MAKASSAR, BKM — Sejumlah dosen Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali melaksanakan Iptek bagi masyarakat (IbM) belum lama ini. Kali ini IbM dilakukan pada dua kelompok tani ternak di Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu bagian Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian pada Masyarakat yang wajib dilaksanakan oleh setiap dosen. Kegiatan pengabdian ini didanai BOPTN tahun 2017 Universitas Hasanuddin.
Tim pelaksana kegiatan terdiri dari 4 orang staf pengajar Fakultas Peternakan Dr.Sri Purwanti, S.Pt, M.Si (Ketua Pelaksana kegiatan dengan bidang keahlian Nutrisi Non Ruminansia), Prof. Dr.Ir. Laily Agustina, MS, Dr.Ir. Anie Ariany, MS dan Jamilah, S.Pt, M.Si.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr Sri Purwanti dalam rilisnya yang diterima, Sabtu (23/9) sore mengatakan, dua kelompok tani ternak di Kecamatan Manuju yang menjadi mitra adalah kelompok tani Baji Binasa dengan ketua Muh. Syafri dan kelompok tani Cahaya Po’rong dengan ketua Bahrum yang terletak di Desa Bilalang.
Dari letak geografisnya, kata Sri, Desa Bilalang memiliki potensi alam yang melimpah. Namun pada kenyataannya potensi alam yang melimpah tersebut belum sepenuhnya dikelola oleh penduduk setempat untuk pakan ternak.
Padahal, menurut Sri, pemeliharaan ternak ayam buras dapat dilakukan dengan memberdayakan kelompok tani ternak di pedesaan. Ketersedian sumber daya lokal untuk dijadikan bahan pakan juga masih banyak tersedia di pedesaan, namun belum termanfaatkan secara maksimal. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan masyarakat di pedesaan terhadap cara pengelolaannya. Optimalisasi potensi tersebut dapat dimaksimalkan melalui transfer teknologi dari perguruan tinggi berupa teknologi tepat guna yang mudah dan murah serta ketersediaan bahan tersebut disekitar lokasi peternak. Bahan pakan alternatif digunakan untuk menghemat biaya pakan. Usaha peternakan ayam pada kelompok tani dikelola secara ektensif.
Usaha peternakan di Desa Bilalang Kecamatan Manuju, beber Sri, bukanlah sumber pencarian utama petani di daerah tersebut. Oleh sebab itu teknologi pengolahan pakan belum diketahui dan diaplikasikan oleh peternak di daerah ini.
“Ternak sapi sangat tergantung pada dedak dan rumput-rumput liar dan jerami jagung ataupun limbah pertanian tanpa melalui proses pengolahan. Di lain pihak, melimpahnya limbah pertanian setelah panen menjadi sumber penyakit karena dibiarkan membusuk dan menjadi sumber bau,” katan Sri.
“Pada program IbM ini, kami dari tim berinisiatif memberikan alternatif formulasi ransum itik dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia di sekitar peternakan dengan harapan kebutuhan nutrien ternak terpenuhi, harga murah dan mudah didapatkan serta peternak juga mudah membuatnya. Selain itu tim pengabdian IbM juga memperkenalkan teknologi amoniasi dedak dengan memproduksi belatung sebagai sumber protein tambahan, selain dedak yang bisa dimanfaatkan. Kemudian teknologi pembuatan jamu ternak sebagai alternatif feed additive untuk ayam buras,” jelas Sri.
Penyuluhan dilakukan oleh tim pengabdian IbM kepada para anggota kelompok tani Baji Binasa dan Cahaya Po’rong di Desa Bilalang, Kecamatan Manuju.
Materi penyuluhan meliputi pemanfaatan pakan lokal sebagai bahan alternatif penyusun pakan ternak, pembuatan amoniasi sebagai pakan tambahan dan jamu ternak sebagai feed additive untuk ternak
“Dalam kegiatan IbM ini kami memperkenalkan pemanfaatan pakan lokal sebagai bahan baku penyusun ransum untuk ternak. Misalnya dedak padi, jagung halus, tepung kulit ubi kayu, dan hijauan berupa tanaman. Selain itu pembuatan amoniasi sebagai pakan tambahan untuk ternak ayam buras,” kata Sri lagi.
Amoniasi dedak, tambahnya, merupakan teknologi sederhana yang mudah dilakukan serta dengan biaya murah. Dalam proses amoniasi digunakan bahan yang mudah diperoleh, seperti urea, dan kotoran sapi atau kerbau maupun kotoran ayam/unggas.
Amoniasi, lanjutnya, dapat meningkatkan protein sampai dua kali lipat dan hasil amoniasi ini bila diberikan pada unggas, meningkatkan performans lebih baik daripada hanya diberi dedak secara tunggal.
Keuntungan amoniasi dedak pada anak ayam umur 1-3 minggu adalah pertumbuhannya lebih cepat dan tahan terhadap serangan penyakit. Sedangkan pada induk ayam meningkatkan produksi telur, besar telur, ketahanan terhadap penyakit, ayam bisa bertelur setiap bulan, waktu istirahat dari satu periode ke periode berikutnya lebih pendek, dan waktu mengeram bobot badan induk tidak menurun.
Selain itu, katanya, juga dilakukan.penyuluhan tentang pemanfaatan jamu ternak sebagai feed additive untuk ternak dan penyuluhan mengenai pentingnya bio-security, sanitasi kandang, mengingat penempatan kandang yang tidak cocok yaitu bersebelahan dengan rumah peternak, serta kandang yang jarang dibersihkan. (rls)

