MAKASSAR, BKM — Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel menunjukkan angka penderita demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah dan semakin mengkhawatirkan.
Dalam kurun waktu sebulan lebih, mulai Januari hingga awal Februari, tercatat sebanyak 575 penderita DBD di seluruh Sulsel, 11 diantaranya meninggal dunia.
Pasien yang meninggal di Kabupaten Bone tiga orang, Pangkep tiga orang, Bulukumba dua orang, Gowa dua orang, dan Kabupaten Barru satu orang.
Sementara itu, dari 24 kabupaten/kota di Sulsel, jumlah penderita DBD karena nyamuk Aedes Aegypti terbanyak berada di Palopo, sebanyak 83 kasus.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Nurul, Jumat, (5/2) menjelaskan, daerah lain dengan penderita DBD cukup banyak diantaranya Lutra 80 kasus, Pangkep 80 kasus, dan Bulukumba 29 kasus.
“Data ini belum semuanya masuk, untuk bulan ini baru lima daerah yang melaporkan,” kata Nurul.
Angka tersebut, lanjut Nurul diperkirakan masih akan terus bertambah karena sejumlah daerah belum memasukkan laporan.
Karena jumlah pasien DBD yang semakin meningkat, Pemprov Sulsel sudah menyatakan Sulsel berstatus waspada.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Rahmat Latief meminta masyarakat segera melakukan pemeriksaan kesehatan apabila dalam dua hari mengalami demam yang tak kunjung sembuh. Pasalnya, penanganan DBD harus dilakukan dengan segera agar tidak berakibat fatal.
Dia menekankan agar masyarakat pro aktif melakukan pencegahan.
“Masyarakat harus kembali menggerakkan 3 M yakni menguras, mengubur, dan menutup,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat mengaktifkan Gerakan 1 rumah 1 jumantik.
Menyikapi status waspada DBD di Sulsel, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang meminta masyarakat untuk terus waspada menghadapi penyakit menular ini.
Saat ini, kata Agus, pihaknya sementara meminta tambahan bantuan logistik bahan penanggulangan kasus DBD, utamanya rapid diagnostic test (RPT).
Langkah antisipasi yang telah dilakukan diantaranya membuat surat edaran gubernur ke kabupaten/kota untuk waspada DBD.
Langkah lain yang dilakukan adalah lebih banyak mempersiakan RPT dan intens melakukan fogging.
Kemarin, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang bersama Walikota Pare-pare, Taufan Pawe mengunjungi pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum (RSU) Andi Makkasau.
Taufan memerintahkan agar pihak RSU Andi Makkasau Pare-pare pelayanan medis yang maksimal. Pasien penderita DBD yang dirawat di RSU Andi Makkasau Pare-pare didominasi anak-anak.
Terpisah, anggota Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Iqbal Djalil mengungkapkan, Dinas Kesehatan Makassar harus responsif untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah penderita DBD.”Dinkes harus cepat merespon kasus seperti ini, jangan sampai makin banyak penderita. Apalagi masih musim penghujan, dimana kasus DBD meningkat.” kata Ije sapaannya, di kantor DPRD Makassar, kemarin.
Walau begitu, Ije mengaku sejauh ini Dinkes telah menunjukkan beberapa upaya agar penderita DBD tidak memakan korban yang lebih banyak.”Terlihat sudah ada beberapa upaya, bisa dibilang dinkes sudah merespon kasus DBD,” ungkapnya.
Ije juga mengimbau agar masyarakat tidak saja mengandalkan pemerintah dalam pencegahan DBD, namun harus ada kerjasama antara seluruh masyarakat, seperti menjaga kebersihan disekitar tempat tinggal.”Masing-masing harus punya pencegahan dini, baik di lingkungan keluarga, asyarakat untuk membiasakan hidup sehat,” terangnya.
Apalagi, katanya, Makassar yang tengah menuju kota dunia, harus memperlihatkan kota yang bersih, nyaman ditinggali dan bebas dari berbagai serangan penyakit.”Kondisi ini hanya bisa tercipta dengan gotong royong antara masyarakat di lingkungan tempat tinggal,” katanya.(rhm-ita/b)

