LUWU, BKM — Sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) warga Desa Seppong, Kabupaten Luwu hingga kini belum menikmati listrik. Bahkan kondisi ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu.
Selama ini warga di desa ini hanya mengandalkan cahaya lampu penerangan menggunakan pelita berbahan bakar solar.
Menurut warga setempat, Appe mereka setiap saat merogok kocek hingga ratusan ribu rupiah perbulan untuk membeli bahan bakar solar.
“Lampu pelita ini hanya menggunakan solar, jadi kalau bangun wahhh kelihatan hitam bagian muka. Dalam satu bulan kami mengeluarkan biaya solar hingga 100 ribu rupiah, kami tidak gunakan minyak tanah karena lebih mahal,”jelasnya.
Warga sangat menyayangkan hal ini, sebab diusia 72 tahun kemerdekaan Indonesia, justru mereka belum bisa merasakan kemerdekaan sepenuhnya. Padahal jarak desa mereka dari ibu kota Kabupaten Luwu hanya berjarak 10 kilometer dan dari jalan trans Sulawesi hanya berjarak 5 kilometer.
Kondisi warga yang hanya bermata pencaharian nelayan di desa tersebut menjadi gelap gulita dimalam hari, tak ada aktivitas seperti menonton televisi maupun aktivitas lainnya yang butuh cahaya penerang dari listrik melainkan hanya memperbaiki alat tangkap nelayan atau jaring dengan menggunakan cahaya seadanya.
Warga berharap pemerintah melakukan pengadaan listrik di dusunnya, untuk meminimalisir ketertinggalan warga. Mirisnya lagi anak sekolah Dusun Mamonta tak bisa dengan tenang belajar mata pelajaran mereka yang di dapat dari sekolah sebab tak diterangi peneraran listrik.
Kades Seppong Suhaedy Alwi mengaku dirinya sudah berulang kali bermohon ke Pemkab tapi belum ada solusi.
“Mudah-mudahan kalau di beritakan oleh media sudah bisa dipenuhi permohonan saya,” ujar sang Kades Jumat (18/8)

