PERISTIWA lakalantas yang menelan empat korban jiwa (satu keluarga) yang tewas di hari lebaran, (25/6) lalu, hingga kini masih menjadi bahan pembincangan berbagai kalangan.
Pihak keluarga merasa sangat terpukul atas kepergian satu rumpun keluarganya secara tragis. Bahkan pihak keluarga hampir hilang kendali.
Dalam kronologisnya, almarhum anak bungsu bernama Dzaky yang berada pada bagian belakang dilaporkan tewas setelah terpental sekitar 50 meter ke sisi bahu kanan jalan masuk jurang bersama ibunya Nursanti Rahman. Sementara almarhuma anak pertama bernama Susan duduk dibagian depan ayahnya bernama Sukri yang ditemukan berada diposisi bawah mobil bus PO Bintang Prima dan sempat terseret sejauh 100 meter dari lokasi tabrakan pertama.
Berdasarkan olah TKP Satlantas Polres Parepare, mobil bus PO bintang Prima hendak melambung ditikungan tepat di kilometer 5 Poros Parepare-Sidrap.
Mobil baru terhenti setelah warga sekitar berteriak histeris melihat korban berada dikolom bus dalam kondisi berdarah. Mobil bus baru berusaha menepi dan korban sudah dikabarkan tak bernyawa.
Kendati demikian, kesedihan bagi khalayak pihak keluarga kini mulai reda dan kembali menyadari bahwa musibah itu sudah merupakan suratan takdir yang tak dapat dielakkan.
Ustadz Drs H Ahyaruddin Hakim, mengatakan yang menelan korban satu keluarga itu hendaknya dipetik hikmahnya. Menurutnya para korban ketika hendak bersilaturahim di hari fitri itu termasuk ibadah. Lain halnya kalau orang hendak minum atau narkoba lantas mendapat kecelakaan itu bukan ibadah.
Untuk itulah, Ahyaruddin meminta kepada pihak keluarga yang ditinggalkan meyakini sepenuhnya bahwa segala sesuatunya itu sudah ditentukan Allah SWT. Oleh karena itu agar keluarga yang ditinggalkan tetap bersabar sebab dengan bersabar insya Allah akan mendapat rahmat Allah.
”Makanya, begitu saya baca di facebook, saya langsung mendoakan korban, jadi jajaran keluarga dan handai-tolan korban agar banyak-ba nyak berdoa untuk para korban”, ujar sang ustadz.
Hal senada diungkapkan Ustadz H Muh Nasir Cumba, Dikatakannya, Pasutri dan dua anaknya yang tewas kecelakaan di hari fitri itu masuk surga. Seandainya keluarga yang ditinggalkan dapat melihat keadaan korban kecelakaan setelah tewas, maka keluarga akan melihat mereka nyaman di alam sana.
“Hanya saja, kita dan keluarga yang ditinggalkan, hanya melihat peristiwanya tragis, menyedihkan sehingga kita merasa ibah dan terpukul dengan peristiwa itu padahal mereka nyaman di sana,” hematnya.
Bagi kaum muslim, lanjutnya, musibah itu sebenarnya merupakan cobaan sedangkan pihak lain bisa jadi laknat Tuhan YMK. Karena merupakan ujian dan cobaan, urainya, maka keluarga yang ditinggalkan diuji apakah mereka mampu untuk bersabar dan bersabar sebesar apapun musibah yang menimpahnya.
”Janji Allah itu pasti, lain halnya kalau manusia yang berjanji relatif, bisa jadi dipenuhi dan bisa tidak, tapi jika Allah yang berjanji itu pasti,” tegasnya berulang-ulang.
(*)

