MAKASSAR, BKM– Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Temu Ilmiah Internasional Kedokteran Gigi (TIIKG) 2016.
Selain temu ilmiah, FKG juga menggelar Seminar 9 tahun Internasional Musyawarah Ilmiah Kedokteran Gigi yang bertema “Menuju Pelayanan Unggul Kesehatan Oral Penghubung Penelitian dan Praktek Klinis di Kedokteran Gigi”.
Dalam seminar tersebut terungkap berbagai persoalan yang mendera para dokter gigi termasuk pelanggaran profesi sampai gaji para dokter yang tidak begitu seimbang.
Salah seorang moderator FIIKG, drg Andi Tajri MKes Sp BM mengatakan, masalah pelanggaran yang diduga dilakukan dokter gigi tidak diselesaikan di kode etik kedokteran, tetapi begitu mudah dilaporkan ke aparat penegak hukum.kompetensi kedokteran gigi pun, jelas Andi Tajri dilakukan sekali seumur hidup walaupun undang-undang menyatakan hal tersebut.
“Kalau tidak mau dibina ya silahkan uji kompetensi, harus punya kompetensi,” bebernya.
Selain itu, jelas dia, pemerataan dokter gigi belum merata di Indonesia, termasuk yang bekerja di Kawasan Timur Indonesia khususnya wilayah kepulauan, pinggiran dan perbatasan.
“Mudah-mudahan pemerintah kedepan memperhatikan hal tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Dr drg Andi Sumidarti MKes juga mengeluhkan gaji dokter gigi di Indonesia yang hanya Rp11 juta se bulan, yang dirasakan belum cukup dan memadai.
Ketua panitia kegiatan, drg Ruslin M.Kes Sp.BM mengatakan, kegiatan temu ilmiah bukan hanya dihadiri dokter gigi di Indonesia, tetapi juga peserta luar negeri seperti dari Belanda, Taiwan, Korea, Jepang , Malaysia, Hongkong dan Singapore. Tak hanya itu, kegiatan ini akan isi 163 pembicara dalam maupun luar negeri dengan 38 pembicara utama dan 17 pembicara dari luar negeri.
Menyikapi hal itu, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, DR drg Bahruddin Thalib M.Kes Sp.pros berharap momentum temu ilmiah internasional FKG di usia ke -33 ini sebagai dasar memperkenalkan Unhas ke luar negeri.(ita/war)
FKG Unhas Gelar Temu Ilmiah
×

