MAKASSAR, BKM–Peluang Akademisi untuk ikut bertarung di Pilgub, Pilbup maupun Pilwali cukup terbuka. Selain memiliki kompetensi ilmu pemerintahan, akademisi yang juga bergelut dalam dunia politik tak sedikit yang memiliki popularitas yang cukup baik.
Hal ini disampaikan pengamat komunikasi dan politik UIN Alauddin, Dr Firdaus Muhammad, Senin, (26/09).
Menurutnya, sudah banyak figur berlatang belakang akademisi ikut bertarung. Bahkan mereka sukses menjalankan roda pemerintahan. “Sebelumnya ada Prof Mansur Ramli yang pernah maju di Pilgub Sulsel, dan saat ini mencuat nama Prof Nurdin Abdullah. Sedang di Pilwalkot Makassar ada Dr Hasbi Ali, saat ini kini nama baru seperti Andi Mustaman serta Andi Endre Mallanti Cecep Lantara,”jelasnya.
Beberapa akademisi yang pernah menjadi kepala daerah juga sukses menjalankan roda pemerintahan seperti HM Roem yang sukses memimpin Sinjai selama dua periode. Tak hanya itu, mantan Wali Kota Makassar periode 1999-2004 yang memiliki latar belakang akademisi dengan gelar doktor Ilmu Hukum. “Selain kedua tokoh ini, kepala daerah yang berlatar belakang akademisi atau tokoh pendidikan yang sukses yakni Prof Tandi Roma Andi Lolo Bupati Tana Toraja 1989-1995.
TR Andi Lolo, merupakan adalah alumni University of Queensland , Australia. Prestasinya sebagai dosen Teladan Nasional dan juga sebagai duta Indonesia di Festival Bunga Internasional di Amerika Serikat 1991 yang membuat Indonesia mendapat piala Isabella Coleman Trophy karena dinilai kendaraan hias yang ditampilkan paling harmonis dan serasi penataannya.
Untuk itu, kata Firdaus, akademisi memiliki kekuatan integritas yang dapat menumbuhkan kepercayaan publik, sehingga dianggap dapat memenuhi keinginan mereka. “Akademisi memiliki integritas yang melahirkan trust publik atau pemilih yang dapat menenuhi ekspektasi mereka,” imbuhnya.
Firdaus menambahkan, figur Akademisi yang cukup sukses seperti Nurdin Abdullah yang menjadi Bupati Bantaeng dan Anies Baswedan dipilgub DKI Jakarta juga representasi akademisi yang dilamar partai. Namun disisi lain, menurut Firdaus, akademisi yang ingin bertarung harus memiliki persiapan yang matang, karena saat ini akademisi masih sulit beradaptasi dengan skenario dan manuver elite politik di partai-partai. Ia juga menyarankan kepada Akademisi yang terikat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk berpikir sebelum mengambil keputusan untuk maju.”
Sebelumnya, penggiat politik dan ekonomi Sulsel, Abdul Haris juga menyampaikan soal potensi akademisi yang sangat besar. Mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi yang tak dimiliki banyak kader parpol saat ini. “Jujur saja, banyak kepala daerah di Indonesia ini, termasuk di Sulsel tak memiliki kemampuan mengelola pemerintahan. Mereka hanya mengandalkan staf khusus atau staf ahli. Tapi, kepala daerah ini memiliki modal finansial yang cukup besar,” paparnya. (rif)
Peluang Akademisi Ikut Pilwali Cukup Terbuka
×

