BAGI Arofik, menjadi tukang cukur memang melelahkan. Meski tidak berpenghasilan besar, namun pria berusia 30 tahun ini tetap sabar menjalani pekerjaan yang sudah digelutinya selama beberapa tahun.
Penulis: ARIF AL QADRY
SIANG itu, sekitar pukul 09.00 Wita, Arofik duduk-duduk santai di lokasi tempat kerjanya di Jalan Tamalate 1. Tatapannya menatap jauh ke arah orang yang lalu lalang, seakan mengharap kedatangan pelanggan yang ingin menggunakan jasanya.
Memang diakui perkembangan dunia usaha sangat pesat dan persaingan juga semakin tinggi. Banyak masyarakat membuat suatu usaha dalam bentuk apapun termasuk pelayanan jasa, seperti yang dilakoni Arofik.
Sambil menikmati secangkir kopi pahit, Arofik, sempat merapikan sendiri rambutnya. Ia mengaku rambut adalah mahkota kepala setiap manusia. Tidak terkecuali bagi kaum perempuan, para kaum pria juga dapat menata mahkota kepalanya agar dapat terlihat rapi dan menjadi simbol kepribadian serta karakter seseorang.
Apalagi saat ini, sudah begitu banyak model dan gaya rambut seperti model mohak, mandarin, dan jabrik yang kebanyakan model rambut tersebut dipakai oleh anak muda sekarang. Sedangkan model dan gaya rambut les pinggir, 3, 2, 1 yang dimana model rambut kepala di bagian atas 3 cm, tengah 2 cm dan pinggir 1 cm lebih banyak digunakan untuk pelanggan yang sudah berusia 40 hingga yang lanjut usia.”Saat ini sudah ada berbagai pilihan model dan gaya rambut. Tinggal bagaimana pelanggan menyesuaikan gaya rambut tersebut. Apalagi, sudah ada foto atau gambar model dan gaya rambut pria masa kini yang ditempelkan di dinding dengan ukuran yang cukup besar,” kata Arofik.
Hampir satu jam Arofik bersama penulis, muncul beberapa pelanggan untuk meminta Arofik memperbaiki rambutnya. Tak bisa melayani secara keseluruhan, Arofik meminta para pelanggan untuk antri dan menunggu giliran, bahkan menyerahkan sebagian ke teman sesama profesinya untuk mencukur para pelanggannya.
Masih banyaknya orang menggunakan jasa tukang cukur Madura menjadi indikator kalau tempat cukur Madura masih diminati dan dipercaya untuk memotong rambut. Selain harganya yang terjangkau, kualitas atau hasil dari pencukuran juga dinilai baik.
Alat yang digunakan para pemangkas rambut madura juga cukup lengkap. Mulai dari alat gunting potong, sasak, sisir, pisau hingga mesin pemotong rambut sebagai senjata andalan yang mampu membuat orang terlihat rapih.
Menurut Arofik, ia berprofesi sebagai tukang cukur dimulai tahun 2008 lalu. Ia-pun mengaku sama sekali tidak khawatir bersaing dengan tempat cukur modern yang lengkap dengan pembersih wajah atau Babershop, yang sampai saat ini cukup banyak di Kota Makassar.
“Saya tidak ragu dan takut dengan banyaknya usaha cukur yang lebih modern. Sebab yang mencukur di usaha cukur Madura adalah pelanggan dari kehidupan menengah ke bawah. Bahkan kalangan orang tua usia lanjut mengaku usaha cukur Madura adalah tempat potong rambut tradisional,” ujar Arofik.
Agar dapat bersaing di tengah ramainya tempat pemotong rambut modern, dia hanya perlu mempertahankan kualitas dan teknik cara memotong rambut yang baik. Dengan begitu kesan memotong rambut di cukur Madura lebih nyaman dibandingkan di tempat modern.
Arofik juga dengan bangganya memperlihatkan alat-alat cukurnya ketika penulis membuka laci yang berada di meja cukur. Satu per satu alat cukur dijajar Arofik di atas meja tersebut.
’’Kalau tidak ada alat-alat ini, saya tidak bisa cari makan. Alat inilah yang membuat saya masih bertahan hidup sampai saat ini,’’ kata Arofik yang mengaku tak menyangka profesinya sebagai tukang cukur sudah dilakoninya selama delapan tahun ini.
Dengan terampil, kedua tangannya mencukur rambut temannya hingga tipis. Sembari mencukur, Arofik selalu mengajak bicara pelanggannya. Sosok seperti inilah yang membuat Arofik tidak kehilangan pelanggan.
Karena dengan mengajak ngobrol, ada kedekatan antara dia dan pelanggannya. Pelanggan Arofik juga tidak hanya dari kalangan orang tua saja. Banyak anak-anak muda yang senang menggunakan jasanya. (arf/war)

