pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dr Andi Sengngeng Relle, Dokter Spesialis Mata

”Kontrol Mata Jangan Saat Kacamata Pecah atau Patah”

MAKASSAR,BKM.COM–Mata adalah jendela dunia. Untuk itu, menjaga kesehatan mata sangatlah penting. Bagi yang sudah menggunakan kacamata, rutin kontrol enam bulan sekali merupakan sebuah keharusan. Bukan pada saat kacamata pecah atau patah.

DOKTER Spesialis Mata Dr Andi Sengngeng Relle,Sp.M.,MARS menyebut, di Indonesia saat ini penyakit katarak masih mendominasi. Namun, refleksi-refleksi yang membutuhkan kacamata, lensa kontak atau operasi jauh sangat meningkat. Hal itu dimungkinkan terjadi akibat pemakaian gawai yang berlebihan. Terutama saat pandemi, karena pelajar TK dan SD belajar secara daring dengan menggungakan gadget.
”Dari TK sudah banyak yang pakai gadet. Ketika pandemi, belajarnya kan online. Jadi mau tidak mau anak-anak harus pegang gadget dari pagi sampai sore, apakah jaraknya sesuai atau tidak sesuai. Kalau sudah capek langsung tidur sambil berbaring dengan HP masih di tangan. Jadi posisi mata sangat dekat dengan gadget. Atau malah pakai laptop, posisinya juga dekat. Begitu juga dengan penerangan yang tidak cukup. Semua itu memicu kenaikan jumlah kelainan refraksi. Setelah pandemi, yang sudah pakai kacamata bertambah ukurannya. Yang tidak pakai kacamata akhirnya pakai kacamatan,” terang Dr Andi Sengngeng dalam siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.
Di usianya yang kini menginjak 57 tahun, Andi Sengngeng sudah 20 tahun bergelut di dunia kedokteran mata. Ada banyak pengalaman yang telah didapatinya. Apalagi ia bertugas di dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Mata Banta-bantaeng dan RS Hikmah.
Ia lalu mencontohkan teman-teman seprofesinya sebagai dokter, yang di usia masih muda sudah memakai kacamata. Bahkan ada di antaranya yang minusnya terus bertambah.
”Banyak hal yang menyebabkan minusnya bertambah. Misalnya karena memang aksis bola matanya makin bertambah panjang. Memang, miopia itu ada yang progresif, maksudnya bertambah dan ada yang statis. Jadi ada yang dari kecil sampai besar minusnya segitu-gitu saja. Tapi ada yang bertambah, sehingga kadang-kadang ada yang bola matanya menonjol karena aksis bola matanya makin panjang. Jadi kalau untuk yang sudah pernah memakai kacamatan, enam bulan sekalilah kontrol. Bukan pada saat kacamata pecah atau patah baru mau datang kontrol,” jelasnya.
Bila saat kontrol ada perubahan yang terjadi, misalnya ukuran berbeda, menurut Dr Andi Sengngeng, bisa langsung ganti ukuran lensanya. Kalau mata harusnya dikoreksi dengan lensa yang tepat namun tidak dilakukan, akan menyebabkan amblyopia atau mata malas. Amblyopia biasanya terjadi pada anak usia dini. Ketika jalur saraf antara otak dan mata tidak terstimulasi dengan benar, otak lebih memilih mata yang lain.
”Sebenarnya tidak ada kelainan pada mata secara organik. Tapi mata sudah tidak bisa difungsikan lagi. Misalnya, mata kita yang kanan normal, kirinya tidak normal. Harusnya kan pakai kacamata. Kalau kita tidak pakai kacamata, berarti lama-lama yang dominan adalah mata yang
bagus berfungsinya. Ini lama-lama juga tidak akan berfungsi dengan sendirinya walaupun tidak ada kelainan apa-apa,” terang Andi Sengngeng.
Ketika pakai gadget dengan jarak pandang yang dekat dan menggunakan kacamata apakah aman? Dr Andi Sengngeng menegaskan, walaupun pakai kacamatan kita tetap harus pakai jarak yang normal. Artinya, kacamata tidak berfungsi untuk melindungi jaraknya, apakah terlalu dekat atau terlalu jauh.
”Misalnya orang tua membaca dan tangannya pada posisi yang cukup jauh. Artinya, kacamatanya sudah tidak cocok lagi dan harus diperiksa,” jelasnya. (*/rus)


Share


Komentar Anda