Connect with us

Headline

Aktivis Lingkungan Dukung Danny, Kadis Bela Gubernur

Iqbal Suhaeb: 50 Tahun ke Depan Bebas Banjir

-

MAKASSAR, BKM — Belakangan ini Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman (ASS) terlibat perang dingin dengan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto. Penyebabnya gegara proyek kereta api. Saling lempar kritikan pun terjadi.

Yang terbaru sorotan terhadap hasil rapat komisi penilai Amdal Sulawesi Selatan terhadap dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (Andal), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) pembangunan jalur kereta api Makassar-Parepare sepanjang 143,87 km + 4,75 km.
Sebab, penanggung jawab atau pemrakarsa proyek, yaitu Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan pihak teknis dalam melakukan kegiatannya jauh dari kata optimal melaksanakan kewajibannya. Ironisnya, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman belakangan ini terkesan oleh publik ikut memaksakan proyek tersebut.

Padahal diketahui, pelaksanaan proyek kereta api ini banyak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang tidak dikelola dengan baik. Di antaranya abai melakukan pengelolaan terhadap sumber dampak dari rencana pembangunan jalur.
”Intinya tidak mengakomodir amandemen UU Cipta Kerja, melalui KLHK, Kementerian PUPR, Kementerian Agraria dan Penetapan Ruang. Apalagi taat melaksanakan dan mengevaluasi secara periodik sistem tanggap darurat (emergency respons) untuk menanggulangi kecelakaan, pencemaran atau perusakan lingkungan hidup,” kata Ahmad Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau Makassar, Senin (8/8).

Masalah ganti rugi tanah warga, ruas jalan yang berdebu, hingga lahan pertanian yang rusak oleh karena dampak aktivitas, sebut saja di tengah ekstremnya cuaca dengan curah hujan yang tinggi sudah membanjiri pemukiman warga, tak lepas oleh adanya lintasan yang menggenangi Kecamatan Bungoro. Kejadian yang berlangsung awal Desember 2021 itu merendam wilayah Kampung Baru, Kelurahan Bori Appaka, Kecamatan Segeri. Termasuk Kampung Bonto Mate’ne, Kampung Citta, Kelurahan Bonto Mate’ne, Kelurahan Bawasalo.
Aktivis lingkungan ini membeberkan bahwa dari balik proyek kereta api yang dipaksakan oleh Gubernur Sulsel telah membawa dampak dalam sistem perkotaan kawasan perkotaan Mamminasata yang berhierarki, terstruktur, dan seimbang sesuai fungsi dan tingkat pelayanannya. Termasuk hilangnya fungsi keseimbangan, fungsi lindung, dan fungsi budidaya pada kawasan perkotaan Mamminasata sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Laman: 1 2 3 4


Populer Minggu ini