pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pernah Ditegur Jamaah Karena Masjid Kotor

SUKA duka menumpang dan menjaga masjid tidak selalu dilalui dengan perasaan nyaman. Kalau penjaga masjid mampu membersihkan masjid dengan baik maka kebahagiaan itu ada, tetapi jika tidak, maka teguran dan caci maki bisanya datang dari jamaah.

Laporan: RAHMAN

Hal tersebut juga pernah dirasakan Harianto, Pembersih dan Penjaga Masjid Babul Jannah, Jalan Mannuruki.
“Iya biasa saya di caci sama jamaah terutama yang tua kalau mereka melihat masjid tidak terlalu bersih,” kata Anto.
Namun bagi, mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar, teguran itu hanya ujian dan introspeksi diri untuk lebih baik lagi.
Sambil mencuci kakinya karena debu, Anto di depan penulis sempat menceritakan awalnya tinggal di masjid. Menurutnya, dia tinggal di Masjid Babul Jannah hanya ikut dengan keluarganya yang tinggal di masjid yang sama. Kebetulan, kelurganya juga mahasiswa yang mengeyam pendidikan di perguruan tinggi yang sama.
Selain di Masjid Babul Jannah, dia juga sempat menumpang dan menjaga Masjid Muhajirin, Jalan Syech Yusuf Minasa Upa atas ajakan teman kampusnya. Tetapi hanya berselang satu tahun.
Di masjid Babul Jannah dan Muhajirin, dia diberi tugas yakni menjadi Imam Masjid setiap salat subuh dan mengajar mengaji anak-anak santri yang bermukim di sekitar masjid tersebut.
Yang paling dia syukuri adalah dirinya mendapat intensif kebersihan yang melebihi dari cukup untuk kebutuhan kuliahnya. Saat ini, dia mendapat intensif sebesar Rp800 ribu per bulan dengan dua sumber yakni intensif kebersihan sebanyak Rp500 ribu per bulan dan intensif Taman Baca Al-Quran (TPA) sebanyak Rp300 ribu perbulan.”Setiap bulan saya dapat Rp800 ribu. Rp500 untuk kebersihan dan Rp300 untuk TPA,” Kata pria asal Daerah Bakka ri Tallang itu.
Dirinya sangat bersyukur dengan tinggal di Masjid karna mampu mencari uang sendiri alias hidup mandiri tanpa membebani orang tuanya.
Baginya, mencari kebaikan dan menuntut ilmu memang sangat sulit dan butuh perjuangan keras, kesabaran dan ketabahan. Apalagi, dia hanya berlatar belakang dari keluarga petani yang hidup pas-pasan di perkampungan terpencil di Desa Tallang Rilau, Kecamatan Bungin, Kabupaten Enrekang.
Untuk mencapai cita-citanya itu, dirinya harus berpikir keras apalagi hidup di tengah kota Metropolitan seperti Makassar yang merupakan dunia baru baginya, Anto sapaan akrabnya memilih tinggal di Masjid.
Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh dengan tinggal di masjid, disamping menambah ketaatan dan ilmu agama, juga bisa mengurangi pengeluaran untuk biaya hidup.
“Tinggal di masjid biaya lebih hemat, beda kalau kita kos-kosan atau ngontrak rumah harus mengeluarkan biaya tambahan. Selain itu, dengan tinggal di masjid saya bisa khusuk beribadah dan juga bisa bantu-bantu orang, minimal menyalurkan ilmu yang dipelajari di kampus,” katanya sambil sesekali mengusap keringat yang menempel di dahinya.
Ditanya soal harapannya, ia hanya meminta agar jamaah lebih memakmurkan dan meramaikan masjid. Sebab terkadang jamaah kurang saat jadwal salat tiba. Kehidupannya sebagai menjaga dan pembersih masjid akan terus ia lakoni, hingga selesai kuliah dan bisa membahagiakan orangtua.(man/war)



×


Pernah Ditegur Jamaah Karena Masjid Kotor

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar