Connect with us

Headline

66 Kali Menang Lomba Tingkat Nasional, Dorong Guru Berprestasi

Dr Thamrin Paelori,MPd Koordinator Pengawas Dinas Pendidikan Kota Makassar

-

NAMA Dr Thamrin Paelori,MPd tidak asing lagi di kalangan guru yang ada di Sulawesi Selatan. Bahkan pada skala nasional. Ada banyak prestasi yang telah diukirnya. Siapa sangka kalau dia merintis karir dari seorang guru sukarela.

”Saya memulai perjalanan karir sebagai guru ketika di awal-awal kuliah. Semester dua sudah jadi guru juga. Harus mengajar dan kuliah di awal semester, sehingga keduanya tidak bisa maksimal secara bersamaan. Ada yang jadi korban. Karena itu, saya lima tahun di kampus,” tutur Thamrin ketika menjadi narasumber di podcast Berita Kota Makassar dalam rangka Hari Guru Nasional, Kamis (25/11).
Memiliki seorang ayah yang anggota TNI dengan sembilan orang anak, membuat beberapa saudara Thamrin mengikuti jejak orangtuanya. Namun Thamrin punya pilihan berbeda. Ia yang awalnya memilih sekolah teknik bidang mesin, kemudian meninggalkannya dan memutuskan masuk sekolah guru. ”Naluri keguruan yang mengharuskan saya ke situ,” ujarnya.
Setamat sekolah guru di Samarinda, Thamrin melanjutkan kuliah di IKIP Makassar (kini UNM). Sembilan bersaudara dengan gaji pensiunan tentara yang tergolong rendah, Thamrin kemudian mencari jalan agar bisa tetap kuliah. Dia pun mendaftar jadi guru SD dan diterima. Ia ditempatkan di Makassar.
”Waktu itu saya menjadi guru dengan sukarela. Mengajar tanpa digaji. Hampir setahun menjadi guru yang tidak pernah digaji,” kenang Thamrin yang kini menjabat sebagai Koordinator Pengawas Dinas Pendidikan Kota Makassar, yang mengkoordinir sekolah tingkat TK, SD, dan SMP.
Walau begitu, Thamrin menjadikan hal itu sebagai motivasi. Karena selain naluri keguruan, profesi yang dilakoninya bisa menjadi tapakan guru sesungguhnya. ”Saya menganggapnya sebagai persembahan untuk karir guru. Tanpa digaji pun tetap bekerja. Jadi kepada guru yang masih berstatus honorer, jangan mengeluh. Anda kan memulai, dan suatu waktu nantinya akan mendapatkan hasil dari apa yang dikerjakan,” terangnya.
Usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Menjadi seorang guru di tahun 1988, Thamrin memulai karier sebagai narasumber di gugus-gugus sekolah. Hal itu dilakukannya sebagai bentuk kesungguhan dan kecintaan terhadap profesi. Bukan mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Semua benar-benar dilakukannya dengan proses yang mumpuni dan luar biasa.
Dari situlah kemudian atasan melihat potensi kreatif dalam mengajar yang dimiliki Thamrin. Di usia 0 tahun meniti karier, ia mulai masuk melakukan proses pengembangan kapasitas guru. Termasuk kepada mereka yang tergolong senior.
”Sejak saat itu ada perhatian dari Dinas Pendidikan provinsi untuk menjadi instruktur. Terutama instruktur bahasa Indonesia. Setelah tamat kuliah ketika itu, hampir tidak ada guru SD yang memiliki latar belakang sarjana, khususnya sarjana bahasa Indonesia. Hal itu menjadi istimewa, walau sebenarnya tidak istimewa bagi saya,” jelasnya.
Thamrin pun terus melakukan proses-proses terhadap banyak hal, terutama guru SD terkait pembelajaran bahasa Indonesia. Membuat pengembangan-pengembangan yang kreatif di hampir seluruh Sulsel.
Tujuh tahun berselang, tepatnya 1995, Thamrin mulai merambah level nasional. Ia mengikuti lomba kreativitas tingkat nasional yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
‘”Waktu itu tidak dapat juara. Tapi saya diberi keberuntungan, karena bisa menyaksikan pengumuman pemenang di TVRI pusat. Saya menyaksikan siaran langsungnya. Dari situ saya termotivasi. Hebatnya orang menerima penghargaan LIPI dan disiarkan di televisi,” terangnya.
Dari situlah kemudian Thamrin mengetahui seperti apa sebenarnya yang dimaui oleh panitia. Hal itulah yang dipegangnya untuk mengikuti lomba tahun berikutnya. Sejak saat itulah ia selalu menang beberapa kali. Saat ini, tercatat ada 66 lomba tingkat nasional yang berhasil dijuarai oleh Thamrin. Ada 13 dengan raihan juara satu.
Ia menjelaskan, untuk membuat karya tulis tidaklah sulit. ”Pada prinsipnya kita menulis apa yang dilakukan di kelas secara hebat. Banyak orang yang tidak bisa menulis, karena di kelasnya tidak kreatif. Kalau memang mau menulis yang baik, kelas kita harus bagus. Cara mengajarnya tidak konvensional. Untuk itu perlu cari cara yang kreatif. Mau ditulis atau tidak ditulis, ciptakan itu,” tandasnya.
Dalam berbagai pelatihan di mana Thamrin menjadi narasumber, terungkap ada banyak guru pintar menulis namun tidak tahu apa yang hendak dia tulis. Karena pengalaman kreativitasnya di dalam kelas rendah. dilakukan.
”Menulis bagi saya sebetulnya pekerjaan tidak sulit, ketika yang dikerjakan itu ada dan kita mau menulis. Dalam beberapa kesempatan narasumber, pembimbung, dosen, itu alasan mendasar mereka tidak mau memulai. Banyak yang mengalah sebelum bertanding. Kenyataan ini dampaknya ada pada kenaikan pangkat. Mandek di golongan tertentu. Itu efek karena kita tidak mau lakukan. Mengeluh dan menganggap rumit dan tidak mau kerja. Tidak mau mengikuti proses,” ujar ASN berpangkat IVd ini.
Tentang kreativitas guru dalam proses pembelajaran di tengah pandemi, Thamrin cukup antusias menanggapinya. ”Satu hal yang perlu saya tegaskan, ada guru yang menganggap ini sebagai sebuah percobaan, sehingga perilaku mereka juga coba-coba. Bahkan menganggap dirinya libur. Ini persoalan ketidaksiapan saja sebetulnya. Justru di sinilah perlunya guru melek teknologi. Jangan ini dianggap sebagai beban dengan alasan tidak bisa memanfaatkan perangkat teknologi informasi,” ungkap Thamrin.
”Pak Thamrin ini sudah tua. Tapi hampir semua perangkat teknologi dan platform saya pelajari. Kan tidak ada yang sulit. Kecuali kalau membuat. Kalau disuruh menggunakan, ada panduannya semua. Makanya pelatihan didorong untuk melakukan itu,” tambahnya.

Diakui Thamrin, kekurangan guru kita saat ini adalah motivasi untuk berprestasi. Sehingga kata prestasi tidak menjadi pendorong bagi mereka. Karena itu muncul sekolah penggerak, sebagai upaya memperbaiki mental. Thamrin menjadi asessor di program ini, dengan menyeleksi dan mencari bakat-bakat yang mau maju.
”Dalam pembelajaran di tengah pandemi saat ini, ada satu kondisi yang seharusnya tidak terjadi. Katanya anak sudah bosan mengikuti pembelajaran daring. Padahal seharusnya dalam perspektif seperti itu, anak suka dengan pemainan gadget. Lalu apa yang membuat mereka bosan? Karena kreativitas guru tidak keluar,” jelas Ketua Dewan Juri Anugerah Guru Inspiratif Kota Makassar ini.
Menurutnya, pengembangan kapasitas seorang guru sangat penting. Dia pun merespons positif seluruh program yang diramu agar guru melek teknologi. Namun, Thamrin menyebut ada yang keliru. Program tersebut terlalu mementingkan teknologinya. Ketika misalnya guru tidak tahu teknologi informasi, mereka diajari. Padahal semestinya jangan itu saja yang diajarkan. Harusnya substansi ini diolah menjadi lebih menarik. Ini tidak ada.

Karena mengolah substansi ini secara menarik, walau biasa dalam pelaksanaan. Ini tidak. Kalau sudah mahir teknologi dia menganggap dirinya sudah hebat. Makanya dalam pelatihan, saya sarankan jangan hanya orang IT saja yang dipanggil. Orang yang pengembang kreativitas, teknologi pembelajaran yang kreatif, itu menjadi bagian dari proses itu. Untuk saat ini, hampir tidak ada yang melakukan itu,” terangnya. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini