PARA PEBISNIS kaos distro rata-rata masih muda, semangat dan kreatif. Inilah yang menjadi salah satu keuntungan Iqbal Wildan dalam menjalankan usahanya. Dia senantiasa memenuhi tempat usaha dengan baju-baju distro yang unik.
Laporan: ARIF AL QADRY
Maksudnya, kaos yang di jual di tempat Iqbal tidak ada duanya di tempat lain. Selain memiliki produk yang unik, bisnis baju distro Iqbal juga menawarkan harga yang bersaing.
Bermodal sebuah mobil hitam yang digunakan untuk menyimpan barang dan tiang serta hanger, Iqbal mulai memajang ratusan pakaian yang dimiliki, dia bersama tiga orang karyawannya setiap hari harus siap melayani ratusan pengunjung yang datang baik yang hanya sekadar melihat lihat sampai membeli.
Tidak jarang, Iqbal juga harus membantu karyawannya mengatur pakaian yang telah di lihat lihat pengunjung.
Sejak pukul 17:00 Wita, Iqbal bersama beberapa karyawannya sudah sibuk mengatur lapak dan pakaian yang dijajakannya. Kesibukan Iqbal bersama tiga karyawannya akan mulai terlihat sejak pukul 19:00 Wita yang dimana kepadatan pengunjung sudah mulai ramai.
Momen seperti itu begitu sangat ditunggu, karena untuk menarik perhatian pengunjung lainnya. Disamping itu, pengawasan yang tinggi juga tak luput dilakukan Iqbal. Apalagi, saat momen menjelang lebaran Idul Fitri. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah pencurian yang dilakukan sekelompok orang nakal dan jail.
“Kalau ramai hampir setiap malam kita selalu ramai. Kita tidak ingin kecolongan, selama pengawasan tinggi saya rasa semua aman,” katanya.
Ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 00:00 Wita, Iqbal bersama karyawannya sudah harus bergegas membereskan pakaian yang ada. Karena, waktu tersebut dimana aktifitas masyarakat sudah sepi.
Pria 29 November 1987 ini mengaku, peluang usaha kaos distro saat ini sangat di gemari kalangan anak muda dan para gadis. Apalagi, bisnis kaos distro adalah bisnis yang hampir tidak ada ruginya. Karena semua barang yang dijual tidak mudah basi, tidak mudah rusak, dan yang pasti akan selalu ada peluang menjualnya.
“Bisnis ini tidak ada ruginya. Anak-anak muda dan para cewek lebih meminati kaos distro, karena disamping harganya murah, kwalitasnya juga baik. Kalaupun ada yang tidak laku, kami akan kumpulkan menjadi satu, dan menitipkan ke pedagang-pedagang di pasar,” jelas Iqbal saat ditemui penulis.
Sambil sesekali membereskan pakaian untuk digantung di lokasi jualannya di Jalan Toddopuli Raya, Iqbal mengaku, selain membutuhkan modal untuk berusaha, tetapi yang terpenting memiliki semangat dan kecintaan di suatu bidang usaha.
“Yang terutama kita harus memiliki kecintaan terhadap usaha. Saya membuka usaha penjualan kios distro karena saya punya kecintaan fashion,” ujar Iqbal.
Pria dengan nama lengkap Iqbal Wildan Ferdy R ini sudah puluhan tahun menggeluti bisnis pakaian distro yang dimulai dari rumah ke rumah sampai membuka lapak sendiri.
Dimulai pada tahun 2010 lalu, pria yang sudah memiliki satu orang anak itu mengaku awal membuka usaha pakaian dengan menjual sebanyak dua lusin pakaian atau dengan jumlah 24 pcs. Pakaian yang dijualnya dia pesan dari kerabatnya yang kebetulan tinggal di luar daerah tepatnya di Bandung.
Dengan modal yang cukup dengan kisaran Rp1 juta yang diambil dari tabungannya setelah bekerja di salah satu perusahaan swasta, dia memberanikan diri untuk memesan beberapa lembar pakaian untuk dijual kembali.
Bahkan beberapa hari menjual pakaian melalui pemesanan via telpon yang dipromosikan dari mulut ke mulut, dia kemudian memilih untuk fokus menjual pakaian dan memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di perusahaan swasta dan lebih ingin mandiri.
Lembar per lembar mulai terjual, keuntungan sudah mulai dia rasakan dan mencoba untuk memutar keuntungan yang dia dapatkan menjadi modal untuk membeli pakaian dengan jumlah yang cukup banyak.
Hanya setahun berjalan menjual pakaian melalui via telpon yang dipromosikan dari mulut ke mulut, dia kemudian memberanikan diri untuk memesan pakaian yang jauh lebih banyak dari sebelumnya dan menyewa halaman pekarangan ruko setiap sore hari.
Jalan Toddopuli Raya adalah lokasi sasaran Iqbaluntuk berbisnis pakaian, sebab hampir setiap hari Jalan Toddopuli selalu ramai oleh aktifitas masyarakat yang berkendara. Sehingga dia memilih untuk membuka lapak di Jalan Toddopuli Raya.
“Awal saya membuka usaha dengan modal 24 pcs pakaian, itupun saya pesan dari teman dengan modal uang sekitar Rp800 sampai Rp1 juta rupiah. Awalnya saya hanya menjual baju dengan cara pemesanan dengan promosi dari mulut ke mulut. Dari situlah, saya melihat peluang bisnis baju ini cukup baik, jadi saya beranikan diri membuka lapak dengan menyediakan pakaian yang jauh lebih banyak dari sebelumnya,” ujarnya.
Meski terbilang cukup baru dalam membuka bisnis fashion atau jualan pakaian, Iqbal tetap optimis untuk mewujudkan cita citanya yang ingin menjadi pengusaha pakaian yang ternama. Sehingga dia memberanikan diri untuk berinovasi membuat brand atau produk sendiri.
Belum cukup setahun membuka lapak di depan ruko, Ferdy berinovasi membuat produk sendiri berupa baju kaos yang didesain sendiri. Harga yang dipatok terbilang cukup terjangkau dan bervariasi antaraRp35 ribu sampai Rp70 ribu.
“Produk yang saya buat sendiri itu hanya sekadar menghiasi lapak pakaian saya. Tidak ada makna atau arti yang terkandung dalam desain yang di buat, cukup gambar yang simpel dan bahan yang berkualitas kami harap pengunjung sudah bisa mengetahui kalau itu adalah produk kami,” ucapnya.
Bukan hanya pakaian jenis baju kaos atau oblong, kemeja dan celana juga ikut di jualnya. Namun yang dominan adalah baju kaos atau oblong. Hal tersebut dikarenakan tingginya animo masyarakat khususnya di kalangan remaja yang datang mencari pakaian baju kaos dan oblong. Sehingga dia memilih untuk memperbanyak baju kaos atau oblongnya.
“Kalau untuk harga celana yang dimana hanya jenis celana panjang denim saya jualkan satu harga yaitu Rp100 ribu, sementara kemeja saya jualkan mulai dari Rp80 ribu sampai Rp150 ribu yang dimana semua barang yang saya jual tergantung pada tingkat kualitasnya,” tambahnya.
Meski menjajakan pakaian di depan ruko atau di pinggir jalan, keuntungan yang didapatkan Iqbaldapat bersaing dengan penjual pakaian yang memiliki toko.
Bahkan pendapatan setiap hari yang diperoleh Ferdy cukup besar, yakni berkisar Rp1 sampai Rp2 juta per hari. Sementara jika Ramadan dan Idul Fitri seperti pengalaman sebelumnya bisa mencapai Rp4 juta per hari.(arf/war)

