ENREKANG, BKM — Setiap musim panen tomat dan cabe di Kabupaten Enrekang, tidak jarang para petani mengeluh. Sebab harga komiditi yang mereka hasilkan langsung anjlok.
Perawatan untuk dua jenis tanaman tersebut yang tidak mudah, tak sebanding dengan harga pembelian. Selain perawatannya yang menguras tenaga, biaya operasional petani juga tidak sedikit.
Suardi, salah seorang petani mengatakan, tidak jarang harga jual tomat tidak dapat menutupi setengah dari biaya operasional yang telah dikeluarkan sejak penanaman hingga panen. “Modal setengah saja tidak sampai kalau harganya anjlok. Kalau tomat yang ditanam, hanya untung-untungan,” ungkap Suardi.
Tidak heran jika pada saat anjloknya harga, buah tomah dibiarkan membusuk di pohonnya. “Kalau harga murah, untuk apa lagi dipanen. Biarkan saja jadi busuk, daripada kita panen. Selain capek, harganya juga murah,” cetusnya
Selain itu, tambahnya, biaya angkut tomat ke pasar lebih mahal dibanding hasil penjualannya. “Rugi berapa kali jadinya kalau seperti ini. Petiknya pakai tenaga, biaya ongkos ke pasar tidak kembali,” ungkap Suardi lagi.
Menyikapi kenyataan ini, Kepala Badan Ketahanan Pangan Enrekang Ahmad Fajar Muhiddin yang ditemui di ruang kerjanya, mencoba memberikan solusi ketika harga jual tomat dan cabe anjlok. ”Dibuat saus tanpa pengawet menjadi solusinya” ujarnya.
Saat ini, kata Ahmad Fajar, pihaknya telah membimbing sejumlah kelompok perempuan penjahit bumi untuk pembuatan saus. Termasuk mengolah sejumlah bahan baku tradisional yang ada di Bumi Massenrempulu.
Dia mengklaim saus yang diproduksi ini tidak kalah nikmatnya dengan saus yang ada di pasaran. Kelebihannya, saus yang dibuat para kelompok perempuan penjahit bumi atas bimbingan kantor ketahanan pangan, tanpa zat pewarna.
“Konsumsinya aman, karena tanpa campuran bahan pengawet serta zat pewarna,” kata Ahmad Fajar lagi.
Hingga saat ini Kelompok Wanita Tani Pangan Lestari yang terletak di Kelurahan Leoran, telah berhasil membuat saus dengan kemasan yang sama di pasaran. Hasil produksinya ini juga telah dipasarkan secara individu oleh para kelompok perempuan penjahit bumi dengan harga hampir sama saus yang ada selama ini.
“Pemasarannya baru sebatas individu. Belum masuk ke toko-toko,” jelas Ahmad Fajar, yang mengaku jika saat ini pihaknya telah berusaha mendapatkan Nomor Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) di Dinas Kesehatan.
“Ada beberapa sertifikat yang kita sementara urus untuk hasil olahan kelompok ini, biar dapat dipasarkan,” terangnya.
Ernawati, salah seorang anggota kelompok perempuan mengatakan jika inovasi yang dibuat sejumlah kelompok saat ini belum menjadi perhatian pemerintah. Seharusnya, lanjut dia, hasil olahan secara tradisional tidak hanya sampai fasilitas teknologinya saja. Namun perhatian hingga pasar menjadi tanggung jawab pemerintah. “Ketahanan Pangan sudah memfasilitasi teknologinya. Tapi pasarnya juga dicarikan oleh dinas terkait,” kata Ernawati.
Harapan Ernawati ini cukup beralasan. Sebab selama ini kreasi para perempuan tani di Enrekang hanya sebatas perkenalan saja. Pasalnya, bimbingan yang dilakukan hanya satu SKPD, sementara fungsi SKPD yang lain untuk pengembangan home industri tidak berjalan.
“Jadi tidak heran kita kalau jadinya seperti ini. Padahal ini peluang untuk perbaikan ekonomi warga tani,” kunci Ernawati. (her/rus/c)
Wanita Tani Produksi Saus Tanpa Pengawet
×

