SESUATU hal unik barangkali kita dengar ketika berbicara tentang suatu daerah yang memiliki julukan unik. Dia adalah pulau Lombok. Pulau ini mempunyai julukan sebagai pulau Seribu Masjid dengan Sejuta’ Maling ‘dan Seratus Janda.
Pulau Lombok yang masuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bercerita tentang obyek wisatanya yang wah. Bahkan tak sedikit ada menyebutnya sebagai pulau Bali ke dua. Hanya yang menjadi pembeda dengan pulau Bali adalah pulau Lombok mayoritas penduduknya muslim.
Disana juga bisa dengan mudah menemukan masjid megah sepanjang jalan desa.
Pulau Lombok ini terbagi dalam empat kabupaten yakni Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Barat.
Hal unik kedengarannya karena pulau ini disebut memiliki seribu mesjid. Lebih aneh lagi karena warga setempat menyandingkannya dengan istilah ‘Sejuta Maling’. Apa maksudnya?
Menurut Imron, pemandu wisata menjelaskan disalah satu Dusun Desa Sade Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah terdapat suku yang namanya Suku Sasak. Suku asli Pulau Lombok berasal dari etnik Astronesia.
Mereka menempati desa ini dan menjadikannya sebagai desa wisata budaya. Apalagi masyarakat disini masih memegang teguh adat dan budaya warisan nenek moyangnya.
Desa Sade jelas Imron merupakan desa tertua Suku Sasak dan kini berkembang menjadi sembilan kampung. Di huni kurang lebih 200 KK dengan jumlah penduduk tujuh ratusan orang. Mayoritas penduduknya muslim
Pernikahan Suku Sasak juga terbilang unik. Pengantin pria diharuskan menculik gadis pujaannya sebelum prosesi pernikahan. Setelah diculik, warga menyebutnya ‘dicuri’ seperti maling. Orang tua pria akan meminta seorang penengah atau disebut penyelabar agar dipertemukan dengan pihak keluarga perempuan.
Penyelabar itu akan melaporkan kepada ketua adat dan orang tua perempuan. Penyelabar ini yang mengabarkan bahwa anak gadis dari orang tua si perempuan telah diculik. Pihak pria serius untuk menikahinya.
“Kalau pria meminta secara baik-baik kepada orang tua perempuan, nanti malah gadis itu dianggap barang. Tapi kalau dicuri justru menjadi terhormat,” tutur Imron
Nah, dari adat inilah alasan Lombok disebut sebagai pulau sejuta “maling”. Bukan berarti di Lombok banyak pencurian dan tidak aman, tetapi terkait cara perkawinan di Suku Sasak yang harus dilakukan dengan cara melarikan anak gadis orang.
Lain halnya dengan sebutan Seratus Janda. Ini dikarenakan penduduknya setelah menikah, pria banyak merantau ke Malaysia dan saat pulang mereka membawa banyak uang dan menikah lagi sehingga isteri yang mereka ceraikan disebut janda Malaysia. Maka lahirlah julukan Lombok Sejuta Maling seratus janda.
Imron menambahkan anak gadis Suku Sasak, tidak akan diculik apabila belum bisa menenun kain songket khas Lombok. Rata-rata gadis Sasak menikah pada usia 15-16 tahun dan pria menikah diusia 18-19 tahun.
”Orang tua telah mengajari anak gadisnya menenun sejak usia 9 tahun. Menenun kain adalah pekerjaan perempuan disela-sela menunggu suami atau pria bermata pencaharian sebagai petani sawah tadah hujan,” kunci Imron. (ono/C)

