BULUKUMBA, BKM — Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bulukumba yang menarik sejumlah petugas yang ada di puskesmas, mendapat reaksi dari sejumlah kepala puskesmas. Kebijakan menarik perawat dari Puskesmas dinilai tidak manusiawi, karena pelayanan di puskesmas tidak akan optimal lagi akibat kekurangan tenaga.
Seperti disampaikan Abbas Gani, Kepala Puskesmas Herlang. Dia merasa terpukul dengan ditariknya perawat yang ada di unit kerjanya. Sebab, kata Abbas, Puskesmas Herlang termasuk kategori rawat inap yang hanya dijaga 3 orang perawat.
Ironisnya, pengambil kebijakan malah menarik satu orang perawat, sehingga yang tersisa tinggal dua orang. “Saya heran, apa maunya pemerintah saat ini. Kami dituntut memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, tapi petugas yang ada sedikit. Jadi jangan salahkan kami jika nantinya pelayanan kepada masyarakat tidak bisa maksimal, karena kekurangan perawat,’’ terang Abbas.
Dijelaskan, mutasi pegawai fungsional kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, sanitasi, gizi dan farmasi tentunya akan mengurangi mutu pelayanan kesehatan. Apalagi dengan adanya tuntutan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), dipastikan kualitas pelayanan tidak akan bermutu.
“Dalam Permenkes nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas, dijelaskan puskesmas perawatan pedesaan minimal memiliki delapan perawat. Sementara di Puskesmas Herlang selama ini hanya ada tiga orang perawat. Dan kemarin, satu orang ditarik. Sehingga yang aktif saat ini sisa dua orang perawat,” cetus Abbas.
Dia menilai Pemkab Bulukumba, dalam hal ini Badan Kepegawaian Daerah tidak mengerti Permenkes tersebut. Kebijakan yang diambil jelas-jelas sebagai bentuk pelanggaran Permenkes yang berakibat buruknya pelayanan ke depan.
Abbas kemudian mengajak teman-temannya untuk mengumpul koin agar Puskesmas tidak diobok-obok. Karena idealnya setiap mutasi staf, sebaiknya ada usul dari pimpinan yang bersangkutan.
Kepala Puskesmas Manyampa Suriaman juga mengalami hal yang sama. Menurutnya, sejak beberapa waktu lalu, bidan koordinator desanya juga ditarik ke RSUD HA Sulthan Dg Radja. Akibatnya, di wilayah kerjanya tidak ada lagi bidan koordinator. “Kami juga tidak tahu, apa maunya orang atas,‘’ keluh Suriaman.
Sementara Rakhmat Riswan, salah seorang pejabat di Dinas Kesehatan Bulukumba yang menulis di media sosial, mengajak untuk membuat aksi, agar semua tahu jika mutasi tenaga kesehatan yang seenaknya dilakukan, akan menjadi penghambat tujuan pelayanan kesehatan yang optimal.
“Tidak ada gunanya tiap tahun kita menyusun analisis kebutuhan pegawai, jika pada akhirnya pegawainya dipindah kesana kemari,’’ tulis Riswan. (edy/rus/b)
Perawat dan Bidan Ditarik, Kepala Puskesmas Protes
×

