SETIAP orang selalu rindu akan kampung halaman. Kerinduan itu makin memuncak di saat ada momen hari raya seperti lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha. Kadangkala kaki tak ingin lagi diam untuk cepat-cepat berada di kampung halaman.
Laporan: JUNI SEWANG
Impian itu-pun selalu ada dibenak Adi (29) tahun, tukang becak motor (Bentor) yang sehari-harinya berada di depan pusat perbelanjaan Grand Toserba.
Bukan tanpa alasan memilih untuk merayakan hari Lebaran di kampung halaman di Kabupaten Jeneponto. Ia mengaku ada suasana yang kerap membuatnya rindu untuk pulang setiap kali hari raya umat muslim dunia itu datang, yakni memasak menu khas lebaran bersama ibu dan adik perempuannya.
“Saya suka bantu ibu memasak juga. Untuk lebaran ini biasanya kami masak bareng buras (ketupat) dan memasak menu khas lebaran lainnya,” ujar Adi kepada penulis.
Menurut Adi, lebaran merupakan momen indah untuk berkumpul dengan sanak keluarga sekaligus bersilaturahmi dengan teman-teman masa kecil di Jeneponto.
“Setiap lebaran saya selalu kumpul sama teman masa kecil. Sedikit bernostalgia dan cerita-cerita masa lalu juga,” cetusnya lagi.
Menurut Adi, mengumpulkan uang untuk mudik lebaran sebagai seorang tukang bentor bukanlah hal yang mudah dan bukanlah pekerjaan yang membanggakan. Karena penghasilan dari pekerjaan ini hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari saja. Pekerjaan ini juga penuh resiko karena bertanggung jawab langsung dengan keselamatan orang lain.
Memang kata Adi, di momen Bulan Suci Ramadan pendapatan di bentor lumayan meningkat.”Lumayan pendapatan di bulan Ramadan. Saya bisa sisihkan untuk biaya angkutan ke Jeneponto bersama istri dan dua anak saya,” ujarnya.
Ditanya berapa keuntungan yang didapatkan setiap harinya, pria yang agak pendiam ini mengaku dari Rp200 hingga Rp300 ribu per hari.
“Pendapatan selama Ramadan ini alhamdulillah meningkat. Setiap harinya saya bisa membawa pulang Rp200 hingga Rp300 ribu per hari. Apalagi, penumpang yang berbelanja di Grand Toserba sangat banyak,” katanya.
Bersama penulis, Adi juga menyempatkan waktu untuk bercerita soal kehidupan para tukang bentor di Kota Makassar.
Menurutnya, semua orang tidak ingin bekerja sebagai pa bentor. Menjadi tukang bentor mungkin hanya sekian profesi yang disenangi orang. Banyak pahit manisnya berprofesi sebagai tunag bentor.
“Sebagai pa bentor kita rela membagi rezeki bersama teman-teman sesama pa bentor. Kita juga harus ikhlas jika ada penumpang yang kekurangan uang untuk membayar jasa bentor,” tegas Adi.
Bahkan kata pria yang bermukim di Jalan Hertasning ini, bekerja sebagai tukang bentor sudah lama dia geluti, termasuk menjadi tukang bencak yang digelutinya saat masih menginjak usia belasan tahun.
Apalagi, di saat sebagian orang di Kota Makassar masih tidur setelah bangun sahur di saat-saat Ramadan ini, Adi memulai aktifitasnya bersama bentor kesayangannya pukul 06.00 Wita pagi. Semua itu tekun iya laksanakan karena tanggung jawabnya akan hidup orang-orang yang dicintainya.
“Saya harus bekerja keras demi membiayai hidup istri dan dua anak saya. Termasuk menyisihkan tabungan untuk biaya kontrakan rumah kecil di belakang STIKES Mega Resky,” jelas Adi.
Selain berprofesi sebagai tukang bentor, dia juga mengaku kadang bekerja sambilan menjadi buruh bangunan. Itupun kalau ada tetangga atau temannya yang memanggilnya bekerja sebagai buruh.(jun/war)

