Connect with us

Headline

Awalnya tak Direstui Jadi Model, Didukung Main Film

Kisah Aktor Jeihan Kler Mengawali Karir

-

PERJALANAN karir seorang Jeihan Kler tidak semulus yang dibayangkan. Untuk bisa menjadi aktor seperti saat ini, ia melalui banyak rintangan. Termasuk penolakan dari lingkungan keluarganya sendiri, terutama sang ayah yang dipanggilnya dengan sebutan abah.

JIKA menyebut nama Jeihan Kler, warga Makassar tentu mengaitkannya dengan sebuah film yang diproduksi di tahaun 2017. Judulnya Silariang. Jihan mendapat peran utama di film yang sempat booming ketika itu.
Karakter Jihan dalam film itu berambut gondrong. Namun, kini ia tampil dengan rambut yang telah dipotong rapi. Mengenakan jaket warna hitam, Jihan hadir sebagai tamu dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku, sejak tahun 2020 dirinya telah hijrah dari Makassar ke Jakarta. Ada alasan yang mendasar sehingga pilihan itu diambil.
”Ketika pandemi terjadi, industri kreatif di Makassar tidak ada yang bergerak. Penyanyi, pemain film dan mereka yang bergerak di dunia entertain tak punya lagi pekerjaan. Saya kemudian memutuskan ke Jakarta. Sempat bekerja selama setahun, saya kemudian memilih untuk resign. Setelah itu saya memutuskan untuk ikut casting-casting iklan,” tuturnya.
Namun, tidak mudah bagi Jeihan untuk mendapatkan job di ibu kota. Walau dirinya sudah punya nama karena pernah bermain film di Makassar, tapi itu bukan jaminan ia bisa dengan mudah lolos casting.
”Waktu awal casting di Jakarta saya tidak punya teman sama sekali. Apalagi yang teman artis. Saya memulainya sendiri dan mencari teman sendiri. Mereka tidak ada yang mengenal Jeihan Kler. Apalagi kalau ada ditulis Silariang di belakangnya. Itu tidak berlaku di Jakarta,” terang pria kelahiran Makassar, 19 April 1994 ini
.
Namun, ada sesuatu yang tak pernah dilupakan oleh Jeihan. Berada di perantauan ia selalu mengingat orang tua. ”Sebelum ikut casting saya selalu telepon mamiku. Minta didoakan supaya lancar. Kalau sudah selesai casting dan belum lolos, saya kembalikan bahwa itu belum rezekiku. Yang penting saya sudah mencoba dan mendapat pengalaman baru dari casting iklan,” jelasnya.

Apakah Jeihan tidak malu disebut anak mami? Dengan spontan ia menjawab tidak. ”Itu sudah kebiasaan sejak di Makassar. Saya ini anak ketiga dari empat bersaudara. Dua kakak saya cowok semua, sekolah di Jakarta. Jadi kalau ada apa-apa, saya selalu dengan mami. Bahkan kalau mami ke pasar saya selalu temani,” ungkapnya.
Hal itu pun terbawa ketika Jeihan hijrah ke Jakarta. Tiap malam ia selalu menelepon sang mami. Termasuk dengan ayah, yang oleh Jeihan dipanggilnya dengan sebutan abah.
”Kalau abah paling selalu video call. Biasa kalau saya lagi nongkrong, abah video call dan langsung saya angkat. Buat apa malu. Malah saya selalu kasih lihat di mana tempat nongkrongku,” terangnya.
Kedekatan antara anak dan ayah ini tidak tercipta dengan mudahnya. Karena pernah suatu ketika di awal merintis karir, Jeihan sempat mendapat penolakan keras dari abahnya untuk terjun di dunia modeling.
”Cerita lucunya seperti ini. Saya kan sekolah SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi itu latar belakang Islam semua. Pas kuliah ingin sekali punya teman cantik atau artis. Karena dengan begitu, setidaknya saya juga bisa jadi artislah,” jelasnya.
Karena keinginan itu, Jeihan kemudian ikut modeling. Ia ingat tahun 2011 ketika itu. Walau berhasil meraih juara dan mendapatkan hadiah, ia tak pernah berani menunjukkan ke abah.

”Abah tidak perbolehkan saya ikut model. Beliau sangat tidak setuju dan selalu marah kalau saya ikut. Kalau habis ikut lomba, walaupun bawa piala atau bawa duit, pasti saya tidak kasih tahun. Karena kalau ditahu, piala saya dipatahkan. Tujuannay agar saya kapok,” ungkap Jeihan.
Namun, Jeihan tidak menyerah. Setiap pulang dari mengikuti ajang lomba, ia selalu menitip baju dan hadiah yang diperolehnya ke rumah tetangga. Besok pagi atau siangnya, ketika abahnya tak di rumah, baju dan piala itu diambilnya dari tetangga yang bersebelahan rumah dengannya.
Dari modeling, Jeihan kemudian melebarkan sayap ke dunia peran. Berawal dari pertemuannya dengan Rere Art2 Tonic yang mengajaknya untuk bermain film. Jeihan akhirnya mengawali debutnya di film berjudul Sumiati.
Dia pun tidak bilang-bilang ke abahnya, karena Jeihan yakin tak akan direstui. Setelah penggarapan selesai, billboard film Sumiati yang berukuran besar terpasang di ruas Jalan Arief Rate. Sang abah melihat langsung billboard itu.
”Waktu saya pulang ke rumah, abah sementara baca koran. Dia panggil saya. Memperjelas apakah betul saya yang main di film itu. Saya bilang iya, saya. Apa dia bilang? Kenapa tidak tanya saya. Seandainya tanya saya, saya temani syuting,” beber Jeihan sambil tertawa.
Dari film Sumiati, Jeihan kembali bermain film Silariang. Kali ini Jeihan tidak lagi menutup-nutupinya. Bahkan, abahnya menjadi orang yang paling sering menyampaikan dan mengajak teman-temannya untuk menonton film tersebut. (*/rus)

Komentar Anda
www.beritakotamakassar.com

Populer Minggu ini