Connect with us

Headline

Harusnya Sekolah Bijaksana Terkait Vaksin

Plt Kadisdik Sulsel Tanggapi Siswa SMA Dirawat di RS Usai Divaksin

-

MAKASSAR, BKM — Seorang siswa kelas III sebuah SMAN di Kabupaten Bulukumba bernama Frienzy Sugita kini harus berbaring lemah di rumah sakit. Ia mengalami sejumlah gejala menjalani vaksinasi.

Frienzy diketahui punya penyakit auto imun. Sejak kecil ia sudah mengidap lupus.

Ayah Frienzy, Hasan mengaku sejak hari Senin, 3 Januari 2022 lalu, anaknya tidak diperkenankan mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Sebab, dia belum divaksin.

“Aplikasi peduli lindunginya merah karena belum vaksin. Pihak sekolah tidak izinkan belajar tatap muka walau saya sudah memohon,” ujar Hasan saat dikonfirmasi via telepon, Kamis (6/1).

Awalnya, Hasan mengaku khawatir vaksin tidak cocok dengan kondisi kesehatan anaknya. Apalagi Frienzy selama ini menjalani kemoterapi, biopsi ginjal, pemeriksaan kulit dan mata.

Puskesmas juga sudah mengeluarkan surat keterangan agar sang anak tidak perlu divaksin.
Namun pihak sekolah menolak.

“Kami minta kebijaksanaan tapi tetap ditolak karena katanya aturan dari bupati itu wajib vaksin,” tambahnya.

Hasan kemudian meminta opsi lain. Bagaimana agar Frienzy mengikuti pembelajaran secara online.

Pihak sekolah sepakat. Namun Hasan menganggap tidak berjalan maksimal karena pelajaran yang diberikan di sekolah tidak sama dengan yang didapatkan secara online.

“Di sekolah empat mata pelajaran, kalau online kadang hanya dua. Tugas anak saya pun menumpuk. Kadang anak ini jadi kesal. Stres,” tambahnya.

Frienzy kemudian membujuk ayahnya agar divaksin saja. Hasan mengaku tak tega sebab anaknya sudah kelas III SMA.

Jika tidak divaksin, maka kelak sang anak akan sulit untuk mengikuti ujian. Desakan untuk vaksin kemudian diturutinya.

Hasan lalu memeriksakan anaknya ke dokter interna. Tekanan darah dan kondisi Frienzy diperiksa. Dokter ahli, kata Hasan, mengeluarkan surat keterangan bahwa Frienzy bisa divaksin.

“Namun lima menit setelah divaksin, anak saya merasakan sesak napas, muntah, sakit kepala hebat, badan kram, menggigil hingga seluruh tubuh. Saat ini dirawat di rumah sakit,” tuturnya.

Hasan berharap kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Pemerintah daerah harus mempertimbangkan kesehatan warganya dibanding fokus mengejar target vaksinasi.

“Apalagi masyarakat semacam kami ini tidak tahu menahu jika ada kejadian seperti ini kami mengadu kemana. Panik. Jadi saya harap pemerintah bisa mengerti, jangan segala-galanya surat vaksin jadi syarat utama walaupun hanya untuk belajar,” harapnya.

Perihal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemprov Sulsel Imran Jauzi mengatakan dirinya tidak mengetahui bahwa ada sekolah yang tetap memaksakan vaksin bila sudah ada keterangan dari ahlinya bilamana anak tersebut tidak bisa divaksin
. “Saya tidak tahu kejadian itu. Kembali ke sekolah. Harusnya sekolah lebih bijaksana. Artinya, kalau keterangan medis sudah tidak memungkinkan jangan diterapkan. Intinya bahwa tentunya pihak tenaga dokter lebih tahu mana yang bisa divaksin mana yang tidak,” terang Imran.

Harusnya, kembali Imran Jauzi menegaskan pihak sekolah jadikan acuan keterangan dari dokter jangan divaksin.

“Kami imbau kepada orang tua siswa yang mengalami persoalan berbenturan dengan pihak sekolah harus melaporkan karena kami banyak saluran informasi banyak; ada kepala sekolah, ada UPT sekolah, nanti disampaikan ke dinas. Melalui ini kami akan melakukan saosialisasi kepada sekolah, ini kelakuan gegabah sehingga melampaui batas,” tegasnya. (jun)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com


Populer Minggu ini