GOWA, BKM — Meski ada wilayah di Kabupaten Maros terserang flu burung dan mengklaim bahwa sumber penyakit unggas itu berasal dari Kabupaten Gowa, akhirnya dibantah keras pihak Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (PPK) Kabupaten Gowa.
Sekretaris Dinas PPK Gowa, Junaedi didampingi Kabid Keswan, drh Sugiarti dan Kasubdin Usaha Ternak dan Keswan, Andi Kelana mengatakan, sejauh ini Gowa masih aman dari penyakit unggas baik itu flu burung maupun tetelo.
“Tidak benar jika ada yang menyebutkan bahwa di Gowa terjadi flu burung. Dari 18 kecamatan kami sudah melakukan koordinasi dengan para petugas Keswan kami dan tak satupun membenarkan ada wilayahnya yang terserang flu burung. Tidak ada satupun laporan petugas. Jika ada, tentulah para petugas keswan di kecamatan akan
melaporkan dan melakukan investigasi. Dulu pernah ada kasus flu burung tapi bukan murni terjadi di Gowa. Setelah kami telusuri ternyata itu hanya lewat yakni dimana ayam-ayam itu dari dipasok dari Takalar ke Maros. Jadi bukan terjadi di Gowa,” jelas Junaedi di kantornya, Rabu (30/3).
Ditambahkan Kabid Keswan, Sugiarti bahwa petugas Keswan di Gowa rutin melakukan vaksinasi flu burung. “Yang paling rentang mengalami flu burung itu adalah ayam kampung sebab tidak terjamin bio securitynya. Beda dengan ayam pedaging dan ayam petelur selain karena siklus pemeliharaannya pendek yakni hanya 28 hari saja, ayam potong dan ayam petelur juga sangat terjamin bio securitynya,” jelas drh Sugiarti.
Disebutkannya jumlah populasi unggas di Gowa cukup besar. Untuk jenis ayam kampung sebanyak 901.426 ekor dan untuk jenis broiler mencapai 1.774.458 ekor sementara untuk ayam petelur sebanyak 643.460 ekor.
Diakui Sugiarti, tahun 2015 di Gowa pernah terjadi musim tetelo yakni jenis penyakit unggas yang mematikan namun tidak menular ke manusia. Gejalanya sama dengan penyakit flu burung, namun flu burung ini dapat menular ke manusia.
Pada saat terjadi ND atau tetelo ini, sebanyak 700 ekor ayam yang mati dari 1.500 ayam petelur milik seorang peternak ayam baru di wilayah Kecamatan Pallangga.
“Kami kemudian langsung melakukan vaksin tetelo di wilayah tersebut dan sekitarnya. Kemudian kami lakukan bio security. Semua peternak diminta harus memperhatikan jaminan bio security peternakannya. ND atau tetelo ini penyebabnya juga virus tapi tidak menular ke manusia hanya ke unggas saja. Beda dengan flu burung karena selain menular ke unggas juga bisa menular ke manusia. Kami sudah periksa dengan bedah bangkai yang mengalami bintik-bintik merah (ciri khas ND),” tambah Sugiarti.
Dijelaskannya penyakit telelo atau Newcastle Disease (ND) ini biasa juga disebut dengan istilah penyakit Samper Ayam ataupun Pes Cekak. Dimana penyakit ini merupakan suatu infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan. Penyakit ini disebabkan oleh virus Paramyxo. Penularannya hanya kepada sesama unggas. (sar-ril)

