MAKASSAR, BKM-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MMKG) Makassar menyatakan, masyarakat Sulsel dan Makassar pada khususnya tidak perlu cemas akan adanya fenomena kabut asap yang tiga hari ini dikabarkan menyelimuti langit.
Juru Bicara BMKG Makassar, Sujarwo, Senin (26/10) menjelaskan, kabut yang terlihat di langit Makassar bukanlah kabut asap akibat kebakaran hutan, melainkan fatamorgana atau fenomena Kabut Haze.
Itu merupakan fenomena yang terjadi karena suhu panas di suatu daerah melebihi suhu pada waktu normal. Karena suhu panas yang cukup tinggi?, terjadi kekaburan udara disebabkan oleh partikel-partikel kering yang sangat kecil dan melayang-layang di udara, sehingga menyebabkan jarak pandang (visibility) berkurang.
Menurut dia, musim kemarau yang terjadi tahun ini memang lebih panas dan cukup lama, sehingga membuat suhu udara meningkat dari biasanya. Di Kota Makassar sendiri suhu udara bisa mencapai 36 derajat celsius, dari suhu normal kisaran 32-33 derajat celsius. Hal ini membuat Kabut Haze bisa timbul di pagi hari, namun hilang ketika terik matahari mulai terlihat. Kabut itu biasanya timbul pada pagi hari. Namun sekitar pukul 13.00, kabut ini hilang.
“Akan kembali terlihat pada sore hari,” papar Sujarwo.
Sujarwo mengatakan, sejauh ini belum ada keluhan penerbangan karena efek Kabut Haze. Karena jarak pandang masih sekitar 800 meter. Sementara, Sujarwo belum bisa memastikan apakah kabut ini bisa menimbulkan efek sakit bagi masyarakat, karena belum ditemukan korban akibat kabut tersebut.
Kemungkinan kabut ini baru akan berakhir pada pertengahan bulan November seiring dengan turunnya hujan di bulan tersebut.
Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan daerah yang masuk kategori panas ekstrim, khususnya di Sulsel bagian selatan dan timur?. Hal ini membuat sejumlah daerah termasuk di pegunungan Bawakareng terbakar akibat sedikit percikan api. Selain itu, dengan arah angin dari timur menuju Barat, dampak polusi asap bisa terjadi di Sulsel jika kawasan hutan Ternate atau Papua ? terbakar.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel mengemukakan, kebakaran hutan yang terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak berdampak pada keadaan udara.
“Kondisi udara masih normal. BPBD tidak perlu mengeluarkan status siaga bencana kabut asap,” ungkapnya.
Data dari BNPB itu, sebagian besar kebakaran di Sulsel terjadi di lahan dan kebun warga. Ia hanya melakukan koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk penanganan kebakaran hutan, termasuk koordinasi dengan kabupaten/kota.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sulsel, Andi Sukri Mattinetta, penyebab kebakaran hutan di Sulsel bukan karena aktivitas yang terjadi seperti kebakaran yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Namun titik api diakibatkan pada suhu panas saat ini yang mencapai 34 derajat celcius.
Dinas kehutanan saat ini telah membentuk posko pengendalian kebakaran di kabupaten/kota di Sulsel. Sebagai langkah antisipasi pihaknya pun mengeluarkan surat edaran terkait darurat kebakaran hutan di Sulsel.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengaku, sampai saat ini pihaknya belum mendapat laporan dari instansi atau lembaga terkait mengenai kondisi udara di Sulsel.
“Bahwa ada kabut asap, itu mungkin saja ada. Tapi sampai detik ini, belum ada laporan dari instansi terkait mengenai hal yang harus dikhawatirkan di Sulsel terkait kabut asap,” ujar Syahrul.
Ia menambahkan, kondisi udara dan jarak pandang di Sulsel, khususnya Kota Makassar masih dalam batas yang wajar. Bandara Sultan Hasanuddin juga dikatakannya berdasarkan informasi, masih termasuk bandara yang clear dan aman untuk didarati oleh pesawat, dan tidak terpengaruh karena kabut asap.
“Bandara Sultan Hasanuddin saat ini masih termasuk salah satu bandara yang berada dalam kondisi clear dan aman untuk pendaratan pesawat. Tidak terpengaruh oleh kabut asap. Bahwa ada delay beberapa penerbangan kemarin, itu disebabkan Karena beberapa penerbangan dari bandara lain dengan tujuan Makassar mengalami delay, sehingga berakibat jadwal penerbangan dari bandara Sultan Hasanuddin juga ikut delay karena terkena imbasnya,” terangnya. (rhm/pp1/cha/b)
BMKG: Awan Pekat itu Fatamorgana Bukan Kabut Asap
×

