GOWA, BKM — Akibat tingginya intensitas hujan beberapa hari terkahir, air di Sungai Jeneberang mengalami keruh. Kondisi ini mengakibatkan pihak Perusahaan Daerah Air Mimum (PDAM) Gowa kesulitan menetralisiri air yang akan dipasok ke pelanggan.
NTU (Nephelometric Turbidity Unit) atau yang dikenal sebagai satuan kekeruhan air di Sungai Jeneberang, saat ini mencapai antara 7.000 hingga 10.000 NTU atau jauh dari status normal yang hanya 500 hingga 700 NTU saja.
Peningkatan NTU itu dibenarkan Direktur Bidang Teknik PDAM Gowa, Irianto Razak. Irianto mengatakan, akibat naiknya NTU itu membuat proses penjernihan air baku mengalami peningkatan pembiayaan. Tentunya kata Irianto, proses penjernihan menjadi lebih lama dan penggunakan bahan kimia pun menjadi tinggi. “Puncaknya bahkan sejak Jumat prkan kemarin dimana NTU mencapai 8.000. Kondisi ini membuat semua unit instalasi kantor PDAM Gowa terganggu,” kata Irianto, Senin (21/12).
Dikatakan proses terganggu sebab, PDAM hanya bisa menjernihkan sekitar 50 liter per detik. Padahal jika tingkat kekeruhan air baku normal, maka penjernihan bisa menghasilkan 150 liter per detik.
Irianto juga mengatakan, kemungkinan besar kondisi kekeruhan akan lebih tinggi beberaoa hari ke depan melihat kondisi cuaca yang makin meningkat pula. Bisa jadi intensitas material lumpur yang mengalir ke dalam air baku makin tinggi. Akibat kondisi tersebut, sejumlah pelanggan sudah mengeluhkan minimnya pasokan air dari PDAM yang kini memiliki sebanyak 30.431 pelanggan baik dalam maupun luar ibukota kabupaten.
Guna menjawab keluhan pelanggan, PDAM pun mengambil insiatif membantu pelanggan dengan menurunkan armada mobil tangki untuk memberika pelayanan ke pelanggan.
“Kita memiliki tiga unit mobil tangki, namun untuk sementara hanya satu yang bisa digunakan jika ada pelanggan yang meminta air bersih, kita akan antarkan langsung tanpa biaya tambahan,” jelasnya.
Gudairi, operator bagian produksi PDAM Gowa menyebutkan, air baku dijernihkan melalui alat treatment hingga tingkat kekeruhan 1 NTU, baru bisa disalurkan ke pelanggan. Sedangkan produksi air layak pakai dipengaruhi tingkat kekeruhan air baku. Jika sudah dijernihkan dan tidak berubah maka air itu dibuang. (sar-ril/c)
PDAM Kewalahan Jernihkan Air Baku
×

