MAROS, BKM — Puluhan nelayan tradisionil Kuri Ca’di mengeluhkan kegiatan para nelayan ‘nakal’. Pasalnya, nelayan ini menggunakan pukat harimau di kawasan laut Makassar-Maros. Akibatnya, hasil tangkapan pada nelayan tradisional menurun drastis. Hal itu diungkapkan seorang warga Kuri Ca’di, Mansyur.
Dikatakan, beberapa waktu belakangan ini warga mengeluhkan aktivitas nelayan yang menggunakan pukat harimau. Ironisnya, para pelaku pengguna pukat harimau ini sebelumnya sudah diamankan pihak kepolisian. Namun kembali beroperasi setelah bebas.
”Biasa sampai lima kapal yang beroperasi diperairan Kuri Ca’di. Tentu itu merugikan kita sebagai nelayan kecil. Karena mengurangi tangkapan nelayan dan merusak jaring nelayan kecil akibat hantaman pukat harimau,” akunya.
Bahkan, aktivitas kapal-kapal itu terkesan terjadi pembiaran oleh pihak terkait. ”Pihak Polairud terkesan melakukan pembiaran terhadap penggunaan pukat harimau. Kami betul-betul kecewa. Padahal, mereka pernah datang ke sini dan mengimbau warga agar tidak menggunakan pukat harimau dan segera melapor jika melihat ada oknum yang menggunakan pukat harimau. Tapi saat dihubungi nomornya tidak diangkat,” sesalnya.
Terpisah, Ketua DPRD Maros, AS Chaidir Syam mengatakan, seharusnya pihak dalam hal ini Polairud melakukan pengawasan dan penangkapan terhadap kapal-kapal yang menggunakan pukat harimau.
”Sebaiknya mereka ditangkap. Jangan justru hanya tinggal diam seakan melakukan pembiaran terhadap kapal-kapal yang menggunakan pukat harimau. Karena membahayakan biota laut dan merugikan nelayan kecil,” katanya kemarin. (ari/mir/c)
Nelayan Tradisional Keluhkan Nelayan ‘Nakal’
×

