WATAMPONE, BKM — Proyek pemeliharaan jalan provinsi di jalan poros Makassar-Watampone, tepatnya di wilayah Desa Sappewalie, Kecamatan Ulaweng menuai sorotan. Sebab, bahan campuran aspal yang digunakan untuk menambal ruas jalan yang rusak, tidak lazim dan tak sesuai prosedur.
Ketua LSM Latenritatta Muhawas Rasyid yang memantau langsung pelaksanaan kegiatan ini di lapangan, mengatakan meski dirinya tidak terlalu tahu soal tehnis pemeliharaan jalan aspal hotmiks atau coolmiks, tapi apa yang ditemukannya sepertinya tidak sesuai standar bahan campuran pemeliharaan jalan.
”Saya tidak ahli dalam teknis pembuatan atau rehab jalan aspal. Tapi yang saya lihat, material aspel proyek pemeliharaan jalan di Desa Sappewalie sepertinya tidak sesuai standar. Harusnya dikatter dulu baru digali. Setelah itu ditimbun baru diaspal. Tapi ini, langsung dihamburi aspal,” beber Muhawas, kemarin.
BKM mencoba mencari informasi terkait bahan campuran aspal yang digunakan pada pemeliharaan ruas jalan ini. Yusuf, seorang sopir dum truk milik PU Bina Maga yang mengangkut bahan aspal ketika itu, mengaku tidak tahu menahu soal teknis. Tapi dia sedikit memberikan komentar.
”Kalau dilihat campurannya, sepertinya memang tidak bagus. Tapi secara teknis saya tidak tahu,” jelas Yusuf.
Selanjutnya, BKM mencoba mendatangi kantor Dinas PU Bina Marga yang berlokasi di Jalan Langsat, Watampone. Tujuannya untuk bertemu Malik, orang Dinas PU Bina Marga yang disebut-sebut sebagai penanggung jawab proyek pemeliharaan jalan tersebut.
Hanya saja, dia tidak berada di tempat. Informasi yang diperoleh menyebutkan, Malik memang penanggung jawab proyek tersebut. Namun dia punya kantor di tempat lain.
”Dia juga ada kantornya di Lapri (Lappa Riaja). Kalau untuk lokasi pencampuran aspal di Palakka, itu memang dia pengawasnya,” ungkap salah seorang pegawai di kantor Dinas PU Bina Marga.
Pemantauan selanjutnya dilakukan di lokasi pencampuran aspal untuk penambalan atau rehab jalan, yang berada di Palakka, Kecamatan Palakka. Di tempat ini ditemukan fakta bahwa bahan yang digunakan untuk membuat aspal tambalan jalan pada proyek pemeliharaan, diantaranya bongkahan hasil bongkaran aspal jalan raya. Aspal tersebut ternyata hasil daur ulang.
Selain itu, pasir halus campur tanah dan batu-batu kerikil ukuran besar juga ternyata digunakan tanpa menggunakan takaran.
Sayangnya, belum ada yang bisa memberikan keterangan pasti terkait persoalan ini. Termasuk sejumlah staf di kantor PU Bina Marga.
Padahal berdasarkan keterangan Yusuf, sejak dirinya menjadi sopir pengangkut aspal pemeliharaan jalan, campuran aspalnya sudah seperti yang sekarang.
”Saya pikir beginiji memang campurannya. Karena kalau sudah dilewati mobil, akan bagus dan lengket. Setahu saya, sudah lama seperti ini kalau kita lakukan tambal-tambal jalan,” ujar Yusuf.
Iskandar, salah seorang pegawai PU Bina Marga yang berkantor di Watampone, menyangkal jika pihaknya dikatakan menggunakan aspal daur ulang. Dia juga membantah menggunakan bahan meterial yang tidak memenuhi standar.
”Kami tidak pernah lakukan daur ulang. Di situ ada dua, Pak. Kalau yang di luar kami tidak tahu. Itu bukan kami yang punya. Tapi milik PU juga. Yang kami punya yang di dalam,” jelas Iskandar. (amr/rus/b)
Pemeliharaan Jalan Provinsi Diduga Pakai Aspal Daur Ulang
×

