grup) Co., Ltd (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology Co., Ltd (Xinhai).
Bahkan, mereka telah menandatangani dokumen perjanjian kerangka kerjasama proyek (PCFA) untuk fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah pada 24 Juni 2021.
Fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah akan terdiri dari delapan lini Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dengan perkiraan produksi sebesar 73.000 metrik ton nikel per tahun beserta fasilitas pendukungnya.
Proyek Bahodopi meliputi Kontrak Karya PT Vale seluas 16,395 hektare di Blok 2 dan Blok 3 Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Proyek Bahodopi ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu proyek penambangan yang dilakukan PT Vale dan pembangunan pabrik pengolahan atau smelter yang akan dilakukan perusahan patungan yang dibentuk PT Vale, Tisco, dan Xinhai.
Saat ini, studi tahap akhir sedang dijalankan untuk memastikan kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan aman, layak secara ekonomis. Sekaligus memastikan ketersediaan pasokan material bijih nikel ke pabrik pengolahan.
Bahkan, PT Vale bersama partnernya telah melakukan tahapan studi lanjutan untuk pembangunan pabrik pengolahan nikel beserta fasilitas pendukungnya di Sambalagi, Kabupaten Morowali.
Nantinya, material bijih dari area penambangan di Bahodopi Blok 2 dan 3 akan diangkut menggunakan transportasi laut ke lokasi pabrik di Sambalagi. Proses pengurusan izin lingkungan dan izin-izin lainnya saat ini sedang dilakukan.
Sementara di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, PT Vale mengelola area Kontrak Karya (KK) seluas 20.286 hektare. Proyek tersebut terdiri dari dua, yakni proyek penambangan yang dilakukan PT Vale dan pabrik pengolahan dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan dioperasikan perusahaan patungan yang dibentuk Sumitomo Metal Mining, Co. Ltd (SMM) dan PT Vale.
Pada area operasional tersebut, PT Vale akan menambang bijih limonit dengan kadar rerata 1,36 persen Ni dan produksi sebanyak 5,2 juta metrik ton basah per tahun yang selanjutnya diumpankan ke pabrik HPAL.
PT Vale akan menambang bijih saprolit dengan kadar rerata 1,76 persen Ni dan produksi sebanyak 4 juta metrik ton basah per tahun.
Term-sheet Agreement antara PT Vale dengan SMM sedang difinalisasi bersama detail perjanjian yang lain, seperti pembiayaan proyek, perjanjian jual beli bijih, perjanjian penjualan produk, dan perjanjian pemegang saham.
Pada kedua proyek tersebut, PT Vale bersama mitra terus berusaha mempercepat proses perizinan dan kesiapan operasional untuk memastikan proyek akan berjalan aman dan sesuai aturan.
Bahkan, secara khusus Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Dani Widjaja beserta tim
dengan Executive Project IMP Asia Africa, Frederico Coutinho Leal, Director Engineering IGP, Luiz Carlos de Oliveira, dan Director Mine Exploration, Kessel Godinho de Sa telah melakukan kunjungan ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Kedatangan mereka untuk melihat secara langsung kesiapan rencana pengembangan proyek. Mereka mengunjungi area rencana pelabuhan di Desa Bahomotefe, Kecamatan Bungku Timur. Selain itu, mereka juga mengunjungi rencana pembangunan pabrik pengolahan di Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, overview rencana tambang dan infrastrukturnya di Blok Bahodopi, kunjungan ke area rencana test mining di Blok 3 Bahadopi.
Proyek di Bahodopi dan Pomalaa feasibility studynya sudah hampir selesai. Saat ini proses perizinannya sedang diselesaikan. Kalau dari sisi teknis intinya bagaimana bisa menambang dengan baik. Sehingga proyek ini menjadi investasi yang menguntungkan.
Sedangkan untuk Bahodopi saat ini sedang dilakukan negosiasi komersial dengan para partner. Hal ini termasuk perjanjian-perjanjian mengenai kewajiban pemegang saham. Termasuk ore supply agreement. Jadi PT Vale yang akan mengoperasikan pertambangan di Bahodopi maupun Pomalaa. Nantinya akan menyuplai bijih ke perusahaan pengolahan dalam bentuk Joint Venture. Dimana PT Vale akan memiliki saham.
Saat ini, di Pomalaa telah hadir pelabuhan milik PT Kolaka Nickel Indonesia. Pelabuhan ini merupakan salah satu aset pertama yang dibeli dan dimiliki perusahaan.

Wujudkan Net Zero Emission

Salah satu fokus utama PT Vale dalam menjalankan usaha pertambangannya di Indonesia selama ini adalah masalah penataan lingkungan. Di antaranya penanganan emisi karbon.
Dan ini juga menjadi salah satu komitmen awal PT Vale terhadap pemerintah Indonesia saat akan melakukan penambangan di Tanah Luwu.
Komitmen ini kembali didengungkan Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer (CEO) PT Vale Indonesia Tbk, Febriani Eddy. Febry
menegaskan kembali komitmen PT Vale untuk menjadi industri pertambangan, yang didorong keberlanjutan dan bekerja untuk mencapai target ambisius Net Zero Emission pada tahun 2050.
PT Vale telah melaksanakan pengurangan emisi karbon. Karena hal ini menjadi bagian solusi untuk perubahan iklim.
Sejak beroperasi 53 tahun lalu, PT Vale sangat mendukung peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui praktik pertambangan yang berkelanjutan. Untuk itu, PT Vale telah mengawalinya dengan meningkatkan penggunaan EBT. Yakni telah membangun dan mengoperasikan tiga unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sebesar 365 Megawatt (MW) dan berkontribusi terhadap 36 persen total energi yang dibutuhkan perusahaan untuk beroperasi. Pengoperasian tiga PLTA tersebut mampu mengurangi emisi CO2 lebih dari 1 juta ton CO2eq setiap tahun.
Tak hanya itu saja, pada operasional pabrik di Blok Sorowako telah diterapkan penggunaan teknologi electric boiler, dan pemanfaatan biodiesel B30. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai target Net Zero Emissions pada 2050.
PT Vale telah membuat komitmen publik sangat ambisius untuk mengurangi emisi karbon terkait kegiatan penambangan, pengolahan, dan pada akhirnya penggunaan produknya. Tujuannya adalah mengurangi emisi sebesar 30 persen paling lambat pada 2030 dan menjadi net zero emissions pada 2050. Hal ini sejalan dengan Paris Agreement yang telah ditandatangani PT Vale pada 2019 silam.
Begitu pula nantinya pada pembangunan pabrik baru di area Bahodopi, Sulteng yang akan menggunakan PLTG atau energi gas bumi. Pabrik tersebut akan menjadi pabrik nikel dengan emisi karbon per ton nikel terendah kedua setelah Sorowako yang menggunakan PLTA. Menyusul kemudian pada proyek Pomalaa, di Sultra juga akan menerapkan operasional rendah karbon emisi.
PT Vale sangat fokus pada sektor pertambangan dan processing nikel. Meski demikian, tentunya operasional yang ramah lingkungan menjadi perhatian utama.
Tak hanya pada penerapan operasional ramah lingkungan, dari sisi komitmen terhadap Paris Agreement PT Vale terus melakukan reklamasi paska tambang serta pembibitan.
Di atas lahan seluas 2,5 hektare di Sorowako, Sulawesi Selatan, dengan menghasilkan sebanyak 700.000 bibit per tahun untuk merehabilitasi 100 hektare area paska tambang. Data per September 2021 total lahan yang sudah direklamasi mencapai 3.301 hektare.
Juga, PT Vale melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan program penanaman tanaman jenis kayu-kayuan dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di luar wilayah Kontrak Karya PT Vale. Tujuannya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi DAS.bsehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
Saat ini rehabilitasi DAS dilakukan di 13 kabupaten dan 51 desa dengan luas 10.000 hektare tersebar di Luwu Timur seluas 1.490 hektare, Luwu dan Luwu Utara seluas 1.996 hektare, Tana Toraja seluas 1.190 hektare, Toraja Utara, Enrekang, dan Pinrang seluas 979 hektare, Bone seluas 1.735 hektare, Soppeng dan Gowa seluas 1.135 hektare, Barru, Maros, Gowa dan Takalar seluas 1.475 hektare.
Sampai saat ini praktik rehabilitasi yang dilakukan PT Vale masih diakui di antara yang terbaik di Indonesia. Untuk itu diharapkan semakin banyak perusahaan tambang yang bisa melakukan praktek pertambangan berkelanjutan seperti yang diterapkan di PT Vale Indonesia Tbk.
”Sangat penting bagi industri pertambangan untuk bertransformasi guna membangun kepercayaan, tumbuh lebih kuat, dan mencapai hasil berkelanjutan,” tegas Febriani Eddy. (amiruddin nur)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini