CUACA sore itu sangat cerah, tidak ada tanda-tanda mendung sedikitpun terlihat di langit Kota Makassar. Suasana itu seolah-olah membisik di telinga untuk merasakan keindahan sore di Benteng Somba Opu.
Laporan: RAHMAN
Salah satu benteng terkuat yang pernah dibangun di bumi nusantara ini, masih menjadi lokasi yang sering dikunjungi para wisatawan. Wisatawan masihtertarik mengunjungi benteng tersebut.
Benteng yang terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, masih tetap berdiri kokoh. Jaraknya sekitar enam kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar.
Dalam lokasi benteng tersebut terdapat duplikat rumah adat tradisional Sulawesi Selatan seperti rumah tradisional Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar.
Saat penulis duduk di teras Museum Pattingalloang di dalam lokasi benteng, terlihat seorang kakek tua yang duduk sendiri sambil sesekali membunyikan alat komunikasinya berupa handy talky (HT).
Setelah berbincang beberapa menit ternyata kakak tua tersebut adalah Deng Tayang (60) tahun petugas penjaga Benteng Somba Opu.
Selain menjaga benteng, Deng Tayang juga mendapat tugas tambahan membersihkan lantai dan halaman rumah Museum Pattingalloang. begitu pun dengan baruga, rumah adat Kajang, rumah adat Mandar dan rumah adat Bugis.
Tugas yang dia pikul setiap hari tidak membuat Dg Tayang mengeluh dan putus semangat. Kelima rumah bersejarah itu menjadi sebagai saksi pengabdian Dg Tayang yang tidak pernah pudar dan putus asa.” Setiap hari saya membersihkan lantai dan halaman rumah adat. Saya bangga bisa menjaga museum bersejarah ini,” kata Dg. Tayang, sambil sesekali mengusap keringat di dahinya.
Menurutnya, museum dan keempat rumah adat masih menjadi tanggung jawab pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, sementara rumah adat yang lain seperti rumah adat daerah adalah tanggung jawab daerahnya sendiri.”Ini ji yang ditanggung pemprov. Kalau rumah adat yang lain masing-masing ditanggung oleh daerahnya sendirinya,” jelasnya.
Dari perjalanan panjangnya mengabdi sebagai penjaga lokasi bersejarah, dia mengaku bangga karena diberikan kepercayaan.” Pasti banggalalah menjaga lokasi bersejarah,” tuturnya.
Apalagi dia tidak sendiri, karena ditemani dengan tiga orang sekuriti dan juga dihibur oleh pengujung yang rata-rata mencapai 50 orang perbulan.
Untuk tahun ini saja, jelas Dg Tayang pengunjung telah mencapai 132 orang yang terbagi pada bulan Januari sebanyak 56 orang, bulan Februari sebanyak 35 orang dan Maret sebanyak 41 orang.
Usai bertemu Dg Tayang, penulis kembali mengelilingi lokasi benteng. Beberapa rumah adat sudah terlihat rusak seperti atap, plafon dan sudah ada yang mulai terlihat tua. Belum ada tanda-tanda pemerintah akan melakukan pembenahan di rumah adat tersebut.(man/war)

