MALAM merupakan waktu yang baik bagi petugas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar turun melakukan pemangkasan pohon. Di mana aktifitas kendaraan ketika malam hari mulai pukul 20:00 cukup lengang, sehingga pelaksanaan dapat berlangsung dengan lancar.
LaporaN: ARIF AL QADRY
Memotong pohon besar membutuhkan hitung-hitungan, konsentrasi dan juga teknik. Itu diperlukan agar apa yang ada di sekitar pohon seperti kabel listik, bangunan, reklame dan terkhusus nyawa para petugas aman dan tidak tertimpa pohon.
Biasanya petugas kebersihan memulai memotong dahan pohon, mengikat dengan tali dari tiga arah dan lalu kemudian memotong pohon dimulai dari atas menjadi dua bagian. Itupun tergantung dari panjang dan diameter pohon. Kalaupun tidak begitu panjang, pohon langsung di potong dari bawah.
“Kalau tidak hati-hatiki, tidak konsentrasi bisa fatalki. Bisa dia lukaiki juga atau dia rusaki bangunannya orang,” tuturnya.
Satria selalu mengingatkan kepada anggotanya untuk selalu memberi salam setiap kali ingin mulai memotong pohon. Dan terus berhati-hati dalam bekerja serta belajar dari pengalaman dirinya yang dua tangannya sempat patah setelah jatuh dari atas mobil truk.
“Intinya salam sebelum memulai. Kita salam saja biasa masih terjadi sesuatu, seperti pengalamanku beberapa tahun lalu. Waktu itu saya selesai memotong pohon, lalu naik di atas mobil truk. Tiba-tiba saya merasa ada orang angkatka turun dari mobil dan jatuh ma langsung. Dua siku tanganku patah,” terangnya.
Mendapat musibah tersebut, Satria diminta oleh istrinya untuk beristirahat di rumah. Namun dirinya berusaha untuk tetap masuk bekerja. Apalagi saat itu, dia sudah berstatus sebagai PNS yang diangkat pada tahun 1992. Tanggung jawab akan tugas dan pekerjaannya dia perhatikan karena kecintaannya dengan pekerjaan tersebut.
“Saya tetap setia dan mencintai pekerjaan saya,” katanya.
Cerita Satria, di era tahun 1990-an, Kota Makassar cukup banyak pohon yang berdiri kokoh berkukuran besar dan kecil. Pohon-pohon tersebut berjejer rapi di setiap tepi jalan, seperti yang terlihat di Jalan Ahmad Yani dan Urip Sumohardjo dan AP Petta Rani. Namun kini, sedikit demi sedikit, pohon-pohon besar dan rimbun itu mulai hilang dan berganti dengan pohon ketapang kencana.
Selain usianya sudah mencapai ratusan tahun dan cukup tua, alasan lain menebang dan mengganti pohon tua karena pohon kayu seperti pohon asam, trembesi, dan kenari dinilai tidak mampu lagi berdiri dan bertahan lebih lama. Bahkan Jika dibiarkan tumbuh, pohon itu dapat tumbang dan menimpa yang ada disekitarnya mulai dari bangunan sampai manusia.
“Sekarang ini ketika melintas di ruas Jalan Ahmad Yani nyaris sudah tidak lagi terlihat pohon tua di tepi jalan. Untuk membersihkan pohon-pohon itu membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit,” sebut Kordinator Ruang Terbuka Hijau dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Satria Bripma.
Pria kelahiran Ujung Pandang, 21 September 1967 mengaku, sudah 27 tahun lamanya ia bekerja membantu menata kota mulai dari menanam, sampai menebang pohon yang usianya ratusan tahun.
Cukup banyak pengalaman dan suka dan duka yang dirasakan selama bekerja dan bergabung di Dinas Pertamanan dan Kebersihan Makassar yang kini ubah menjadi Dinas Lingkungan Hidup Makassar.
Saat itu, ia ditunjuk sebagai kordinator RTH. Statusnya masih sebagai honorer dengan gaji Rp15 ribu. Meskipun posisinya sebagai kordinator, ia tetap wajib turun dan ikut langsung memotong setiap bagian pohon bersama anggotanya.
Sekarang ini kata Satria, memotong satu batang pohon kayu besar sudah dapat dilakukan selama dua sampai tiga jam. Berbeda jauh di tahun 1990 sampai 2000-an yang membutuhkan waktu paling singkat satu minggu menyelesaikan satu pohon. Sebab alat yang digunakan sejak dulu belum modern dan secanggih saat ini.
Dulu untuk memotong pohon, dia bersama anggotanya masih menggunakan gergaji bentang berukuran empat meter dan kapak bergagang kayu dengan mata yang tajam. Pekerjaan tersebut benar-benar membutuhkan tenaga, semangat dan kerja keras.
“Sekarang ini alat sudah canggih, sudah pakai senso, mobil loader, dan mobil angkut sampah juga sudah banyak. Dulu saya sama teman-teman masih pakai gergaji saling berhadapan ki baku tarik, belum lagi batang pohon kita pikul berjalan kaki bawa ke tempat pembuangan. Dan paling cepat dulu kita selesaikan satu pohon dengan waktu satu minggu,” katanya.
Jalan Ahmad Yani, Jalan Veteran, Urip Sumohardjo serta beberapa ruas jalan lainnya, cerita Satria, dulu sangat banyak tumbuh pohon-pohon kayu besar di tepi jalan.
Agar pelaksanaan pemotongan pohon berjalan dengan lancar dan aman, harus ada izin lebih dulu. Tetapi izin kepada “penunggu” atau penghuni pohon dari makhluk gaib yang dipercaya memang adanya.
Kerasukan, periswita yang sering terjadi dan dialami petugas saat akan memulai memotong pohon. Dan hal itu ditandai bahwa penghuni pohon dari makhluk gaib tidak menerima jika tempat tinggalnya (pohon) hilang dan diratakan dengan tanah. Selain memberitahukan keberadaanya dengan merasuki tubuh manusia, makhluk gaib sering juga masuk melalui mimpi.(*)

