SIDRAP, BKM — Sebagian besar petani disejumlah kecamatan di Kabupaten Sidrap dipastikan gagal panen. Hal itu disebabkan banjir belum surut.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidrap menyebutkan jumlah lahan pertanian yang terendam banjir sebanyak 1.443 hektare di tujuh desa dan kelurahan. Banjir terparah di Wette’e, Kecamatan Panca Lautang, dan Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe.
1.443 lahan pertanian yang terendam banjir yaitu 599 hekater di Wette’e dan Teteaji, 341 hekater di Mojong, 130 hektare di Empagae, 327 hektare di lingkungan dua Kelurahan Sidenreng, dan di Lautang Benteng sekitar 46 hektare.
“Umur padi saat terendam banjir ini rata-rata kurang lebih 30 hari masa tanam,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sidrap, Hasanuddin, Senin, (3/7).
Berbagai bantuan sudah disalurkan pemerintah seperti bambu dan sembako, dan air bersih untuk keperluan sehari hari warga yang terkena banjir seperti memasak, mencuci dan mandi.
Kepala BPBD Sidrap, Siara Barang mengakui, bahwa daerah rawan banjir itu memang kerap terjadi di Kelurahan Wette’e, dan Desa Teteaji, disamping daerah Salo Mallori Kecamatan Dua Pitue.
Untuk tanah longsor, Siarang Barang juga menyebutkan bahwa daerah yang rawan sering terjadi di Desa Tana Toro Kecamatan Pitu Riase.
“Setiap tahunnya, kita memang sudah sediakan anggaran sebesar Rp5 miliar untuk mengantisipasi bencana alam di Sidrap,” jelasnya.
Siarang Barang mengimbau kepada masyarakat, khususnya di daerah langganan banjir agar tetap waspada dan menjaga keselamatan diri dan keluarga. Sebab, ketinggian air masih tinggi.
Sementara, Jamal warga Wette’e berharap banjir yang saat sudah memcapai atap rumah segera surut agar warga kembali kerumahnya yang ditinggal mengungsi akibat air sudah setinggi 5 meter itu.
(ady/C)
1.443 Hektar Sawah Terendam Banjir
×

