GOWA, BKM — Kemarau panjang dipastikan berdampak pada permulaan musim tanam rendengan tahun ini. Kondisi ini diperparah oleh menyusutnya air di Bendungan Bili-Bili, yang selama ini menjadi sumber utama pengairan sebagian besar sawah di Kabupaten Gowa.
“Jika sampai akhir bulan ini hujan belum turun maka jadwal musim tanam (tabur benih) untuk musim tanam rendengan yang sudah direncanakan pada pertengahan Oktober hingga awal Nopember akan molor,” kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Gowa, Muh Said, Senin (12/10).
Said mengatakan, dari laporan yang diterima pihaknya, bahwa kondisi air di Bendungan Bili-Bili tidak bisa diandalkan lagi, karena volume air di bendungan tersebut menyusut tajam hingga di bawah batas ambang normal.
“Harapan kita mudah-mudahan hujan segera turun agar petani bisa segera memulai aktivitasnya untuk tabur benih di musim rendengan ini,” harap Said.
Dikatakan Said, dari 34.186 hektar potensi sawah yang ada di Gowa, 22.495 hektar diantaranya didukung oleh jaringan irigasi teknis dan 10 ribu hektar sisanya berstatus sebagai sawah tadah hujan. Pada umumnya lahan sawah tadah hujan ini berada di kecamatan daerah dataran tinggi dan hanya sebagian kecil saja yang berada di daerah dataran rendah. Menurutnya, musim tanam rendengan tahun lalu terbilang tepat waktu, di mana fase tabur benih dimulai pertengahan Oktober dan panen dilakukan petani pada Maret tahun berikutnya.
Terkait dengan target produksi musim tanam rendengan tahun 2015-2016, Said menyebutkan mencapai 280 ribu ton atau target rata-rata sekira 6,1 ton per hektar. Jenis varietas yang dikembangkan antara lain, ciherang, impari 4, mikongga, cigelis dan ciliwung.
“Khusus untuk varietas ciliwung petani disarankan sebaiknya ditanam pada musim gadu saja,” tandas Said.
Kendati jadwal rendengan molor dari tahun sebelumnya, namun Said mengaku kondisi tersebut, tidak akan berpengaruh besar terhadap produksi gabah petani.
“Kalaupun molor itu tidak jadi masalah, hasilnya akan tetap sama jika perlakuan petani terhadap tanaman padinya tetap dijaga,” sebutnya.
Kata Said, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam meningkatkan hasil produksi gabah petani, yakni perbaikan infrastrukrur (jaringan irigasi), optimalisasi lahan, perbaikan benih unggul, penguatan kelompok tani dengan peningkatan managemen kelompok tani termasuk memberikan alsintan (alat dan mesin pertanian).
Diketahui, tahun 2015 ini, Pemkab Gowa membagikan alsintan sebanyak 52 unit hand traktor yang anggarannya bersumber dari dana aspirasi melalui APBN Perubahan serta 14 unit mesin pompa air yang juga anggarannya dari pusat. (sar-ril/b)
Bili-Bili Menyusut, Tabur Benih Padi Molor
×

