Connect with us

Sulselbar

Punya Dua Mata Air Besar, Ada Telaga Awet Muda

Berkunjung ke Obyek Wisata Permandian Alam Citta, Soppeng

-

Obyek Wisata Permandian Alam Citta, Soppeng

SOPPENG.BKM.COM–Kabupaten Soppeng di Sulawesi Selatan memiliki sejumlah obyek wisata air yang bisa menjadi destinasi. Salah satunya Permandian Alam Citta. Lokasinya di Desa Citta, Kecamatan Citta.

JIKA ingin berkunjung ke tempat ini, wisatawan bisa mengaksesnya dari Kota Watansoppeng, ibu kota Kabupaten Soppeng. Jaraknya kurang lebih 30 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Dapat menggunakan mobil angkutan umum.
Dulunya, obyek wisata ini dikelola oleh pemerintah desa. Namun, sejak tahun 2009 pengelolaannya diambil alih oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Soppeng.
Andi Batara Ugi, salah seorang pengelola Permandian Citta menjelaskan, dulunya lokasi ini belum tertata rapi. Jauh berbeda dengan kondisi sekarang.
”Dulunya hanya ada dua kolam. Pohonnya masih sedikit. Sekarang sudah ada empat kolam. Selain untuk orang dewasa, juga disiapkan kolam untuk anak-anak,” terang Andi Ugi.
Putri kedua dari Andi Aris, salah seorang tokoh masyarakat setempat ini menjelaskan, bagi pengunjung disiapkan pula gasebo. Jumlahnya sebanyak 11 gasebo. Ada pula kamar untuk berganti pakaian serta toilet.
Untuk tarif masuk, wanita yang akrab disapa Andi Ugi ini menyebutkan, bagi orang dewasa dikenakan Rp5.000 per orang dan anak-anak Rp3.000. Mobil yang masuk ke lokasi permandian berlaku tarif Rp10.000 dan motor Rp5.000. Sementara gasebo tarifnya Rp10.000 per jam.
Pengunjung biasanya ramai pada hari libur, Sabtu dan Minggu. Buka setiap hari dari pukul 07.00 hingga 17.00 Wita.
Pengelola lainnya, Sam menjelaskan, di lokasi permadian alam ini terdapat dua mata air yang terus mengalir tanpa henti. Di atasnya terdapat pohon-pohon berukuran besar. Dari bawah akarnya itulah air menyembur.
Satu dari dua mata air itu dikenal sebagai Telaga Awet Muda. Menurut Sam, ada kisah terkait penyebutan telaga ini.
”Kayu besar yang tumbuh di atas mata air ini biasanya diambill kulitnya dan dijadikan campuran membuat bedak. Air dari telaga juga diambil untuk mencampur bedak. Pengunjung yang datang ke sini biasa melakukan itu. Katanya untuk awet muda,” tuturnya.
Bukan tanpa alasan hal tersebut dilakukan para penunjung. Karena dalam kenyataannya, dedaunan pada pohon besar yang ada di telaga ini biasanya berguguran seluruhnya. Setelah itu kemudian muncul lagi pucuk-pucuk baru, yang menandakan kehidupan pohon tersebut yang selalu awet muda.
Di bagian lain, ada satu kolam yang berukuran cukup besar dengan kedalaman kurang lebih 1 meter. Karena terus dialiri, kolam ini tak henti-hentinya menuangkan airnya ke bagian dinding-dinding hingga menyerupai air terjun mini. Di dalam kolam inilah pengunjung biasanya ramai mandi-mandi.
Di seberang jalan, masih dalam kawasan permandian, terdapat aliran air yang tersambung dengan kolam besar tadi. Airnya bersumber dati mata air besar yang ada di bagian hulu. Ada beberapa pohon besar yang mengelilinginya. Tempat ini pula biasa dipergunakan untuk mandi. Airnya terasa begitu segar, karena terus menerus mengalir dan langsung dari mata air.
Menurut penuturan Sam, biasanya kalau ada warga Citta dan sekitarnya yang hendak berangkat merantau, mereka mengambil air dari tempat ini dan menyimpannya dalam sebuah wadah. Air itu kemudian dibawanya ke perantauan. Jika mengalami sakit ringan, warga yang merantau itu meminumnya hingga kemudian bisa sehat kembali.
”Kalau ada warga yang berhasil di rantau dan pulang kembali ke Citta, biasanya mereka datang ke sini untuk mandi-mandi sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur. Mereka membawa serta keluarganya. Itu sudah berlangsung dari dulu sampai sekarang,” ungkap Sam.
Ia juga mengungkapkan tentang asal muasal pemberian nama Citta. Menurutnya, dahulu kala bangsawan Citta berangkat ke hutan untuk berburu. Citta memang berada di wilayah ketinggian dan pegunungan. Sesampainya di hutan, sang bangsawan merasa kehausan. Ia kemudian meminta kepada pengawalnya untuk segera mencari air.
Mendapat tugas tersebut, sang pengawal bergegas hendak melaksanakannya. Ketika itu terlihatlah seekor anjing berwarna hitam yang menyertai perjalanan rombongan ini dalam keadaan basah. Anjing itu bernama La Bolong (hitam).
Melihat La Bolong dalam kondisi basah, maka bangsawan Citta langsung memerintahkan untuk menyegerakan mencari di mana anjing tersebut mandi. Setelah ditelusuri ternyata sumber air itu berada di bawah pohon besar, yang kini dikenal dengan nama Citta.
”Sebenarnya dulu namanya Ciddai (jika bahasa Bugis ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih segera). Setelah itu berubah nama menjadi Citta seperti sekarang,” ujar Sam sambil menunjukkan papan nama bertuliskan Ciddai di pintu gerbang untuk masuk ke sumber air besar di Citta. (Rus)

Laman: 1 2

Share

Komentar Anda


Populer Minggu ini