SIDRAP, BKM — Salah satu pelaku pencurian ternak (curnak) dan kepemilikan senjata api (senpi), Muhajir (37) yang dilaporkan tertembak dalam peristiwa baku tembak komplotan curnak dengan polisi di hutan Desa Tanatoro, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap akhirnya ditemukan dalam kondisi sekarat, Senin malam (14/12) sekitar pukul 19.30 wita.
Warga Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase ini tertembus tiga timah panas di bagian pinggang dan pantat tembus ke belakang, serta betis sebalah kiri yang juga tertembus peluru. Muhajir sendiri bersama dua rekannya yang sudah tertangkap lebih dulu, yakni Suardi alias Onding (45) dan Arsun alias Ladidi (47), saat digerebek polisi melakukan perlawanan dengan cara membalas tembakan. Aksi saling tembak menembak pun tak terhindarkan.
Tersangka Muhajir yang sehari-harinya adalah tukang somel kayu, ketika tertembak sempat roboh ke tanah, namun akhirnya melarikan diri masuk ke hutan. Tapi tidak lama kemudian ia ditemukan terbaring di pinggir hutan oleh Kasman, warga Desa Lagading.
Kemungkinan, Muhajir tak tahan dengan luka tembakan itu hingga akhirnya memilih keluar hutan. Dibantu Kanit Reskrim Polsek Pitu Riase Aiptu Rustan dan Kepala Desa Lagading Alimuddin Syukur bersama 30 orang warga setempat, tersangka diserahkan ke mapolsek untuk selanjutnya diberikan pertolongan di puskesmas terdekat.
“Kami terima telepon dari warga bernama Kasman jika ada orang luka terkena tembak. Kita langsung ke TKP menjemput tersangka, yang mengalami tiga luka berlubang bekas tembakan. Lukanya sudah mulai mengering dan mengalami infeksi,” ungkap Kapolsek Pitu Riase Iptu Syukur yang dihubungi, Selasa (15/12).
Karena luka yang dialaminya cukup serius, Muhajir akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar dengan pengawalan ketat aparat Polres Sidrap dan unit Resmob Polda Sulselbar.
Sebelumnya, sebanyak 50-an warga melakukan pencarian di dalam hutan terhadap Muhajir yang berhasil lolos dalam penyergapan yang dipimpin Kasubdit 1 Resmob Polda Sulselbar Kompol Yadin. Setelah dilakukan pencarian selama beberapa jam, akhirnya pada pukul 17.00 Wita, lelaki Kasman bersama rombongan warga Desa Lagading mendapatkan Muhajir sedang terbaring di rumah kebun milik lelaki Muin, tepatnya di Dusun IV Kanyuara, Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase.
“Muhajir berhasil kami evakuasi keluar bersama warga dengan menggunakan mobil truk menuju ke Lingkungan 3 Wala, Kelurahan Batu Pitu Riase. Kemudian selanjutnya dievakuasi menuju rumah Kepala Desa Lagading dengan menggunakan mobil Avanza, sebelum akhirnya dibawa ke RSU NeneMallomo untuk mendapat pengobatan dan perawatan,” terang Kapolsek Iiptu Syukur.
Kapolres Sidrap, AKBP Anggi Naulifar Siregar melalui Kasat Intelkam AKP Fantry Taherong membenarkan tersangka Muhajir yang semula dikabarkan buron, kini sudah diamankan. “Kondisinya memang sekarat saat warga menemukannya. Tadi malam (Senin malam) tersangka dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk pertolongan lanjutan,” ungkap AKP Fantry di ruang kerjanya, kemarin.
Menurut Fantry, pengungkapan kasus curnak ini berawal dari pengembangan kasus kepemilikan senjata api organik laras panjang kaliber 53 oleh unit Reskrim Mobile (Resmob) Polda Sulselbar.
“Saat hendak dibekuk, komplotan curnak ini melakukan perlawanan dengan membalas tembakan aparat. Setelah dikembangkan, ternyata para pelaku selama ini menggunakan senpi itu untuk mencuri dan merampok ternak milik warga. Warga Kecamatan Pitu Riase kemudian melaporkan adanya warga lain memiliki senjata laras panjang dengan peluru tajam lengkap peredam suara,” beber Fantry.
Menurutnya, polisi masih melakukan pengembangan untuk mengetahui asal muasal senpi organik laras panjang, lengkap dua buah magasine dan 21 buah peluru tajam kaliber 53 yang disita dari tangan komplotan curnak ini.
“Dua pucuk senjata laras panjang lengkap peredamnya, serta dua parang dan puluhan utas tali pengikat sapi berhasil disita. Termasuk satu ekor kerbau dan lima ekor sapi diamankan. Belum diketahui dari mana para tersangka mendapatkan senpi itu dan amunisinya. Polda masih mengusutnya,” jelas Fantry lagi.
Sementara Kasat Reskrim AKP Chandra Yudha Pranata menambahkan, sejauh ini penyidik masih mengumpulkan laporan korban terkait kasus kehilangan ternaknya. Termasuk berkoordinasi dengan peternakan PT BULI, apakah juga pernah kehilangan ternak sapinya. Juga berkoordinasi dengan Polres Wajo, karena adanya surat kepemilikan ternak yang dikeluarkan salah satu depala desa di Wajo.
“Kemungkinan besar juga ada TKP di Kabupaten Wajo karena ada laporan warga telah kehilangan ternak. Tapi itu masih kita duga. Kebenarannya masih dikoordinasikan dengan Polres Wajo,” bebernya.
Untuk kepentingan penyidikan, ternak sapi dan kerbau yang disita di lokasi penggerebekan, tambah Chandra, saat ini dititip sementara di Polsek Pitu Riase. Sementara senpi telah diamankan di Polres Sidrap.
“Sementara ini kita masih mengumpulkan bahan keterangan (pulbaket). Kasus curnaknya yang kami fokus tangani. Sementara kepemilikan senpinya ditangani langsung Reskrimum Polda Sulselbar. Barang bukti ternak dititip di Polsek,” terang AKBP Chandra.
Sementara, Kasubdit 1 Resmob Kompol Yadin yang dihubungi, kemarin belum bisa memjelaskan asal senjata yang didapat para pelaku curnak. “Kami masih teliti senpi organik itu. Dugaan kami, kemungkinan satu pucuk senjata itu adalah hasil perpaduan senapan angin yang dirakit pelaku dan satunya memang organik. Namun tidak ada nomor register yang tertera di laras senjata. Kami masih menelusuri asal usulnya,” jelas Kompol Yadin. (ady/rus/b)
DPO Kasus Curnak Sekarat Tertembak
Sempat Kabur ke Hutan saat Digerebek Polisi
×

