BARRU, BKM — Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus mewabah di Kabupaten Barru dan merenggut dua nyawa akibat virus nyamuk aedes egypti ini. Dua bocah yang meregang nyawa
karena DBD yakni Muhammad Kahfi (9) warga asal Desa Pancana Kecamatan Tanete Rilau dan Shakira Aida (8) asal Desa Garessi Kecamatan Tanete Rilau.
Sekretaris RSUD Barru, Alimuddin ketika dihubungi BKM, Senin (4/1) sore menjelaskan Kahfi meninggal dunia akhir Desember 2015 lalu sedangkan Shakira meninggal awal Januari 2016. Selain sudah merenggut dua nyawa kini 50 pasien suspect dan positif DBD sedang di rawat di RSUD Barru. Bahkan pihak Rumah Sakit kewalahan mengatasi pasien DBD
yang terus membludak.
“Pasien DBD yang memerlukan rawat inap di RSUD Barru sudah mencapai 50 orang,” aku Alimuddin.
Sementara itu Kepala Puskesmas Pekkae, H Taswi menambahkan kedua bocah yang meninggal dunia karena DBD diakuinya pernah dilakukan rawat nginap di Puskesmas Pekkae. Namun keduanya dinyatakan meninggal dunia setelah mereka kembali ke rumahnya. ”Meski pihak Puskesmas sudah menyarankan agar kedua anak positif DBD ini dirawat intensif di Puskesmas saja tapi pihak keluarga sendiri yang meminta untuk melakukan perawatan sendiri
di rumahnya aku,” tandas Taswi.>
Taswi menyatakan saat ini sedang merawat 35 suspect dan 4 positif DBD di Puskesmas
Pekkae. “Pasien DBD yang rawat inap ada yang datang langsung dan ada juga yang merupakan rujukan dari beberapa Pustu di Kecamatan Tanete Rilau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pembertantasan Penyakit Menular (P2PL) Dinkes Kabupaten Barru, Idris yang dihubungi secara terpisah, membenarkan adanya dua bocah meninggal dunia akibat DBD.
Kepala Dinas Kesehatan sendiri sudah menyatakan bahwa kondisi DBD di Barru sudah dinyatakan KLB. Meski begitu, daerah ini memang termasuk wilayah endemis DBD. Untuk mengatasi wabah DBD. Pihak Dinkes telah melakukan berbagai upaya seperti fogging dan penyuluhan kepada masyarakat
Dari data yang dihimpun melalui Kepala Seksi Pengamat Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan, Nurlina menyebutkan kasus DBD
hingga periode Desember 2014 hanya mencapai 52 kasus dan jika dibandingkan dengan data hingga periode Desember 2015, ternyata kasus DBD mencapai 93 kasus.
“Dari angka ini terjadi peningkatan cukup fantastis. Warga juga perlu diberikan pengertian bahwa langkah fogging dilakukan kalau ada kasus,” tandas Nurlina.
Dinkes kata Idris dan Nurlina hanya sebagai lembaga teknis, sehingga untuk melakukan pencegahan terhadap wabah DBD. Sangat
dibutuhkan peran serta masyarakat, mulai dari 3M plus, abatesasi dan terakhir baru bisa dilakukan langkah fogging.
Wabah DBD Ini merupakan siklus 5 tahunan untuk seluruh Indonesia. Makanya pihak Dinkes mengharapkan warga perlu waspada terhadap DBD. Apa yang diklaim pihak RSUD bahwa ada sekitar 50-an pasien dirawat akibat DBD. Itu
sah saja, namun perlu diketahui bahwa tidak semua pasien yang mengalami Demam bisa diklaim positif DBD.
Namun bisa saja baru mengalami suspect. “Jadi perlu dicross chek data di RSUD. Siapa tahu data pasien itu merupakan gabungkan data
suspect dan positif!” Pinta kedua Pejabat Dinkes ini. Ditambahkan keduanya, jika pihak Dinkes telah melakukan proses tindaklanjut mulai dari Puskesmas.
“Begitu pula dengan fokus fogging terbatas dilakukan karena keterbatasan dana sehingga tahun ini cuma 25 fokus saja,” tambahnya (udi/B)

