Connect with us

Metro

Terapkan Irigasi Tetes dan Pemanen Air Hujan di Desa Binaan

Sahrul Alam, Ketua Tim PPK Ormawa LDF FM FT UNM

-

MAKASSAR,BKM–Mahasiswa Fakultas Teknik identik dengan inovasi. Mereka terbiasa menghadirkan sesuatu, khususnya untuk membantu masyarakat. Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT UNM) melakukan hal itu. Mereka tergabung dalam sebuah wadah bernama Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Raudhatul Mujaddid (RM) FT UNM.

SAHRUL Alam selaku Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PPK) Organisasi Mahasiswa (Ormawa) LDF RM FT UNM hadir menjadi tamu di studio siniar Berita Kota Makassar. Mahasiswa jurusan Pendidikan Teknik Otomatif ini berbagi kisah tentang apa yang dilakuka lembaganya selama ini.
Dijelaskan mahasiswa asal Bulukumba ini, LDF merupakan lembaga intrakampus yang fokus memberikan syiar kepada mahasiswa dan masyarakat, selain belajar tentang ilmu agama. Dalam satu tahun periode kepengurusan, mereka rutin memprogramkan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi ilmu.
”Sebagai sebuah lembaga dakwah fakultas, kami memang biasa melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Kebetulan juga ada kegiatan yang diprogramkan oleh kementerian ke Belmawa. Kami kemudian menyusun proposal untuk kegiatan yang akan dilakukan hingga akhirnya didanai,” ungkap Sahrul.
Disebutkan Sahrul, ada ribuan proposal program yang masuk ke kementerian. Namun yang didanai 328. Enam di antaranya di UNM. Salah satunya LDF.
”Sebenarnya tidak kepikiran namun berharap. Jadi kami tetap optimis, sehingga menyusun proposal sesuai syarat yang ditentukan panitia dan membuat program apa yang dibutuhkan masyarakat. Potensi yang ada di sana. Itulah yang membuat kami optimis bisa didanai,” jelasnya.
LDF RM FT UNM melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. Di wilayah ini sebenarnya ada enam dusun dan semuanya jadi sasaran. Namun, hanya tiga yang jadi prioritas sebagai percontohan bagi masyarakat, khususnya dalam penerapan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi mereka. Termasuk bagaimana mereka bisa mengetahui cara mengelola potensi lokal yang dimiliki.
Dijelaskan Sahrul, LDF dinaungi oleh Fakultas Teknik. Karenanya, mereka yang tergabung di lembaga ini merupakan mahasiswa FT dari berbagai jurusan. Ada dari Teknik Elektro, Teknik Pertanian, Teknik Komputer serta jurusan lainnya. ”Hampir semua jurusan di FT ada dan bergabung. Kita kolaborasi ilmu dan ditempatkan sesuai keilmuannya masing-masing,” terangnya.
Tentang alasan memilih Laikang sebagai lokasi pengabdian, Sahrul menjelaskan bahwa di wilayah ini ada cukup banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat. Namun yang fokus perhatian adalah ke isu lingkungan, sebab hal itu dianggap penting dan menjadi isu global. Salah satunya tentang polusi udara.
”Di Laikang potensi polusinya cukup tinggi. Misalnya, masyarakat kalau sudah panen jagung atau padi langsung membakar limbahnya. Itu bisa menyebabkan terjadinya polusi. Padahal limbah sisa panen itu bisa diolah untuk dapat dimanfaatkan kembali bagi masyarakat,” kata Sahrul.
Di desa ini juga ada potensi peternakan sapi. Kotorannya bisa diolah menjadi biogas dan dapat memberikan nilai tambah. Termasuk menjadikannya sebagai pupuk organik.
Menurut Sahrul, kegiatan pengabdian telah mereka lakukan di wilayah ini tahun lalu. Kemudian dilanjutkan tahun ini. Jika dulunya mengolah limbah ternak, kali ini bergeser pada mengolah limbah rumah tangga. Potensi limbah yang cukup besar berupa sisa-sisa makanan organik ini dapat diolah menjadi pupuk organik dengan menerapkan teknologi seperti komposter.
Selain itu, di Laikang juga petani hanya bisa panen sekali dalam setahun. Karena itu diterapkan pengendali kekeringan serta teknologi pertanian berupa irigasi tetes. Dengan cara ini bisa memanfaatkan air yang sedikit untuk keperluan tanaman.
Ada juga teknologi pemanen air hujan. Bila hujan turun airnya ditampung dalam sebuah wadah untuk kemudian bisa digunakan untuk pertanian. Dengan begitu air hujan tidak terbuang percuma.
Masyarakat setempat juga diajari mengolah limbah pertanian menjadi menjadi briket. ”Ternyata mereka baru mengetahui hal ini,” kata Sahrul.
Selain intervensi dengan memberikan tekonologi tepat guna ke masyarakat, juga penguatan kelembagaan. Lembaga yang ada di masyarakat dihidupkan kembali, dari sebelumnya tidak produktif. Bila dibutuhkan membentuk lagi kader baru sesuai program untuk keberlanjutan kegiatan di lokasi. (*/rus)

Laman: 1 2

Share

Komentar Anda


Populer Minggu ini