Connect with us

Headline

Korban Banjir Ungsikan Anak dan Bayi

-

MAKASSAR, BKM — Cuaca ekstrem yang terjadi dalam tiga hari terakhir di Kota Makassar membuat sejumlah wilayah mulai tergenang banjir. Masing-masing di Kecamatan Biringkanaya, Panakkukang, dan Manggala.
Kepala Pelaksanan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar Achmad Hendra Hakamuddin, menyebutkan bahwa di blok 10 Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala, hingga pukul 14.08 Wita, di Jalan Suling Raya, ketinggian air sudah mencapai 20 sentimeter. Sebanyak empat kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 13 jiwa, terpaksa harus mengungsi di posko Jabal Nur.

Sementara itu, kata Achmad, angin kencang menerjang rumah warga di Jalan Dg Tantu 1 Lorong 4 RT 006/RW 005 Kelurahan Rapokalling, Kecamatan Tallo. Sebanyak dua rumah rusak berat dan dua rumah rusak ringan. Tiga kepala keluarga dengan total 11 jiwa terkena dampak.
“Kebutuhan paling mendesak untuk korban puting beliung di sana adalah tenda terpal, selimut, dan baby kit karena ada bayi dan balita umur dua tahun. Namun kebutuhannya telah dipenuhi,” ungkap Hendra, Kamis (20/1).

Wilayah lain yang terendam banjir adalah Jalan Kotipa IV, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya. Laporan terakhir dari BPBD pukul 15.45 Wita, sebanyak 8 KK mengungsi di Masjid Nurul Ikhlas BTN Kodam III.
“Jadi ada 8 KK, dengan total 38 jiwa mengungsi. Tiga di antaranya bayi, dua balita, dan tiga anak-anak. Kebutuhan mendesak adalah air mineral. Sementara yang sudah disiapkan adalah selimut dan bahan makanan,” jelas Hendra.
Sementara di BTP Blok AF, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, ketinggian air di jalan sudah mencapai 30 sentimeter. Bantaran sungai dalam Blok AF setinggi 45 cm. Sementara di perumahan BTP Blok AF, ketinggian air sudah mencapai 40 sentimeter.
“Belum ada yang mengungsi. Akses masih bisa dilalui roda dua dan empat namun untuk kategori kendaraan tinggi,” jelasnya.
Banjir juga melanda perumahan warga yang bermukim di Jalan Abdullah Dr Sirua, Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang. Tepatnya di Lorong 10, RT 04/RW 04. Ketinggian air di mencapai 75 sentimeter. Sementara di Jalan Abdullah Dg Sirua 2 RW 04 dan RW 08, tinggi genangan mencapai lutut orang dewasa.
Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, mengatakan cuaca ekstrem dan hujan deras diperkirakan masih terjadi hingga tiga hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga, khususnya bagi mereka yang tinggal di titik-titik rawan banjir.
“Kalau dilihat di aplikasi cuaca, curah hujan saat ini (kemarin) mencapai 20 mm per jam,” katanya di sela-sela kunjungan ke Kolam Regulasi Nipah-Nipah.
Dia melanjutkan, persoalan banjir ini bukan sebatas persoalan hujan. Namun juga persoalan tata ruang.
“Persoalannya, ada orang membuat pemukiman di tempat air. Sehingga tadi laporan Pak Camat (Manggala) ada tiga KK mengungsi. Memang rumahnya itu tempat air. Sebenarnya tidak boleh dikatakan banjir. Itu karena tempat air yang ditinggali,” kata Danny.
Diapun berharap masyarakat untuk senantiasa menjaga alam dan jangan membuang sampah sembarang. Selain itu, dia mengajak warga untuk terus berdoa agar Kota Makassar terhindar dari bencana.

Pembenahan Drainase

Anggota DPRD Kota Makassar kini mempertanyakan langkah mitigasi yang dilakukan oleh pemkot, khususnya terhadap titik wilayah yang sudah tergenang dan menjadi langganan banjir tiap musim hujan. Anggota Komisi D Abdul Wahid, mengatakan salah satu penyebab banjir adalah tingginya intensitas hujan yang mengguyur Kota Makassar selama tiga hari. Hal itu diperparah dengan tidak dilakukannya pembenahan drainase dengan baik.
“Pastilah kota ini akan banjir karena dilanda hujan terus menerus selama tiga hari berturut-turut. BMKG juga sebelumnya sudah lebih dahulu memperingatkan. Memang curah luar biasa ektrem. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya pembangunan dan pembenahan drainase. Makanya sekarang banyak rumah yang tergenang. Apalagi di dapilku, Tamalanrea dan Biringkanaya,” terang Abdul Wahid, Kamis (20/1).
Legislator PPP ini mengaku sudah mendorong penganggaran pada 2022 yang fokus untuk pembangunan drainase. Sehingga anggaran di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar kini bertambah menjadi Rp258,5 miliar. Untuk itu ia berharap lelang proyek bisa dilaksanakan secepatnya.
“Seharusnya sudah ada langkah yang dilakukan, karena sudah ada peringatan. Jangan tunggu seperti sekarang ini, banjir di mana-dimana baru kerjakan. Teman-teman di Banggar sudah menyepakati untuk anggaran pembenahan drainase,” jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Makassar Alhidayat Samsu mengaku sudah mengunjungi beberapa pemukiman warga di Tamalanrea yang terdampak banjir. Kondisinya kian mengkhawatirkan, karena tidak pernah dibarengi dengan pembenahan.
“Ini karena intensnya hujan dan lamban mengamankan daerah-daerah resapan yang kian minin, sudah banjir dimana-mana. Kolam retensi atau waduk khusus perlu diperbanyak untuk mengakomodir minimnya daerah-daerah resapan,” jelasnya.
“Perumahan di pinggir tol itu kan tanah garapan yang betul-betul untuk wilayah penghijauan. Seperti wilayah-wilayah bakau. Tapi tiba-tiba ditimbun dan dijadikan perumahan. Heran saya, di mana mereka dapatkan izin,” cetusnya. (rhm-ita)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini